Bukan Sekadar Lelah, Ternyata Anemia Defisiensi Besi Jadi Pemicu Anxiety pada Anak Muda

Siska Wijaya | Menit Ini
15 Apr 2026, 17:22 WIB
Bukan Sekadar Lelah, Ternyata Anemia Defisiensi Besi Jadi Pemicu Anxiety pada Anak Muda

MenitIniSelama ini, masyarakat awam sering kali menganggap remeh kondisi anemia atau kurang darah. Gejala seperti wajah pucat, tubuh lemas, dan mudah mengantuk dipandang sebagai gangguan fisik ringan yang akan hilang hanya dengan istirahat. Namun, temuan terbaru mengungkap tabir yang lebih gelap: ada benang merah yang kuat antara kondisi anemia, khususnya defisiensi zat besi, dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan atau anxiety pada generasi muda.

Masalah ini bukanlah isu baru di Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa anemia telah menghantui kesehatan masyarakat kita bahkan jauh sebelum era kemerdekaan. Ironisnya, meski zaman telah berganti, angka prevalensinya tetap tinggi dan kini mulai menunjukkan dampak sistemis yang merambah ke ranah kesehatan mental.

Baca Juga

Mitos Vape Lebih Aman Terbantah, Pakar Paru Beberkan Sederet Bahaya Fatal Mulai dari Adiksi Hingga Kanker

Mitos Vape Lebih Aman Terbantah, Pakar Paru Beberkan Sederet Bahaya Fatal Mulai dari Adiksi Hingga Kanker

Kaitan Erat Antara Zat Besi dan Fungsi Otak

Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menegaskan bahwa anemia defisiensi besi tidak boleh hanya dilihat dari kacamata fisik belaka. Menurutnya, kekurangan zat besi secara langsung mengganggu kinerja organ paling vital dalam tubuh, yakni otak.

“Selama ini orang hanya melihat anemia sebagai kurang darah yang berdampak pada lemas atau penurunan konsentrasi. Padahal, anemia defisiensi besi juga berkaitan erat dengan kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko anxiety pada anak muda,” papar Dr. Ray dalam sebuah diskusi kesehatan.

Secara fisiologis, zat besi merupakan komponen kunci dalam pembentukan hemoglobin yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh sel tubuh. Ketika tubuh mengalami krisis zat besi, pasokan oksigen ke otak menjadi tersendat. Hal inilah yang memicu malfungsi kognitif, di mana otak kesulitan meregulasi emosi dan merespons stres dengan cara yang sehat.

Baca Juga

Ancaman El Nino Godzilla 2026: Kemenkes Ingatkan Potensi Lonjakan Penyakit dan Polusi Udara Ekstrem

Ancaman El Nino Godzilla 2026: Kemenkes Ingatkan Potensi Lonjakan Penyakit dan Polusi Udara Ekstrem

Anxiety dan Menurunnya Kemampuan Belajar

Dampak dari defisiensi besi ini menciptakan efek domino yang merugikan. Anak muda yang mengidap anemia cenderung lebih rentan merasa gelisah, mudah cemas tanpa alasan yang jelas, hingga kesulitan mengendalikan ledakan emosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini merusak kualitas hidup dan performa mereka di institusi pendidikan.

Selain memicu kecemasan, anemia juga menyerang working memory atau memori kerja. Ini adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan mengelola informasi dalam waktu singkat—sebuah fungsi kognitif yang sangat krusial bagi pelajar dan mahasiswa.

  • Gangguan Konsentrasi: Sulit menyerap materi pelajaran baru.
  • Penurunan Daya Ingat: Hambatan dalam menyimpan informasi jangka pendek.
  • Krisis Kepercayaan Diri: Kegagalan akademik akibat gangguan kognitif sering kali memperburuk kondisi mental anak muda.

Ancaman Terhadap Bonus Demografi Indonesia

Data menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: prevalensi anemia di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan menyentuh angka hampir 50 persen pada ibu hamil. Angka ini telah melewati ambang batas masalah kesehatan masyarakat yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga

Waspada! Inilah ‘Pencuri’ Kecerdasan Anak yang Sering Luput dari Perhatian Orang Tua

Waspada! Inilah ‘Pencuri’ Kecerdasan Anak yang Sering Luput dari Perhatian Orang Tua

Dr. Ray menekankan bahwa jika masalah ini dibiarkan, Indonesia terancam gagal memanfaatkan bonus demografi. Anak muda yang seharusnya menjadi motor penggerak bangsa justru terhambat oleh masalah kesehatan kognitif dan mental yang sebenarnya bisa dicegah.

“Working memory adalah modal penting untuk prestasi akademik dan kualitas SDM. Jika anemia dibiarkan, dampaknya bisa panjang, mulai dari penurunan kemampuan belajar hingga gangguan mental yang menghambat produktivitas nasional,” pungkasnya. Masalah anemia, dengan demikian, bukan lagi sekadar urusan medis individu, melainkan isu strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan ekonomi dan masa depan bangsa.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *