Jangan Salah Kaprah, IDAI Tegaskan Batita Bukan ‘Pendaki Kecil’ Usai Insiden Hipotermia di Gunung Ungaran

Siska Wijaya | Menit Ini
13 Apr 2026, 18:53 WIB
Jangan Salah Kaprah, IDAI Tegaskan Batita Bukan 'Pendaki Kecil' Usai Insiden Hipotermia di Gunung Ungaran

MenitIni — Sebuah peringatan keras bagi para orang tua yang gemar membawa buah hati ke alam bebas muncul menyusul insiden viral seorang anak perempuan berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Kejadian yang berlangsung di kawasan Puncak Bendolan pada Sabtu (11/4/2026) lalu ini menjadi pengingat pahit bahwa gunung bukanlah tempat bermain yang aman bagi anak di bawah tiga tahun (batita).

Balita malang tersebut dilaporkan sempat terjebak dalam cuaca ekstrem. Hujan lebat disertai penurunan suhu yang drastis membuat kondisi fisiknya merosot tajam. Beruntung, berkat kesigapan tim SAR, nyawa bocah tersebut berhasil diselamatkan setelah melalui proses evakuasi yang menegangkan di tengah kepungan udara dingin.

Baca Juga

BPOM Beri Lampu Hijau: Vaksin Campak Kini Resmi Diperluas untuk Orang Dewasa Berisiko

BPOM Beri Lampu Hijau: Vaksin Campak Kini Resmi Diperluas untuk Orang Dewasa Berisiko

Anak Bukan ‘Miniatur’ Orang Dewasa

Menanggapi fenomena ini, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA Subsp.Kardio(K), memberikan catatan kritis. Ia menegaskan bahwa membawa batita melakukan mendaki gunung dengan risiko paparan cuaca ekstrem sangat tidak direkomendasikan.

“Anak-anak itu bukan dewasa dalam bentuk kecil. Jangan berasumsi bahwa daya tahan tubuh anak sama kuatnya dengan orang dewasa,” tegas dr. Piprim dalam keterangannya di Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026). Ia menekankan bahwa anak-anak memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh yang belum sempurna, sehingga sangat rentan kehilangan panas tubuh dalam waktu singkat.

Senada dengan hal tersebut, dr. Yogi Prawira, SpA Subs ETIA(K), selaku Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, menjelaskan alasan medis di baliknya. Frekuensi pernapasan anak yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa menjadi faktor kunci. “Saat bernapas lebih sering, anak kehilangan lebih banyak cairan dan panas tubuh secara bersamaan. Inilah yang memicu risiko hipotermia pada anak terjadi jauh lebih cepat,” ungkapnya.

Baca Juga

Mitos Vape Lebih Aman Terbantah, Pakar Paru Beberkan Sederet Bahaya Fatal Mulai dari Adiksi Hingga Kanker

Mitos Vape Lebih Aman Terbantah, Pakar Paru Beberkan Sederet Bahaya Fatal Mulai dari Adiksi Hingga Kanker

Edukasi Alam Tanpa Mengabaikan Keamanan

Mengenalkan anak pada keindahan alam memang langkah positif untuk tumbuh kembang mereka, namun dr. Piprim menyarankan agar orang tua tetap bersikap bijaksana. Dibandingkan langsung menaklukkan puncak gunung yang tinggi, aktivitas bisa dimulai dengan hiking keluarga di jalur yang relatif landai dan memiliki cuaca yang stabil.

Jika nantinya orang tua merasa anak sudah siap untuk tantangan yang lebih tinggi, ada beberapa prosedur keselamatan yang wajib dipenuhi:

  • Kesiapan Perlengkapan: Pastikan anak mengenakan pakaian berlapis dengan lapisan luar berupa jaket anti-air (waterproof).
  • Pahami Penanganan Darurat: Orang tua harus menguasai teknik pertolongan pertama pada hipotermia. Salah satu cara paling efektif adalah dengan metode skin-to-skin contact.
  • Metode Penghangatan: Jika anak mulai menggigil hebat, segera lepaskan pakaian basahnya dan tempelkan tubuh anak ke dada orang tua untuk menyalurkan panas alami tubuh, kemudian selimuti dengan kain kering.

Menutup laporan ini, Bergas Catursasi selaku Kalakhar BPBD Provinsi Jawa Tengah mengonfirmasi bahwa balita berinisial LL tersebut kini sudah berada di rumah dalam kondisi stabil. Meski berakhir selamat, insiden ini diharapkan menjadi bahan evaluasi serius bagi publik mengenai pentingnya aspek kesehatan anak dan keselamatan dalam setiap aktivitas luar ruang.

Baca Juga

Mengungkap Risiko Kesehatan di Balik Gurihnya Ikan Sapu-Sapu: Aman atau Beracun?

Mengungkap Risiko Kesehatan di Balik Gurihnya Ikan Sapu-Sapu: Aman atau Beracun?
Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *