Studi Terbaru: Anemia dan Stunting Jadi ‘Pencuri’ Fokus dan Daya Ingat Anak, Ini Penjelasan Pakar

Siska Wijaya | Menit Ini
15 Apr 2026, 16:23 WIB
Studi Terbaru: Anemia dan Stunting Jadi 'Pencuri' Fokus dan Daya Ingat Anak, Ini Penjelasan Pakar

MenitIni — Persoalan gizi buruk pada anak-anak di Indonesia ternyata menyimpan ancaman yang jauh lebih dalam dari sekadar masalah pertumbuhan fisik. Studi terbaru yang dirilis oleh Indonesia Health Development Center (IHDC) memaparkan fakta mengkhawatirkan: anemia defisiensi besi dan stunting memiliki kaitan erat dengan penurunan fungsi working memory, sebuah kapasitas otak yang menjadi motor utama dalam proses belajar anak sehari-hari.

Memahami Pentingnya Working Memory bagi Pendidikan

Bagi orang tua, istilah working memory mungkin terdengar asing, namun perannya sangat krusial. Ini adalah kemampuan otak untuk menyimpan sekaligus mengolah informasi dalam jangka pendek. Bayangkan ini sebagai ‘papan tulis’ di dalam pikiran anak yang digunakan untuk menyerap instruksi guru, memahami bacaan, hingga menyelesaikan soal matematika.

Baca Juga

Menghidupkan Kembali Harapan: Mengapa Penanganan Stroke Harus Lebih dari Sekadar Menyelamatkan Nyawa

Menghidupkan Kembali Harapan: Mengapa Penanganan Stroke Harus Lebih dari Sekadar Menyelamatkan Nyawa

Ketika fungsi ini terganggu akibat masalah gizi, anak akan cenderung mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan pada akhirnya tertinggal dalam pencapaian akademik. Hal inilah yang menjadi perhatian serius dalam laporan terbaru IHDC.

Fondasi Generasi Unggul yang Terancam

Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan sangat bergantung pada intervensi sejak usia dini. Menurutnya, status kesehatan dan kemampuan kognitif adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

“Sangat disayangkan, Indonesia masih terjebak dalam tantangan besar seperti stunting dan anemia defisiensi besi yang angkanya masih cukup tinggi di kalangan usia sekolah. Kondisi ini bukan sekadar urusan kesehatan fisik, tapi merupakan ancaman terhadap kemampuan belajar anak,” ungkap Prof. Nila dalam keterangannya.

Baca Juga

Bukan Sekadar Kurang Darah, Anemia Defisiensi Besi Jadi Ancaman Nyata bagi Kecerdasan dan Masa Depan Bangsa

Bukan Sekadar Kurang Darah, Anemia Defisiensi Besi Jadi Ancaman Nyata bagi Kecerdasan dan Masa Depan Bangsa

Berdasarkan riset yang melibatkan 335 siswa sekolah dasar di Jakarta, ditemukan data bahwa sekitar 19,7 persen anak menderita anemia. Yang lebih mengejutkan, sebanyak 22,1 persen anak menunjukkan hambatan pada fungsi working memory mereka.

Risiko Berlipat Ganda Akibat Kurang Darah

Executive Director IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan kaitan logis antara kadar hemoglobin dan kecerdasan. Ia menyebutkan bahwa anak yang mengalami anemia memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami gangguan daya ingat kerja. Bahkan, bagi anak yang juga mengalami stunting, risikonya melonjak hingga tiga kali lipat.

“Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah membuat suplai oksigen dan nutrisi ke otak menjadi tidak optimal. Akibatnya, otak tidak bisa bekerja secara maksimal untuk memproses informasi,” jelas Dr. Ray. Studi ini juga mengungkap fakta miris bahwa anak-anak dengan anemia rata-rata hanya memenuhi 46 persen kebutuhan protein harian mereka dari standar Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Baca Juga

Jangan Anggap Remeh Gejala ISPA: Kenali Batas Waktu Kapan Anda Harus Segera Menemui Dokter

Jangan Anggap Remeh Gejala ISPA: Kenali Batas Waktu Kapan Anda Harus Segera Menemui Dokter

Solusi Melalui Pola Makan Gizi Seimbang

Menghadapi tantangan ini, President of Indonesian Nutrition Association, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), mengingatkan para orang tua untuk kembali pada prinsip dasar gizi seimbang. Protein hewani dan zat besi adalah harga mati untuk mendukung perkembangan jaringan otak dan daya ingat.

  • Sumber Hewani: Berikan variasi makanan seperti telur, ikan, dan daging merah.
  • Sumber Nabati: Dukung dengan tahu, tempe, dan sayuran hijau.
  • Kombinasi Vitamin C: Mengonsumsi buah-buahan kaya vitamin C sangat membantu penyerapan zat besi secara maksimal oleh tubuh.

Kesadaran ini pula yang kini mulai tumbuh di kalangan orang tua, termasuk selebritas Putri Titian. Ibu dua anak ini mengakui bahwa riset ini menjadi ‘wake-up call’ baginya. “Sebagai ibu, terkadang kita bingung kenapa anak sulit fokus saat belajar. Ternyata, jawabannya bisa jadi ada pada piring makan mereka. Nutrisi yang tidak optimal benar-benar berdampak langsung pada kemampuan kognitif anak,” tuturnya.

Melalui temuan ini, diharapkan pihak sekolah dan keluarga dapat bersinergi lebih kuat untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang layak demi menjaga ‘nyala’ kecerdasan mereka di masa depan.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *