Hati-Hati, Hepatitis Bisa Picu Kerusakan Hati Permanen: Wamenkes Ingatkan Pentingnya Pencegahan

Siska Wijaya | Menit Ini
11 Apr 2026, 12:22 WIB
Hati-Hati, Hepatitis Bisa Picu Kerusakan Hati Permanen: Wamenkes Ingatkan Pentingnya Pencegahan

MenitIni — Masalah kesehatan hati atau hepar sering kali menjadi bom waktu yang tidak disadari oleh penderitanya. Infeksi virus, terutama Hepatitis B dan Hepatitis C, masih menjadi faktor dominan yang memicu kerusakan organ hati secara permanen di Indonesia. Jika kondisi ini sudah mencapai tahap kronis atau sirosis, sering kali tindakan medis terakhir yang bisa dilakukan hanyalah melalui prosedur transplantasi yang sangat kompleks.

Langkah Preventif untuk Menjaga Vitalitas Hati

Guna menekan angka penderita gangguan hati yang berat, upaya pencegahan sejak dini menjadi harga mati. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa sebagian besar kasus kerusakan hati di tanah air bermula dari infeksi yang sebenarnya bisa dicegah melalui perubahan gaya hidup.

Baca Juga

Rahasia di Balik Spektrum Warna: Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Buta Warna?

Rahasia di Balik Spektrum Warna: Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Buta Warna?

“Kasus transplantasi hepar di negara kita mayoritas dipicu oleh infeksi Hepatitis C dan Hepatitis B yang menyebabkan kerusakan hati yang parah. Oleh karena itu, faktor-faktor risiko yang memicu infeksi tersebut harus benar-benar dihindari,” tutur Dante saat melakukan kunjungan kerja di RSUP Fatmawati, Jakarta.

Dante membagikan dua poin utama yang menjadi kunci dalam menjaga kesehatan hati agar terhindar dari ancaman hepatitis:

  • Menghindari Perilaku Seksual Berisiko: Menghentikan kebiasaan bergonta-ganti pasangan seksual (multipartner) karena merupakan salah satu jalur penularan virus yang paling umum.
  • Membatasi Konsumsi Alkohol: Meski kasus akibat alkohol di Indonesia relatif lebih rendah dibanding infeksi virus, alkohol tetap menjadi racun bagi sel-sel hati yang dapat mempercepat kerusakan liver.

Memahami Jalur Penularan yang Senyap

Berdasarkan data medis, Hepatitis B memiliki pola penularan yang sangat variatif. Penularan bisa terjadi secara vertikal, yakni perpindahan virus dari ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya. Selain itu, penularan horizontal juga patut diwaspadai melalui kontak cairan tubuh penderita.

Baca Juga

Fenomena Luka Tak Kasatmata: Menelisik Dampak Psikologis Pelecehan Seksual Digital di Lingkungan Kampus

Fenomena Luka Tak Kasatmata: Menelisik Dampak Psikologis Pelecehan Seksual Digital di Lingkungan Kampus

Beberapa media penularan yang sering terabaikan meliputi penggunaan jarum suntik yang tidak steril, pemakaian alat cukur atau tato secara bergantian, hingga prosedur transfusi darah yang tidak melalui skrining ketat. “Kami sangat berharap bagi masyarakat yang masih sehat, mulailah sadar untuk menjauhi faktor risiko tersebut agar kesehatan hati tetap terjaga dalam jangka panjang,” tambah Dante.

Terobosan Medis: Kisah Estafet Kehidupan di RSUP Fatmawati

Di tengah upaya pencegahan tersebut, kemajuan teknologi kedokteran di Indonesia juga menunjukkan progres positif. Baru-baru ini, RSUP Fatmawati sukses melaksanakan prosedur transplantasi hati yang ketiga kalinya pada April 2026. Pasien merupakan seorang pria berusia 52 tahun yang menderita sirosis hati akibat komplikasi Hepatitis B.

Baca Juga

Bukan Sekadar Grafik, Memahami Kurva Pertumbuhan Sebagai Kunci Deteksi Dini Kesehatan Anak

Bukan Sekadar Grafik, Memahami Kurva Pertumbuhan Sebagai Kunci Deteksi Dini Kesehatan Anak

Kisah ini menjadi menarik karena melibatkan donor hidup (living donor) yang merupakan anak kandung pasien sendiri yang berusia 26 tahun. Keputusan keluarga untuk terlibat dalam proses donor ini menjadi oase di tengah sulitnya mendapatkan donor organ di Indonesia.

Prosedur transplantasi hati bukanlah perkara mudah. Tindakan ini merupakan kolaborasi multidisiplin yang melibatkan tim dokter ahli dari berbagai bidang, mulai dari bedah digestif, penyakit dalam, anestesi, hingga ahli gizi dan keperawatan. Keberhasilan ini juga tak lepas dari kerja sama internasional dengan Seoul National University Hospital (SNUH) dalam hal pengembangan kapasitas tim medis lokal.

Membangun Sistem Kesehatan Masa Depan

Meski layanan kuratif seperti transplantasi terus dikembangkan, fokus utama pemerintah tetap pada aspek promotif dan preventif. Deteksi dini adalah kunci utama agar infeksi hepatitis tidak berkembang menjadi kanker hati atau sirosis yang mematikan.

Dengan penguatan fasilitas medis dan edukasi masyarakat yang masif, diharapkan beban penyakit hati di Indonesia dapat ditekan secara signifikan. Perjalanan menuju kesehatan hati yang optimal dimulai dari komitmen pribadi untuk menerapkan gaya hidup sehat dan menjauhi segala bentuk risiko penularan virus hepatitis.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *