Bukan Sekadar ‘Bercanda’, Ini Dampak Fatal Pelecehan Verbal di Grup Chat bagi Mental

Siska Wijaya | Menit Ini
15 Apr 2026, 06:21 WIB
Bukan Sekadar 'Bercanda', Ini Dampak Fatal Pelecehan Verbal di Grup Chat bagi Mental

MenitIni Di balik riuhnya deretan notifikasi grup WhatsApp yang tak pernah berhenti, sering kali terselip kata-kata tajam yang dibungkus rapi dengan dalih “hanya bercanda.” Namun, bagi mereka yang menjadi sasaran, tawa tersebut bisa berubah menjadi beban psikis yang menghimpit. Fenomena pelecehan verbal di ruang digital ini sering dianggap remeh, padahal dampaknya terhadap kesehatan mental tidak main-main.

Sinyal Bahaya di Balik Layar Ponsel

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, seorang peneliti sekaligus pendiri Health Collaborative Centre (HCC) Indonesia, memberikan peringatan keras terhadap normalisasi candaan yang merendahkan. Menurutnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa komentar mengenai fisik (body shaming) atau sindiran bernuansa seksual merupakan bentuk nyata dari pelecehan verbal.

Baca Juga

Perisai bagi Garda Terdepan, Imunisasi Campak Massal untuk Ratusan Ribu Nakes Resmi Dimulai

Perisai bagi Garda Terdepan, Imunisasi Campak Massal untuk Ratusan Ribu Nakes Resmi Dimulai

“Candaan yang sifatnya menjatuhkan, meskipun dilakukan di suasana santai, tetaplah sebuah pelecehan. Dampaknya sangat nyata dan bisa merusak mental seseorang secara perlahan,” ungkap Dr. Ray melalui platform edukasi kesehatan miliknya.

Sains Menjelaskan: Otak Menganggap Ejekan Sebagai ‘Ancaman’

Mengapa kata-kata di layar bisa sangat menyakitkan? Secara biologis, otak manusia ternyata tidak memiliki filter otomatis untuk membedakan mana candaan murni dan mana ancaman sosial yang nyata. Ketika seseorang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di grup chat, tubuh akan bereaksi dengan cara yang sama seperti saat menghadapi bahaya.

Kondisi ini memicu lonjakan hormon kortisol atau hormon stres. Akibatnya, korban akan merasakan kecemasan, rasa malu yang mendalam, hingga ketidaknyamanan yang terus menghantui. Dr. Ray, yang juga aktif di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menyebut fenomena ini sebagai social threat atau ancaman sosial yang diproses secara biologis oleh otak.

Baca Juga

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Dampak Psikologis yang Menghantui Korban

Pelecehan yang terjadi secara berulang dalam lingkungan sosial digital dapat memicu berbagai gangguan psikologis, di antaranya:

  • Overthinking Akut: Terus-menerus memikirkan isi percakapan dan mencari kesalahan diri sendiri.
  • Anxiety: Munculnya rasa cemas yang luar biasa setiap kali ingin membuka aplikasi pesan singkat.
  • Krisis Kepercayaan Diri: Merasa rendah diri akibat komentar negatif yang dianggap lucu oleh orang lain.
  • Burnout Sosial: Kelelahan emosional yang membuat seseorang malas berinteraksi dengan dunia luar.

Ironisnya, banyak korban yang terpaksa ikut tertawa atau mengirimkan emoji tawa hanya agar tidak dicap sebagai orang yang “baperan” atau terlalu sensitif. Padahal, tindakan menyembunyikan luka ini justru memperparah tekanan mental yang dirasakan.

Baca Juga

Tetap Aktif Tanpa Drama Asam Lambung: 6 Rekomendasi Olahraga Aman bagi Pasien GERD

Tetap Aktif Tanpa Drama Asam Lambung: 6 Rekomendasi Olahraga Aman bagi Pasien GERD

Mengenali Tanda-Tanda Terkena Dampak

Jika Anda mulai merasakan hal-hal berikut, bisa jadi Anda sedang terdampak oleh lingkungan grup chat yang toksik:

  • Jantung berdebar setiap kali muncul notifikasi grup tertentu.
  • Membaca ulang pesan berkali-kali untuk mencari maksud tersembunyi.
  • Merasa tersindir meskipun pembicaraan tidak secara langsung menyebut nama Anda.
  • Mulai menarik diri dari percakapan atau sengaja menghindari interaksi.

Langkah Melindungi Diri dari Toksisitas Digital

Menjaga kesehatan jiwa adalah prioritas utama. Untuk menghadapi situasi pelecehan verbal ini, beberapa langkah tegas perlu diambil:

  1. Gunakan Fitur Mute: Senyapkan atau arsipkan grup yang membuat Anda merasa tidak nyaman secara emosional.
  2. Selektif Merespons: Anda tidak berkewajiban menanggapi setiap lelucon yang bersifat merendahkan.
  3. Berani Bicara: Sampaikan secara sopan namun tegas jika ada ucapan yang sudah melewati batas.
  4. Keluar dari Grup: Jika situasi tidak kunjung membaik, keluar dari lingkungan yang toksik adalah bentuk self-care yang paling nyata.
  5. Cari Support System: Fokuslah pada lingkaran pertemanan yang saling menghargai dan memberi energi positif.

Dr. Ray menegaskan bahwa menetapkan batasan bukanlah tanda kelemahan atau sikap egois. Sebaliknya, itu adalah langkah krusial untuk memastikan kesehatan mental tetap terjaga di tengah gempuran budaya digital yang terkadang kebablasan.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *