Waspada! Di Balik Protein Tinggi, Ikan Sapu-Sapu Simpan Ancaman Logam Berat dan Risiko Kanker

Siska Wijaya | Menit Ini
19 Apr 2026, 14:51 WIB
Waspada! Di Balik Protein Tinggi, Ikan Sapu-Sapu Simpan Ancaman Logam Berat dan Risiko Kanker

MenitIni — Fenomena ikan sapu-sapu yang sering ditemukan di perairan tawar Indonesia kerap memicu perdebatan mengenai kelayakannya untuk dikonsumsi. Meski secara biologis memiliki kandungan protein yang relatif tinggi dengan kadar lemak yang rendah, para ahli kesehatan justru memberikan peringatan keras. Risiko kesehatan yang mengintai jauh lebih besar daripada manfaat nutrisi yang ditawarkan.

Ahli kesehatan lingkungan, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., Ph.D., menegaskan bahwa isu utama dari ikan ini bukanlah terletak pada profil gizinya, melainkan pada akumulasi zat berbahaya yang terserap ke dalam tubuhnya. Berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based), ikan sapu-sapu dikenal sebagai penyerap logam berat yang sangat kuat, terutama jika habitatnya berada di sungai-sungai kawasan perkotaan yang telah tercemar limbah industri.

Baca Juga

Ancaman Senyap Logam Berat: Bagaimana Paparan Timbal Merusak Otak dan Ginjal Anak Secara Permanen

Ancaman Senyap Logam Berat: Bagaimana Paparan Timbal Merusak Otak dan Ginjal Anak Secara Permanen

Ancaman Merkuri hingga Risiko Kanker

Paparan logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium menjadi ancaman nyata bagi siapa saja yang nekat mengonsumsi ikan ini. Menurut dr. Dicky, konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan tercemar dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius. “Dampaknya bisa merusak sistem saraf, menyebabkan gangguan ginjal, masalah hematologi atau darah, hingga meningkatkan risiko penyakit kanker dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Tidak hanya zat kimia, ikan yang kerap dianggap sebagai pembersih akuarium ini juga menjadi inang bagi berbagai mikroorganisme patogen. Kandungan bakteri seperti E. coli sering ditemukan pada ikan ini, yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan parah. Gejalanya meliputi diare berdarah, kram perut yang hebat, mual, hingga demam tinggi.

Baca Juga

Bahaya Tersembunyi ‘Gas Tertawa’: BPOM Bongkar Fungsi Asli N2O dan Gerebek Gudang Ilegal di Cengkareng

Bahaya Tersembunyi ‘Gas Tertawa’: BPOM Bongkar Fungsi Asli N2O dan Gerebek Gudang Ilegal di Cengkareng

Indikator Kerusakan Ekosistem

Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sebuah perairan sebenarnya merupakan sinyal merah bagi kualitas lingkungan tersebut. Sebagai makhluk yang hidup di dasar air dan mengonsumsi sedimen, ikan ini menjadi jembatan bagi polutan organik persisten untuk masuk ke rantai makanan manusia. Keberadaan mereka yang masif menandakan adanya degradasi kualitas air yang signifikan.

Secara ekologis, ikan sapu-sapu adalah spesies invasif yang berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan. Karakteristiknya yang sangat toleran terhadap kondisi ekstrem—seperti kadar oksigen rendah dan air yang penuh polusi—membuatnya mampu bertahan hidup di tempat yang tidak bisa dihuni ikan lokal. Hal ini memicu monopoli ekosistem yang mengancam keanekaragaman hayati asli Indonesia.

Baca Juga

Bukan Sekadar Tren, WFH Jumat Jadi Kunci Langit Biru dan Kesehatan Mental Pekerja

Bukan Sekadar Tren, WFH Jumat Jadi Kunci Langit Biru dan Kesehatan Mental Pekerja

Dampak Kerusakan Fisik Sungai

Selain ancaman kesehatan dan biologi, ikan sapu-sapu juga bertanggung jawab atas kerusakan fisik infrastruktur perairan. Kebiasaan mereka membuat lubang di tebing sungai untuk bersarang memicu erosi dan meningkatkan sedimentasi. Akibatnya, air menjadi semakin keruh dan kualitas habitat bagi spesies ikan lainnya semakin menurun.

Dengan segala risiko yang ada, menghindari konsumsi ikan sapu-sapu adalah langkah bijak demi menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Jangan sampai keinginan mendapatkan asupan protein murah justru berujung pada biaya pengobatan yang mahal akibat keracunan logam berat.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *