Mengapa Anak Sulit Pintar? Ternyata Nutrisi Lebih Menentukan Daripada Sekadar Jam Belajar

Siska Wijaya | Menit Ini
16 Apr 2026, 06:22 WIB
Mengapa Anak Sulit Pintar? Ternyata Nutrisi Lebih Menentukan Daripada Sekadar Jam Belajar

MenitIni — Seringkali, orang tua merasa frustrasi ketika melihat buah hatinya sulit berkonsentrasi atau lambat dalam memahami pelajaran di sekolah. Anggapan yang muncul biasanya berkisar pada rasa malas atau kurangnya durasi belajar. Namun, fakta medis berbicara lain; kecerdasan seorang anak bukan sekadar hasil dari tumpukan buku, melainkan berakar kuat dari apa yang mereka konsumsi setiap hari.

Menurut President of Indonesian Nutrition Association, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), terdapat kaitan erat yang tak terpisahkan antara kondisi fisik secara menyeluruh dengan kemampuan kognitif. Dalam sebuah diskusi media bertajuk studi mengenai dampak stunting dan anemia, ia menekankan bahwa otak bukanlah organ yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kesatuan tubuh yang membutuhkan bahan bakar berkualitas untuk berkembang.

Baca Juga

Studi Terbaru: Anemia dan Stunting Jadi ‘Pencuri’ Fokus dan Daya Ingat Anak, Ini Penjelasan Pakar

Studi Terbaru: Anemia dan Stunting Jadi ‘Pencuri’ Fokus dan Daya Ingat Anak, Ini Penjelasan Pakar

Otak Tak Bisa Berdiri Sendiri

“Orang tua sering kali hanya fokus mencari suplemen atau makanan ‘ajaib’ agar anak pintar, tapi mereka lupa bahwa otak adalah bagian dari tubuh. Jika tubuh secara umum tidak mendapatkan nutrisi anak yang cukup, maka perkembangan otak pun mustahil bisa optimal,” papar dr. Luciana secara lugas.

Proses pematangan otak membutuhkan energi yang sangat besar. Ketika asupan kalori dan protein tidak mencukupi, tubuh akan masuk ke dalam ‘mode bertahan hidup’. Alih-alih digunakan untuk membangun fungsi kognitif yang kompleks, energi yang terbatas itu hanya akan dipakai untuk menjaga fungsi organ vital tetap berjalan. Dampak jangka panjangnya, tidak hanya tinggi badan yang terhambat, tetapi kapasitas berpikir atau perkembangan otak anak pun ikut tertahan di bawah potensi aslinya.

Baca Juga

Belajar dari Kasus FH UI: Cara Bijak Mendidik Anak Laki-Laki Agar Terhindar dari Perilaku Pelecehan Verbal

Belajar dari Kasus FH UI: Cara Bijak Mendidik Anak Laki-Laki Agar Terhindar dari Perilaku Pelecehan Verbal

Dampak Kurang Kalori dan Peran Vital Zat Besi

Dr. Luciana menjelaskan bahwa kekurangan kalori memiliki efek domino yang sistemik. Tanpa pasokan energi yang memadai, sel-sel otak tidak mendapatkan suplai yang dibutuhkan untuk membangun koneksi saraf baru (sinapsis). Selain kalori, komponen yang sering terabaikan namun sangat krusial adalah zat besi.

Zat besi berperan sebagai kurir oksigen dalam darah. Jika kadar zat besi dalam tubuh rendah, distribusi oksigen ke seluruh jaringan, termasuk otak, akan terganggu. Hal inilah yang secara langsung memicu kelelahan kronis, rasa kantuk yang berlebihan di kelas, hingga penurunan daya konsentrasi. Anak yang mengalami defisiensi ini cenderung lebih lambat merespons stimulus dan sulit memiliki daya ingat atau working memory yang kuat.

Baca Juga

Waspada ‘El Nino Godzilla’ 2026: Ancaman Polusi dan Wabah Penyakit Menular Mengintai

Waspada ‘El Nino Godzilla’ 2026: Ancaman Polusi dan Wabah Penyakit Menular Mengintai

Memutus Lingkaran Setan Penyakit dan Gizi Buruk

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kerentanan terhadap serangan penyakit. Anak dengan profil gizi yang buruk biasanya memiliki sistem imun yang rapuh. Dr. Luciana menyebutkan adanya fenomena lingkaran setan: kurang gizi menyebabkan anak mudah sakit, dan saat sakit, nafsu makan menurun drastis sehingga kondisi gizi semakin merosot.

“Anak yang sering sakit akan mengalami hambatan besar dalam mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. Energi mereka habis hanya untuk melawan infeksi, bukan untuk tumbuh dan belajar,” tambahnya. Untuk memutus rantai ini, konsumsi protein hewani seperti telur, ikan, dan daging merah sangat disarankan karena memiliki profil asam amino yang lebih lengkap dibandingkan sumber nabati seperti tempe atau kacang-kacangan.

Sinergi Nutrisi untuk Masa Depan Cemerlang

Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa nutrisi bekerja secara sinergis. Sebagai contoh, penyerapan zat besi akan jauh lebih efektif jika didampingi dengan asupan vitamin C yang cukup. Tanpa kombinasi yang tepat, zat-zat gizi tersebut tidak akan terserap secara maksimal oleh tubuh.

Kebutuhan nutrisi di masa pertumbuhan emas sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak membutuhkan kepadatan gizi yang jauh lebih tinggi untuk memastikan setiap sel tubuh dan otaknya matang dengan sempurna. Dengan memastikan kesehatan anak terjaga melalui pola makan seimbang, maka kecerdasan akan menjadi hasil alami dari tubuh yang sehat, bukan lagi sebuah perjuangan yang menyiksa di meja belajar.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *