Waspada Varises: Mengapa Wanita Lebih Rentan Dibanding Pria? Kenali Gejala dan Solusi Medisnya

Siska Wijaya | Menit Ini
16 Apr 2026, 10:22 WIB
Waspada Varises: Mengapa Wanita Lebih Rentan Dibanding Pria? Kenali Gejala dan Solusi Medisnya

MenitIni — Masalah kesehatan pembuluh darah sering kali dipandang sebelah mata hingga akhirnya menunjukkan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu kondisi yang paling umum ditemukan namun kerap diabaikan adalah varises. Meski bisa menyerang siapa saja, nyatanya ada perbedaan mencolok mengenai bagaimana kondisi ini berkembang pada pria dan wanita.

Data dari World Health Organization (WHO) dan Journal of Vascular Surgery mengungkapkan fakta menarik bahwa prevalensi varises pada wanita mencapai 25 persen secara global. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pria yang hanya berkisar di angka 10 hingga 15 persen. Lantas, apa yang membuat kaum hawa lebih berisiko?

Pengaruh Hormonal dan Gaya Hidup

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Emanoel Oepangat, menjelaskan bahwa faktor biologis memegang peranan besar. Pada wanita, fluktuasi hormon seperti estrogen dan progesteron dapat memicu pelemahan pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini biasanya memuncak selama masa kehamilan atau menopause.

Baca Juga

Bukan Sekadar Lucu, Candaan di Grup Chat Bisa Dianggap Ancaman Serius oleh Otak: Ini Faktanya

Bukan Sekadar Lucu, Candaan di Grup Chat Bisa Dianggap Ancaman Serius oleh Otak: Ini Faktanya

“Tekanan intra-abdomen yang meningkat saat hamil memberikan beban tambahan pada kerja vena di bagian tungkai,” jelas dokter dari Heartology Cardiovascular Hospital Jakarta tersebut dalam sebuah keterangan resmi yang diterima redaksi. Hal inilah yang menyebabkan wanita lebih sering mengeluhkan munculnya masalah pembuluh darah di area kaki.

Berbeda dengan wanita, pemicu utama varises pada pria lebih banyak didominasi oleh faktor mekanis atau tuntutan pekerjaan. Mereka yang memiliki profesi dengan durasi berdiri lama—seperti petugas keamanan, tenaga medis, atau buruh pabrik—berada di zona risiko tinggi. Begitu pula dengan pekerja kantoran atau pengemudi yang menghabiskan waktu duduk terlalu lama, yang memicu stagnasi aliran darah di area bawah tubuh.

Baca Juga

Anak Pernah Kena Campak? Tetap Butuh Vaksin MR, Ini Jadwal dan Penjelasan Ahli

Anak Pernah Kena Campak? Tetap Butuh Vaksin MR, Ini Jadwal dan Penjelasan Ahli

Mengenali Gejala Sebelum Terlambat

Varises bukanlah kondisi yang muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini bersifat progresif, diawali dengan sensasi kaki yang terasa berat, nyeri tumpul, hingga rasa cepat lelah setelah beraktivitas fisik. Jika tidak segera ditangani, pergelangan kaki akan mulai membengkak, terutama saat sore hari, diikuti munculnya guratan vena kebiruan di bawah permukaan kulit.

Pada stadium yang lebih lanjut, pembuluh darah akan tampak menonjol dan terpuntir. Bahkan, terjadi perubahan pigmen kulit menjadi lebih gelap di area betis bawah. “Banyak orang mengira bercak kehitaman di kaki adalah tanda diabetes, padahal itu bisa jadi merupakan tanda penyakit vena kronis yang sudah berlangsung menahun,” tambah Dr. Emanoel.

Baca Juga

Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Ancaman Nyata dari ‘Amnesia Imun’ hingga Risiko Kematian pada Dewasa

Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Ancaman Nyata dari ‘Amnesia Imun’ hingga Risiko Kematian pada Dewasa

Solusi Medis Modern Tanpa Sayatan Besar

Mengabaikan gejala varises bukan hanya soal estetika, tetapi juga ancaman komplikasi serius seperti ulkus (luka terbuka) hingga trombosis vena dalam atau penggumpalan darah yang membahayakan nyawa. Kabar baiknya, teknologi medis saat ini memungkinkan penanganan yang jauh lebih cepat dan nyaman.

Melalui prosedur Duplex Ultrasound Vaskular, tim medis dapat memetakan fungsi katup pembuluh darah dengan akurasi tinggi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, pasien bisa mendapatkan terapi yang sesuai, di antaranya:

  • Terapi Kompresi: Menggunakan stoking medis khusus untuk membantu sirkulasi darah balik ke jantung.
  • Sclerotherapy: Prosedur penyuntikan larutan khusus untuk menutup vena yang bermasalah.
  • Radiofrequency Ablation dan Laser Vein Therapy: Teknik minim invasif yang sangat populer karena tidak memerlukan sayatan besar, minim rasa sakit, dan memungkinkan pasien pulang pada hari yang sama.

Langkah pencegahan terbaik adalah dengan tetap aktif bergerak dan segera melakukan konsultasi medis jika merasakan ketidaknyamanan pada kaki. Menangani varises sejak dini tidak hanya mengembalikan keindahan kaki, tetapi juga menjaga kesehatan sirkulasi darah jangka panjang.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *