Mengenal Label Nutri-Level: Strategi Baru Kemenkes dan BPOM Tekan Risiko Penyakit Kronis

Siska Wijaya | Menit Ini
15 Apr 2026, 08:21 WIB
Mengenal Label Nutri-Level: Strategi Baru Kemenkes dan BPOM Tekan Risiko Penyakit Kronis

MenitIni — Langkah preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat kini memasuki babak baru. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi meluncurkan kebijakan pelabelan gizi yang dikenal dengan sebutan Nutri-Level. Inovasi ini hadir sebagai solusi bagi konsumen agar lebih cerdas dalam memilah asupan nutrisi harian mereka.

Nutri-Level bukan sekadar label biasa, melainkan panduan visual berbentuk alfabet A, B, C, dan D yang dilengkapi dengan warna-warna intuitif. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa sistem ini bertujuan mempermudah masyarakat saat berbelanja di produk kemasan. “Level A yang berwarna hijau tua menandakan produk tersebut sangat sehat. Selanjutnya ada B dengan hijau muda, C kuning, dan D merah sebagai tanda kewaspadaan bagi konsumen,” ungkap Budi saat peluncuran di Jakarta pada Selasa (14/4/2026).

Baca Juga

10 Obat Alami Asam Urat: Solusi Ampuh dan Aman Redakan Nyeri Sendi Tanpa Efek Samping

10 Obat Alami Asam Urat: Solusi Ampuh dan Aman Redakan Nyeri Sendi Tanpa Efek Samping

Rincian Kandungan Gizi Berdasarkan Alfabet Nutri-Level

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, merinci secara mendalam mengenai ambang batas kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang menjadi indikator utama penentuan alfabet tersebut. Berikut adalah rinciannya:

  • Level A (Hijau Tua): Ini adalah standar tertinggi untuk pangan sehat. Kandungan gula maksimal 0,5 gram, garam maksimal 5,0 mg, dan lemak total maksimal 0,5 gram. Menariknya, produk kategori ini dilarang menggunakan bahan tambahan pangan pemanis, baik alami maupun buatan.
  • Level B (Hijau Muda): Kandungan gula berkisar antara 0,5 hingga 6 gram. Pada level ini, penggunaan pemanis alami seperti sorbitol, xylitol, atau glikosida steviol masih diperbolehkan. Batas garam berada di angka 5,0 hingga 120 mg, sementara lemak total antara 0,5 hingga 3,0 gram.
  • Level C (Kuning): Menunjukkan kandungan gula yang lebih tinggi, yakni 6,0 hingga 12,5 gram, dan diperbolehkan menggunakan berbagai jenis pemanis tambahan. Kadar garamnya mencapai 120 hingga 500 mg dengan lemak total 3,0 hingga 17,0 gram.
  • Level D (Merah): Merupakan kategori dengan kandungan GGL tertinggi. Kadar gula di atas 12,5 gram, garam melebihi 500 mg, dan lemak total melampaui 17 gram.

Investasi Kesehatan Lewat Pencegahan

Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa konsumsi GGL berlebih merupakan akar dari berbagai penyakit kronis yang mematikan, seperti stroke, jantung, dan gagal ginjal. Beban finansial negara untuk mengobati penyakit-penyakit ini sangatlah besar, sehingga pencegahan menjadi kunci utama.

Baca Juga

Navigasi Kesehatan Mental: 8 Strategi Jitu Mengatasi Stres WFH Agar Tetap Produktif

Navigasi Kesehatan Mental: 8 Strategi Jitu Mengatasi Stres WFH Agar Tetap Produktif

“Daripada kita mengobati setelah jatuh sakit, jauh lebih baik kita melakukan pencegahan sejak dini dengan mengatur pola makan. Edukasi melalui Nutri-Level ini adalah cara kita membentengi diri,” tambah Menkes. Standar yang digunakan pun telah selaras dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Masa Transisi Menuju Kewajiban Pelabelan

Meskipun sudah resmi diluncurkan, pencantuman logo Nutri-Level pada kemasan saat ini masih bersifat sukarela. Pemerintah memberikan ruang bagi para pelaku usaha untuk beradaptasi dalam masa transisi selama dua tahun ke depan. Namun, ke depannya, kebijakan ini direncanakan akan menjadi kewajiban bagi seluruh produsen makanan dan minuman kemasan.

Diharapkan dengan adanya label yang mencolok di bagian depan kemasan, masyarakat tidak lagi perlu pusing membaca tabel informasi nilai gizi yang rumit di bagian belakang. Cukup melihat warna dan hurufnya, konsumen bisa langsung menentukan apakah produk tersebut layak dikonsumsi secara rutin atau perlu dibatasi demi kesehatan di masa depan.

Baca Juga

Ironi Anemia Defisiensi Besi: Masalah Klasik Sebelum Merdeka yang Masih Menghantui Masa Depan Bangsa

Ironi Anemia Defisiensi Besi: Masalah Klasik Sebelum Merdeka yang Masih Menghantui Masa Depan Bangsa
Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *