Rahasia di Balik Spektrum Warna: Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Buta Warna?

Siska Wijaya | Menit Ini
12 Apr 2026, 08:23 WIB
Rahasia di Balik Spektrum Warna: Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Buta Warna?

MenitIni — Dunia bagi sebagian orang mungkin tidak terlihat semeriah pelangi yang kita bayangkan. Bagi penderita gangguan penglihatan warna atau yang secara medis dikenal sebagai discromatopsia, spektrum merah dan hijau sering kali melebur menjadi satu kesatuan yang membingungkan.

Kondisi ini sering kali menjadi kejutan yang tidak terduga. Banyak individu yang menjalani hari-hari mereka dengan normal, hingga akhirnya menyadari adanya kelainan saat menjalani tes kesehatan untuk keperluan sekolah, syarat melamar pekerjaan, atau ketika hendak mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Menurut Dokter Spesialis Mata, Drasthya Zarisha, buta warna bukanlah sekadar masalah mata biasa, melainkan kondisi yang sering kali sudah tertanam dalam kode genetik seseorang sejak lahir.

Baca Juga

Menkes Budi Ungkap Anomali Data: 10 Persen Warga Terkaya Malah ‘Numpang’ di PBI BPJS Kesehatan

Menkes Budi Ungkap Anomali Data: 10 Persen Warga Terkaya Malah ‘Numpang’ di PBI BPJS Kesehatan

Akar Masalah: Sel Kerucut dan Faktor Keturunan

Mengapa warna bisa memudar atau tertukar dalam pandangan seseorang? Drasthya menjelaskan bahwa kunci utamanya terletak pada retina mata, khususnya pada sel kerucut. Pada individu dengan penglihatan normal atau trikromatis, mata memiliki kemampuan sempurna untuk mencampur tiga warna dasar: merah, hijau, dan biru. Namun, pada pengidap buta warna, sel kerucut tersebut mengalami kelainan fungsi dalam menangkap gelombang cahaya.

“Sebagian besar kasus gangguan penglihatan warna bersifat bawaan atau kongenital,” ujar Drasthya. Hal ini membuktikan bahwa faktor genetik memegang peranan krusial. Secara biologis, kondisi ini terkait erat dengan kromosom X. Inilah alasan mengapa pria jauh lebih rentan mengalami buta warna dibandingkan wanita.

Baca Juga

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Pola Pewarisan: Mengapa Pria Lebih Sering Terdampak?

Pola pewarisan buta warna terbilang unik karena bersifat resesif pada kromosom X. Seorang ibu bisa menjadi carrier atau pembawa sifat tanpa dirinya sendiri mengalami gangguan tersebut. Karena pria hanya memiliki satu kromosom X, satu saja gen yang terdampak sudah cukup untuk membuat mereka mengalami buta warna.

“Jika seorang ibu membawa gen tersebut, maka anak laki-lakinya memiliki peluang besar untuk mewarisinya. Berbeda dengan perempuan yang membutuhkan dua kromosom X yang terdampak agar kondisi ini muncul secara nyata,” tambahnya. Menariknya, seorang ayah yang buta warna tidak secara otomatis menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya, karena sang anak menerima kromosom Y dari ayahnya.

Baca Juga

Fondasi Tubuh Ideal: 7 Manfaat Vital Protein bagi Pemula Fitness dan Cara Kerjanya

Fondasi Tubuh Ideal: 7 Manfaat Vital Protein bagi Pemula Fitness dan Cara Kerjanya

Klasifikasi Gangguan: Parsial vs Total

Dunia medis membagi kondisi ini ke dalam beberapa tingkatan. Jenis yang paling umum adalah buta warna parsial, di mana penderitanya hanya mengalami kesulitan pada sebagian kecil spektrum warna. Namun, ada pula kondisi yang lebih ekstrem yang disebut buta warna total atau akromatopsia.

  • Buta Warna Parsial: Gangguan penglihatan yang spesifik pada warna tertentu, biasanya spektrum merah-hijau atau biru-kuning.
  • Buta Warna Total: Kondisi langka di mana sel kerucut tidak berfungsi sama sekali, menyebabkan penderitanya hanya melihat dunia dalam gradasi abu-abu, mirip dengan film hitam-putih klasik.

Deteksi Dini dan Strategi Adaptasi

Untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami gangguan ini, tenaga medis biasanya menggunakan Tes Ishihara. Tes ini menggunakan serangkaian lempeng warna pseudoisokromatis yang memuat angka tersembunyi di balik bintik-bintik warna. Meskipun buta warna bawaan hingga saat ini belum dapat disembuhkan, penderita tidak perlu berkecil hati.

Di era digital, penderita buta warna dapat beradaptasi dengan memanfaatkan berbagai inovasi, seperti aplikasi pendeteksi warna di ponsel pintar, strategi pelabelan pakaian, hingga pemanfaatan kode visual pada fasilitas umum. Sementara itu, untuk kasus buta warna yang disebabkan oleh penyakit tertentu (bukan bawaan), pemulihan persepsi warna masih sangat dimungkinkan jika penyebab dasarnya segera diobati secara medis.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *