Dilema dan Manfaat WFH: Mengapa Perempuan Merasakan Dampak Kesehatan Mental yang Lebih Signifikan?

Siska Wijaya | Menit Ini
11 Apr 2026, 16:22 WIB
Dilema dan Manfaat WFH: Mengapa Perempuan Merasakan Dampak Kesehatan Mental yang Lebih Signifikan?

MenitIni — Tren bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) kini bukan lagi sekadar opsi darurat, melainkan sebuah gaya hidup baru yang diklaim mampu menjaga kesehatan mental para pekerja. Namun, di balik kenyamanan ruang tamu yang disulap menjadi kantor, tersimpan dinamika yang kompleks. Dua studi terbaru mengungkapkan fakta menarik: dampak psikologis dari sistem kerja ini ternyata tidaklah seragam, di mana kaum perempuan cenderung memetik keuntungan yang lebih besar dibandingkan pria.

Sihir Model Kerja Hybrid bagi Perempuan

Sebuah analisis mendalam terhadap lebih dari 16.000 tenaga kerja di Australia menyoroti fenomena ini secara gamblang. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan mengalami peningkatan kesejahteraan emosional yang signifikan saat menjalani rutinitas kerja dari rumah. Menariknya, manfaat ini mencapai titik puncaknya bukan pada sistem kerja jarak jauh penuh, melainkan pada pola kerja hybrid.

Baca Juga

Waspada Varises: Mengapa Wanita Lebih Rentan Dibanding Pria? Kenali Gejala dan Solusi Medisnya

Waspada Varises: Mengapa Wanita Lebih Rentan Dibanding Pria? Kenali Gejala dan Solusi Medisnya

Kombinasi antara bekerja dari rumah dan hadir di kantor satu hingga dua hari dalam seminggu dianggap sebagai “titik manis” bagi perempuan. Pola ini memungkinkan mereka mendapatkan fleksibilitas untuk mengatur urusan rumah tangga tanpa kehilangan koneksi profesional. Bagi perempuan yang sebelumnya berjuang dengan isu kecemasan atau stres, transisi ke sistem hybrid ini memberikan efek positif yang setara dengan mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan.

Stigma Fleksibilitas dan Beban Ganda di Masa Lalu

Meskipun terdengar menjanjikan, perjalanan menuju kenyamanan WFH tidak selalu mulus. Penelitian dari King’s Business School yang memantau hampir 40.000 pekerja di Inggris selama 14 tahun memberikan perspektif yang berbeda. Sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia, WFH justru sering kali berdampak buruk pada kondisi psikis perempuan profesional.

Baca Juga

Jangan Sepelekan Berat Badan! Obesitas di Usia Muda Dongkrak Risiko Kematian Dini Hingga 70 Persen

Jangan Sepelekan Berat Badan! Obesitas di Usia Muda Dongkrak Risiko Kematian Dini Hingga 70 Persen

Penyebab utamanya adalah apa yang disebut sebagai ‘stigma fleksibilitas’. Pada masa itu, perempuan yang bekerja dari rumah merasa memiliki beban moral untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar bekerja. Hal ini memicu perilaku kompensasi berlebih, seperti jam kerja yang lebih panjang dan sikap yang selalu siap sedia (always on), yang justru mengaburkan batas antara ranah pribadi dan pekerjaan.

Selain itu, fenomena beban ganda menjadi tantangan nyata. Alih-alih mendapatkan ketenangan, banyak perempuan profesional yang terpaksa berjibaku dengan laporan kantor sembari menangani urusan domestik secara bersamaan di bawah satu atap.

Transformasi Budaya Pasca-Pandemi

Namun, angin segar mulai berhembus setelah pandemi melanda. Ketika bekerja dari rumah menjadi norma global, stigma negatif yang menyertainya perlahan memudar. Dr. Constance Beaufils dari King’s Global Institute for Women’s Leadership mencatat adanya pergeseran besar dalam budaya organisasi.

Baca Juga

Anak Pernah Kena Campak? Tetap Butuh Vaksin MR, Ini Jadwal dan Penjelasan Ahli

Anak Pernah Kena Campak? Tetap Butuh Vaksin MR, Ini Jadwal dan Penjelasan Ahli

Saat ini, WFH tidak lagi dipandang sebagai bentuk “pelarian” dari tanggung jawab kantor. Perubahan persepsi ini sangat membantu perempuan profesional untuk bekerja dengan lebih tenang tanpa rasa bersalah. Di sisi lain, perubahan ini juga mendorong keterlibatan pria yang lebih besar dalam urusan domestik, meskipun secara statistik, pria tidak merasakan peningkatan kepuasan mental sebesar yang dirasakan perempuan.

Pada akhirnya, efektivitas WFH sangat bergantung pada bagaimana perusahaan membangun ekosistem kerja yang sehat. Fleksibilitas bukan sekadar soal lokasi kerja, melainkan tentang kepercayaan dan budaya yang mendukung keseimbangan hidup bagi setiap individu, terlepas dari apa pun gendernya.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *