Strategi Global dan 7 Pilar UHC: Catatan Penting Prof Tjandra Yoga Aditama untuk Masa Depan BPJS Kesehatan

Siska Wijaya | Menit Ini
12 Apr 2026, 16:21 WIB
Strategi Global dan 7 Pilar UHC: Catatan Penting Prof Tjandra Yoga Aditama untuk Masa Depan BPJS Kesehatan

MenitIni — Dalam upaya memperkuat barisan kepemimpinan di institusi penjamin kesehatan negara, Prof. Tjandra Yoga Aditama membagikan pandangan mendalam mengenai masa depan kesehatan global. Di hadapan para manajer senior BPJS Kesehatan, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI ini menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang jejaring internasional dan prinsip fundamental Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC).

Pada agenda yang berlangsung April 2026 tersebut, Prof. Tjandra memberikan paparan dalam program ‘Expert Sharing: International Networking’. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan bagian dari Leadership Mandatory Program bagi 21 Senior Manager BPJS Kesehatan. Tujuannya jelas: memastikan calon pemimpin mampu beradaptasi secara cepat terhadap dinamika global dan strategi organisasi yang kian kompleks.

Baca Juga

Waspadai Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Panduan Lengkap Gejala, Jenis, dan Cara Deteksi Dini

Waspadai Penyakit Jantung Bawaan pada Anak: Panduan Lengkap Gejala, Jenis, dan Cara Deteksi Dini

Menembus Jejaring Kesehatan Internasional

Dalam sesi tersebut, Prof. Tjandra menggarisbawahi bahwa pemahaman terhadap ekosistem kesehatan dunia adalah kunci. Beliau memaparkan peran krusial berbagai organisasi internasional seperti WHO, GAVI, dan UNICEF. Tak hanya itu, mekanisme pendanaan global seperti GFATM hingga peran strategis Bill & Melinda Gates Foundation turut dibahas sebagai bagian dari peta jalan kerja sama kesehatan regional, termasuk di lingkup ASEAN dan G20.

Menurutnya, pemimpin di sektor kesehatan harus memiliki wawasan luas tentang bagaimana dunia bekerja sama untuk menangani isu-isu kesehatan global yang berdampak langsung pada kebijakan di tingkat nasional.

Tujuh Prinsip Dasar UHC yang Tak Bisa Ditawar

Inti dari pemaparan tersebut adalah tujuh pengertian dasar mengenai Universal Health Coverage (UHC) yang menjadi fondasi utama Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Prof. Tjandra merangkumnya menjadi poin-poin esensial:

Baca Juga

Paradoks Keadilan di FH UI: Ketika Benteng Hukum Terguncang Kasus Pelecehan Seksual

Paradoks Keadilan di FH UI: Ketika Benteng Hukum Terguncang Kasus Pelecehan Seksual
  • Akses Inklusif: Seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali harus mendapatkan perlindungan.
  • Ketersediaan Akses: Kemudahan dalam menjangkau fasilitas kesehatan.
  • Kualitas Pelayanan: Layanan yang diberikan harus memenuhi standar mutu medis yang tinggi.
  • Fleksibilitas Lokasi: Pelayanan dapat diakses di mana saja.
  • Fleksibilitas Waktu: Kesiapan layanan kapan pun dibutuhkan oleh masyarakat.
  • Keamanan Finansial: Pelayanan kesehatan tidak boleh memberikan beban ekonomi yang memberatkan pasien.
  • Layanan Komprehensif: Mencakup promosi kesehatan, pencegahan, pengobatan, rehabilitasi, hingga pelayanan paliatif sepanjang hayat.

Tiga Usulan Strategis untuk BPJS Kesehatan

Sebagai sosok yang lama berkecimpung di dunia kesehatan internasional, Prof. Tjandra yang juga merupakan Adjunct Professor di Griffith University ini menyampaikan tiga usulan transformatif untuk layanan kesehatan masa depan:

Baca Juga

Perkuat Garda Terdepan, Vaksinasi Campak Dewasa Sasar 223 Ribu Tenaga Kesehatan di 14 Provinsi

Perkuat Garda Terdepan, Vaksinasi Campak Dewasa Sasar 223 Ribu Tenaga Kesehatan di 14 Provinsi

Pertama, ia mengusulkan penetapan Hari Jaminan Kesehatan Nasional. Jika dunia memiliki Universal Health Coverage Day setiap 12 Desember, maka Indonesia dinilai perlu memiliki hari peringatan serupa, misalnya berdasarkan tanggal pengesahan undang-undang terkait, guna memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya jaminan kesehatan.

Kedua, mendorong BPJS Kesehatan untuk meraih status sebagai WHO Collaborating Center. Dengan pencapaian ini, BPJS Kesehatan akan diakui di level dunia sebagai pusat pembelajaran dalam bidang UHC atau ekonomi kesehatan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Ketiga, Prof. Tjandra menekankan pergeseran fokus ke arah promotif dan preventif. Beliau menyarankan BPJS Kesehatan untuk lebih aktif menangani tantangan seperti kelompok anti-vaksin, membangun pusat penyuluhan kesehatan, serta menyediakan sarana hidup sehat. Fokus utama harus dialihkan pada upaya menjaga orang sehat agar tetap sehat, bukan sekadar mengobati mereka yang sudah jatuh sakit.

Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat membawa Jaminan Kesehatan Nasional ke arah yang lebih berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *