Polemik Bayi Nyaris Tertukar di RSHS: Antara Klaim Damai Pihak RS dan Ancaman Pidana Keluarga Korban
MenitIni — Sebuah insiden yang menggetarkan hati terjadi di lorong-lorong Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, memicu gelombang tanya mengenai standar keamanan pasien di salah satu fasilitas medis terbesar di Jawa Barat tersebut. Kasus nyaris tertukarnya seorang bayi milik pasien bernama Nina Saleha di ruang Neonatal High Care Unit (NHCU) pada 8 April 2026 lalu, kini berkembang menjadi polemik antara klaim penyelesaian damai dari pihak rumah sakit dan ancaman langkah hukum dari keluarga korban.
Direktur Utama RSHS, dr. Rachim Dinata Marsidi, SpB, mencoba mendinginkan suasana dengan menyatakan bahwa persoalan ini telah tuntas melalui jalur kekeluargaan. Menurut Rachim, pihak manajemen telah bergerak cepat melakukan klarifikasi dan koordinasi dengan Nina Saleha sehari setelah kejadian atau pada 9 April 2026. Ia mengklaim bahwa perawat yang bertugas telah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul akibat pelayanan kesehatan yang dianggap bermasalah tersebut.
Menjaga Masa Depan Si Kecil: Mengapa Vaksin Campak Menjadi Perlindungan Mutlak yang Tak Boleh Diabaikan
Sanksi Penonaktifan dan Laporan ke Kemenkes
Menanggapi serius dugaan kelalaian ini, Rachim menegaskan bahwa petugas medis yang terlibat telah dibebastugaskan dari layanan kesehatan. Langkah ini diambil sebagai bagian dari proses evaluasi internal yang ketat. “Kami telah menonaktifkan yang bersangkutan dan melaporkan insiden ini kepada Kementerian Kesehatan serta instansi terkait lainnya,” ujar Rachim dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa RSHS Bandung sangat terbuka terhadap kritik dan masukan demi menjaga kualitas pelayanan yang aman bagi masyarakat.
Versi Keluarga: Belum Ada Kata Damai
Namun, suasana tenang yang digambarkan manajemen rumah sakit seolah berbanding terbalik dengan pernyataan pihak keluarga. Krisna Murti, selaku kuasa hukum Nina Saleha, dengan tegas membantah adanya kesepakatan damai yang telah final. Meski mengapresiasi permohonan maaf dari pihak rumah sakit, Krisna menekankan bahwa tindakan tersebut tidak serta-merta menghapus dugaan pelanggaran hukum atau tindak pidana yang terjadi.
Skandal FH UI: Komnas Perempuan Desak Kasus Pelecehan Dibawa ke Jalur Pidana, Bukan Sekadar Etik
“Permintaan maaf adalah bentuk kooperatif, tapi unsur pidana tetap berdiri sendiri. Jika nantinya ditemukan bukti kuat adanya maladministrasi atau kelalaian dalam tata laksana pasien, maka proses hukum harus tetap berjalan,” tegas Krisna. Pihaknya merasa heran dengan rilis pers RSHS yang mengklaim telah terjadi perdamaian, sementara kliennya merasa hanya menjawab pertanyaan normatif saat dikunjungi perwakilan rumah sakit.
Kronologi Mencekam: Ranjang Bayi yang Kosong
Menceritakan kembali peristiwa tersebut, Krisna menggambarkan situasi yang nyaris menjadi mimpi buruk bagi kliennya. Saat itu, Nina Saleha tengah menunggu panggilan untuk membawa pulang bayinya yang telah selesai menjalani perawatan. Karena merasa terlalu lama menunggu tanpa kepastian, Nina berinisiatif mendatangi ruang perawatan. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati ranjang anaknya dalam kondisi kosong melongpong.
Bukan Sekadar Grafik, Memahami Kurva Pertumbuhan Sebagai Kunci Deteksi Dini Kesehatan Anak
Pencarian singkat itu berujung pada pemandangan yang mencurigakan: bayinya tengah digendong oleh sepasang pria dan wanita asing yang mengenakan masker. Beruntung, Nina mengenali selimut bayi miliknya. Setelah ditegur, bayi tersebut akhirnya dikembalikan, namun yang membuat keluarga geram adalah respons petugas keamanan rumah sakit yang dianggap justru mengintimidasi Nina, bukannya mengejar pasangan misterius tersebut.
Tuntutan Buka CCTV dan Tes DNA
Keluarga korban kini menuntut transparansi penuh, termasuk permintaan untuk membuka rekaman kamera pengawas (CCTV) guna mengidentifikasi siapa pasangan yang mencoba membawa bayi tersebut. Ada kekhawatiran mendalam mengenai adanya dugaan penculikan bayi atau praktik ilegal lainnya yang dilakukan secara terencana.
“Kami ingin tahu siapa orang itu. Jika pihak rumah sakit tidak kooperatif, kami akan membawa masalah ini ke ranah hukum agar kepolisian bisa turun tangan mengejar pelaku dan mengungkap motif di baliknya,” tambah Krisna. Selain CCTV, keluarga juga berencana melakukan tes DNA untuk memastikan bayi yang kini berada di tangan mereka benar-benar anak kandung Nina, mengingat kasus hukum ini telah menimbulkan trauma psikologis yang mendalam bagi sang ibu.