Mengungkap Risiko Kesehatan di Balik Gurihnya Ikan Sapu-Sapu: Aman atau Beracun?

Siska Wijaya | Menit Ini
18 Apr 2026, 14:54 WIB
Mengungkap Risiko Kesehatan di Balik Gurihnya Ikan Sapu-Sapu: Aman atau Beracun?

MenitIni — Fenomena melimpahnya populasi ikan sapu-sapu di perairan ibu kota kembali memicu perdebatan lama di tengah masyarakat: amankah ikan ini untuk dikonsumsi? Pertanyaan ini mengemuka setelah aksi pembersihan massal di lima wilayah Jakarta pada Jumat, 17 April 2026, berhasil menjaring sedikitnya 6,9 ton ikan yang memiliki nama ilmiah Pterygoplichthys pardalis tersebut. Jutaan ikan yang tertangkap itu kemudian dimusnahkan dengan cara dikubur demi menjaga keseimbangan ekosistem.

Melihat jumlahnya yang fantastis, tak sedikit warga yang penasaran apakah ikan asal Sungai Amazon, Amerika Selatan ini bisa menjadi alternatif sumber protein. Menanggapi rasa penasaran publik, Guru Besar Bidang Keamanan Pangan IPB University, Profesor Ahmad Sulaeman, memberikan penjelasan mendalam yang patut diwaspadai oleh setiap rumah tangga.

Baca Juga

Waspada Bahaya Mikroplastik: Benarkah Kebiasaan Anak Menggigit Mainan Picu Gangguan Ginjal?

Waspada Bahaya Mikroplastik: Benarkah Kebiasaan Anak Menggigit Mainan Picu Gangguan Ginjal?

Antara Potensi Protein dan Realitas Lingkungan

Menurut Profesor Ahmad, secara biologis ikan sapu-sapu sebenarnya bisa dikonsumsi. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi: ikan tersebut harus berasal dari perairan yang tidak tercemar atau hasil budidaya di lingkungan yang terkontrol kebersihannya. Masalahnya, realitas di lapangan menunjukkan hal yang kontradiktif.

“Kondisi sungai-sungai di Indonesia, terutama di kawasan perkotaan, sebagian besar telah terpapar limbah industri maupun domestik. Hal inilah yang membuat konsumsi ikan sapu-sapu menjadi sangat tidak dianjurkan,” ujar Ahmad saat dihubungi tim redaksi. Ia menjelaskan bahwa ikan ini memiliki kebiasaan hidup di dasar sungai, rawa, hingga selokan yang kotor.

Sebagai penyedot partikel di dasar air, ikan sapu-sapu memakan lumpur dan sisa-sisa organik. Sifat inilah yang membuat mereka sangat mudah mengakumulasi racun dari lingkungan sekitarnya ke dalam jaringan tubuh mereka. Cari tahu lebih lanjut mengenai isu keamanan pangan di artikel kami lainnya.

Baca Juga

Strategi Baru Putus Rantai Tuberkulosis: Menkes Wajibkan Skrining Bagi Seluruh Keluarga Pasien

Strategi Baru Putus Rantai Tuberkulosis: Menkes Wajibkan Skrining Bagi Seluruh Keluarga Pasien

Ancaman Logam Berat dan Mikroplastik

Habitat yang buruk membuat ikan ini bertindak seperti spons yang menyerap polutan berbahaya. Profesor Ahmad memperingatkan adanya risiko kandungan logam berat yang tinggi, seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang berasal dari limbah pabrik. Tak hanya itu, limbah rumah tangga seperti sisa deterjen, pestisida, hingga partikel mikroplastik juga kerap ditemukan dalam tubuh ikan yang hidup di perairan Jakarta.

“Belum lagi ancaman bakteri patogen dan parasit yang bersarang di dalamnya karena habitat air yang kotor dan penuh limbah,” tambahnya. Mengingat risikonya yang besar, Profesor Ahmad memberikan peringatan keras bagi kelompok rentan.

Peringatan bagi Ibu Hamil dan Anak-anak

Dampak kesehatan dari mengonsumsi ikan yang tercemar ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Ahmad sangat menekankan agar ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak menjauhi konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan liar. Paparan logam berat dalam jangka panjang dapat mengganggu perkembangan otak dan menghambat tumbuh kembang anak secara permanen.

Baca Juga

Kenali Nutri Level: Panduan Warna dan Alfabet dari BPOM untuk Pola Hidup Lebih Sehat

Kenali Nutri Level: Panduan Warna dan Alfabet dari BPOM untuk Pola Hidup Lebih Sehat

Bagi mereka yang telanjur mengonsumsi, dampaknya sangat bervariasi tergantung pada tingkat pencemaran air asal ikan tersebut. Jika hanya dikonsumsi sekali dalam jumlah kecil, tubuh mungkin masih mampu melakukan detoksifikasi secara alami. Namun, jika menjadi menu rutin, efek akut dan kronis siap mengintai.

Efek Samping: Dari Mual Hingga Risiko Kanker

Efek akut yang bisa muncul dalam waktu 1 hingga 24 jam setelah mengonsumsi meliputi:

  • Mual dan muntah
  • Diare dan nyeri perut hebat (gastroenteritis)
  • Pusing dan sakit kepala
  • Reaksi alergi pada kulit seperti gatal-gatal

Sementara itu, dalam jangka panjang atau efek kronis, penumpukan logam berat di dalam tubuh dapat memicu kerusakan organ vital seperti ginjal dan hati. Selain itu, gangguan saraf, masalah kesuburan, hingga peningkatan risiko kanker menjadi ancaman nyata bagi mereka yang nekat menjadikan ikan sapu-sapu liar sebagai konsumsi harian. Oleh karena itu, penting untuk selalu selektif dalam memilih ikan konsumsi demi kesehatan keluarga di masa depan.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *