Mitos atau Fakta? Mengupas Tuntas Aturan Konsumsi Gula dan Faktor Genetik bagi Penderita Diabetes

Siska Wijaya | Menit Ini
17 Apr 2026, 18:54 WIB
Mitos atau Fakta? Mengupas Tuntas Aturan Konsumsi Gula dan Faktor Genetik bagi Penderita Diabetes

MenitIni — Selama ini, momok menakutkan bagi para penyandang diabetes adalah keharusan untuk benar-benar “bercerai” dari rasa manis. Muncul sebuah stigma kuat di masyarakat bahwa sekali seseorang terdiagnosis diabetes, maka pintu untuk menikmati gula telah tertutup rapat selamanya. Namun, apakah dunia medis memang menetapkan aturan sekaku itu?

Mitos: Penderita Diabetes Dilarang Total Mengonsumsi Gula

Menanggapi kesimpangsiuran informasi ini, Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof. Em Yunir, memberikan pencerahan yang cukup melegakan. Menurutnya, anggapan bahwa penderita diabetes tidak boleh mengonsumsi gula sama sekali adalah sebuah mitos.

“Pasien diabetes sebenarnya masih diperbolehkan mengonsumsi gula, namun tentu dengan catatan khusus mengenai batasan jumlahnya. Misalnya, penggunaan satu sendok teh gula masih dalam taraf yang diperbolehkan,” ungkap Em Yunir dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta baru-baru ini. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan pemanis rendah kalori bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tetap ingin mengecap rasa manis tanpa mengorbankan kestabilan gula darah.

Baca Juga

Waspada Penularan Campak di Sekolah: Kenali Gejala ‘3C’ dan Protokol Penanganan Cepat dari Kemenkes

Waspada Penularan Campak di Sekolah: Kenali Gejala ‘3C’ dan Protokol Penanganan Cepat dari Kemenkes

Bahkan dalam urusan dapur, penggunaan gula sebagai bumbu penyedap masakan tetap diizinkan selama porsinya terjaga dan aman bagi metabolisme pasien. Meski demikian, Prof. Em Yunir memberikan peringatan keras terhadap minuman dengan kadar gula tinggi yang tersembunyi, seperti teh manis, kopi kekinian, atau minuman dalam kemasan yang sering kali mengandung gula berlebih.

Menariknya, ia justru menyarankan konsumsi kopi hitam murni. “Kopi tetap sangat dianjurkan, asalkan disajikan tanpa gula. Hal ini dikarenakan kopi memiliki manfaat proteksi yang baik terhadap kesehatan jantung,” tambahnya.

Fakta: Benarkah Diabetes Adalah Penyakit Keturunan?

Selain soal gula, isu mengenai faktor genetika juga sering menjadi bahan perdebatan. Dalam hal ini, Prof. Em Yunir menegaskan bahwa diabetes yang diturunkan secara genetik adalah sebuah fakta. Riwayat kesehatan keluarga memegang peranan krusial dalam menentukan tingkat risiko seseorang.

Baca Juga

Ironi Anemia Defisiensi Besi: Masalah Klasik Sebelum Merdeka yang Masih Menghantui Masa Depan Bangsa

Ironi Anemia Defisiensi Besi: Masalah Klasik Sebelum Merdeka yang Masih Menghantui Masa Depan Bangsa

“Jika salah satu atau bahkan kedua orang tua memiliki riwayat diabetes, maka risiko sang anak untuk mengalami kondisi yang sama akan meningkat secara signifikan,” jelasnya. Namun, ia menekankan sebuah poin penting: genetika bukanlah vonis mati. Memiliki gen diabetes tidak lantas membuat seseorang otomatis menderita penyakit tersebut.

Menurutnya, genetik hanyalah faktor risiko yang memperbesar peluang, namun gaya hidup tetap menjadi pemicu utama (trigger). Tanpa pola makan yang buruk, kelebihan kalori yang kronis, kurangnya aktivitas fisik, dan obesitas, gen diabetes tersebut mungkin tidak akan pernah teraktivasi menjadi penyakit.

Alarm Darurat Diabetes di Indonesia

Kondisi diabetes di tanah air saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia menduduki peringkat kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes mencapai 20,4 juta orang. Angka yang fantastis ini menunjukkan adanya urgensi bagi intervensi kesehatan yang lebih masif.

Baca Juga

Rahasia Wajah Glowing Tanpa Biaya: 12 Manfaat Luar Biasa Uap Air Panas yang Sering Terlupakan

Rahasia Wajah Glowing Tanpa Biaya: 12 Manfaat Luar Biasa Uap Air Panas yang Sering Terlupakan

Lebih mengkhawatirkan lagi, merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes pada kelompok usia di atas 15 tahun mencapai 11,7 persen. Artinya, diperkirakan ada sekitar 30 juta orang yang hidup dengan diabetes di Indonesia, namun ironisnya, hanya sekitar 10 hingga 15 juta orang saja yang baru terdiagnosis dan mendapatkan penanganan medis.

Tren ini juga menunjukkan pergeseran usia yang semakin muda. Jika dahulu diabetes identik dengan penyakit lansia, kini usia produktif bahkan anak-anak mulai banyak yang terdampak. Pola makan sehat dan edukasi dini menjadi kunci utama untuk memutus rantai peningkatan kasus ini. Kesadaran untuk melakukan deteksi dini menjadi langkah pertama yang paling menentukan sebelum komplikasi yang lebih berat muncul.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *