Mitos Vape Lebih Aman Terbantah, Pakar Paru Beberkan Sederet Bahaya Fatal Mulai dari Adiksi Hingga Kanker
MenitIni — Anggapan bahwa rokok elektronik atau vape merupakan pelarian yang lebih sehat dari rokok konvensional nampaknya harus segera dikubur dalam-dalam. Di balik kepulan uap beraroma buah yang menggoda, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan yang sering kali luput dari perhatian para penggunanya.
Guru Besar dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), menegaskan bahwa vape jauh dari kata aman. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah tingginya tingkat kecanduan. Menurut Prof. Agus, sekitar 79,5 persen pengguna vape terjebak dalam lingkaran adiksi akibat kandungan nikotin yang tetap hadir di dalamnya.
“Ketergantungan ini bukan masalah sepele. Faktanya, sekitar 40 hingga 50 persen pengguna justru berakhir menjadi ‘dual user’, yakni mereka yang menggunakan vape sekaligus tetap merokok konvensional,” jelasnya. Kondisi ini tentu melipatgandakan risiko kesehatan yang masuk ke dalam tubuh secara simultan.
Terobosan Baru Kesehatan: BPOM Resmi Izinkan Vaksin Campak bagi Orang Dewasa Berisiko
Kandungan Karsinogen yang Mematikan
Meski sering dipasarkan sebagai produk tanpa tar, cairan vape atau liquid justru mengandung berbagai bahan karsinogenik yang dapat memicu kanker. Zat-zat berbahaya seperti formaldehida dan asetaldehida ditemukan bersembunyi di balik uap yang dihirup. Walaupun studi jangka panjang pada manusia masih terus dikumpulkan karena vape tergolong tren baru, penelitian di laboratorium telah memberikan peringatan keras akan potensi keganasan sel di masa depan.
Selain itu, terdapat komponen zat toksik yang mampu memicu peradangan hebat pada saluran pernapasan hingga pembuluh darah. Paparan terus-menerus terhadap zat ini bukan sekadar menyebabkan gangguan ringan, melainkan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, asma, hingga penyakit paru kronik yang melumpuhkan kualitas hidup.
Waspada Ancaman Senyap: Satu Juta Kasus TBC Hantui Indonesia, Kenali Gejala dan Cara Penularannya
Dari Paru-Paru Bocor hingga Ancaman Stroke
Dalam praktik klinisnya di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Prof. Agus kerap menemukan kasus-kasus memprihatinkan yang dipicu oleh kebiasaan vaping. Spektrum gangguannya pun sangat luas, mulai dari asma akut hingga kondisi ekstrem seperti pneumotoraks, atau yang lebih dikenal dengan istilah paru-paru bocor.
Pakar paru ini juga memberikan sorotan khusus pada potensi EVALI (E-cigarette or Vaping product use-Associated Lung Injury). Ini adalah sebuah cedera paru akut yang bisa membuat penderitanya mengalami sesak napas berat secara tiba-tiba dan membutuhkan penanganan medis di ruang perawatan intensif.
Tak berhenti di sistem pernapasan, bahaya vape juga merambah ke sistem kardiovaskular. Zat-zat kimia dalam uap elektrik tersebut dapat merusak integritas pembuluh darah secara perlahan. Dalam jangka panjang, hal ini secara signifikan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung dan stroke. Dengan segala risiko medis yang nyata ini, menganggap vape sebagai alternatif aman jelas merupakan sebuah kekeliruan besar yang mempertaruhkan nyawa.
Kenali Nutri Level: Panduan Warna dan Alfabet dari BPOM untuk Pola Hidup Lebih Sehat