Ironi Anemia Defisiensi Besi: Masalah Klasik Sebelum Merdeka yang Masih Menghantui Masa Depan Bangsa

Siska Wijaya | Menit Ini
15 Apr 2026, 14:23 WIB
Ironi Anemia Defisiensi Besi: Masalah Klasik Sebelum Merdeka yang Masih Menghantui Masa Depan Bangsa

MenitIni — Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, Indonesia sebenarnya sudah bertarung melawan musuh tak kasat mata yang hingga kini belum juga mampu ditaklukkan sepenuhnya: Anemia Defisiensi Besi (ADB). Masyarakat lawas mengenalnya dengan beragam istilah lokal yang sarat keprihatinan, mulai dari ‘kurang darah’, ‘lemah pucat’, hingga sebutan ‘kurang getih’ di tanah Pasundan. Namun, meski istilah-istilah tersebut kini telah berganti dengan diksi medis yang lebih modern, esensi masalahnya tetap sama dan justru kian mengkhawatirkan karena telah berlangsung lintas generasi.

Warisan Masalah Kesehatan yang Tak Kunjung Tuntas

Berdasarkan catatan sejarah kedokteran komunitas, persoalan anemia sudah terekam sejak era awal penataan sistem kesehatan nasional, seperti yang tertuang dalam masalah kesehatan sistem Bandung Plan. Kala itu, anemia sudah diidentifikasi sebagai salah satu kontributor utama tingginya angka kesakitan di tengah masyarakat. Ironisnya, setelah puluhan tahun merdeka, bayang-bayang ADB masih saja nyata.

Baca Juga

Bukan Sekadar Tren, Ini Deretan Manfaat WFH bagi Kesehatan dan Aturan Baru ASN yang Perlu Anda Tahu

Bukan Sekadar Tren, Ini Deretan Manfaat WFH bagi Kesehatan dan Aturan Baru ASN yang Perlu Anda Tahu

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), mengungkapkan fakta yang cukup menyesakkan. Data terkini menunjukkan bahwa prevalensi anemia di Indonesia masih berada di level yang sangat tinggi. Bahkan, pada kelompok paling rentan seperti ibu hamil, angkanya melampaui 40 persen. Angka ini secara otomatis menempatkan Indonesia dalam zona merah masalah kesehatan masyarakat global versi organisasi kesehatan dunia.

Bukan Sekadar Kurang Darah Biasa

Dalam sebuah diskusi media bertajuk ‘Studi IHDC Ungkap Stunting – Asupan Gizi dan Anemia Defisiensi Besi serta Dampaknya terhadap Working Memory Anak Usia Sekolah’, Dr. Ray menekankan bahwa ADB tidak boleh dianggap remeh sebagai gejala kelelahan biasa. “Anemia defisiensi besi ini adalah masalah kesehatan bangsa yang fundamental. Ini sudah ada sejak zaman kolonial dan hingga hari ini kita belum berhasil menyelesaikannya secara tuntas,” tegasnya.

Baca Juga

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga: 5 Masalah Klasik Pernikahan dan Solusi Jitu Menghadapinya

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga: 5 Masalah Klasik Pernikahan dan Solusi Jitu Menghadapinya

Dampaknya jauh lebih merusak daripada sekadar wajah pucat atau rasa kantuk. ADB pada anak-anak dan remaja dapat menjadi penghambat besar bagi potensi masa depan mereka. Selain memengaruhi IQ secara umum, kondisi ini juga menggerus daya tahan tubuh, menurunkan performa akademik, hingga memicu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan ketidakstabilan emosional pada anak.

Ancaman Terhadap ‘Working Memory’ dan IQ Bangsa

Salah satu poin krusial yang disoroti oleh studi IHDC adalah dampak spesifik anemia terhadap working memory atau memori kerja. Fungsi kognitif ini merupakan jantung dari proses belajar manusia, yang bertanggung jawab atas kemampuan menyerap informasi baru, memecahkan masalah, dan konsentrasi. Jika nutrisi anak tidak terpenuhi dan mereka menderita anemia, maka kapasitas memori kerja ini secara hipotesis akan terganggu.

Baca Juga

BPOM Pastikan Stok Obat Esensial Aman Hingga 6 Bulan ke Depan di Tengah Gejolak Global

BPOM Pastikan Stok Obat Esensial Aman Hingga 6 Bulan ke Depan di Tengah Gejolak Global

“Working memory adalah kunci utama prestasi akademik. Jika anak-anak kita mengalami defisiensi besi, secara otomatis kualitas sumber daya manusia kita di masa depan akan terancam,” tambah Dr. Ray. Hasil kajian IHDC memperlihatkan tren yang memprihatinkan: anak-anak dengan ADB cenderung memiliki skor memori kerja yang lebih rendah dibandingkan rekan sebayanya yang sehat.

Dampak Ekonomi yang Nyata

Tak hanya berhenti pada urusan kesehatan individu, anemia juga memberikan pukulan telak bagi perekonomian negara. Menurunnya tingkat produktivitas kerja akibat kondisi fisik yang tidak optimal dari para penderita anemia dapat menyebabkan kerugian ekonomi nasional yang signifikan. Estimasi menunjukkan bahwa dampak penurunan produktivitas ini bisa memangkas pertumbuhan ekonomi hingga 4 persen.

Oleh karena itu, penanganan ADB harus dilihat sebagai bagian dari isu pembangunan nasional, bukan sekadar urusan medis di rumah sakit. Diperlukan langkah-langkah komprehensif yang menyasar akar masalah, mulai dari edukasi gizi yang masif, peningkatan akses terhadap protein hewani, hingga intervensi kesehatan yang lebih tajam dan tepat sasaran demi memutus rantai anemia yang telah membelenggu bangsa ini selama lebih dari satu abad.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *