Bukan Sekadar Tren, WFH Jumat Jadi Kunci Langit Biru dan Kesehatan Mental Pekerja
MenitIni — Kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) yang kini mulai rutin diterapkan setiap hari Jumat bagi sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN), nyatanya membawa angin segar yang melampaui sekadar fleksibilitas kerja. Fenomena ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus menjaga kesehatan fisik dan mental para pekerja di tengah hiruk-pikuk mobilisasi perkotaan yang melelahkan.
Menekan Polusi dan Menyehatkan Planet
Pakar kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa kebijakan WFH satu hari dalam seminggu memiliki dampak signifikan terhadap penurunan paparan polusi udara, khususnya partikel berbahaya seperti PM2.5 dan NO2. Menurutnya, sumber utama polusi di kota-kota besar berasal dari tingginya mobilisasi kendaraan bermotor dan kemacetan yang kronis.
Kenali Nutri Level: Panduan Warna dan Alfabet dari BPOM untuk Pola Hidup Lebih Sehat
“Ada temuan yang menunjukkan manfaat kesehatan fisik dan lingkungan karena WFH mampu menurunkan paparan polusi udara. Secara otomatis, risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan seperti asma juga ikut menurun,” ujar Dicky saat dihubungi oleh tim redaksi kami. Ia juga menambahkan bahwa langkah ini berkontribusi pada planetary health atau kesehatan planet, di mana emisi karbon dari transportasi berkurang secara drastis, mirip dengan fenomena langit jernih yang sempat terjadi di New Delhi saat pandemi melanda.
Benteng Pertahanan Terhadap Penyakit Menular
Selain aspek lingkungan, Dicky menekankan bahwa kebijakan WFH sangat efektif dalam memutus rantai penularan penyakit menular. Belajar dari masa pandemi, pengurangan interaksi fisik di transportasi umum dan ruang kantor terbukti ampuh menekan transmisi virus pernapasan seperti COVID-19 dan influenza.
Strategi Global dan 7 Pilar UHC: Catatan Penting Prof Tjandra Yoga Aditama untuk Masa Depan BPJS Kesehatan
Namun, ia memberikan catatan bahwa efektivitas ini sangat bergantung pada bagaimana desain kebijakan tersebut dijalankan dan kondisi masing-masing individu. WFH memberikan ruang bagi mereka yang memiliki kondisi kronis, seperti diabetes atau hipertensi, untuk lebih disiplin dalam mengelola pola hidup sehat dan menjalani terapi secara rutin tanpa terdistraksi jadwal kantor yang kaku.
Kesehatan Mental dan Work-Life Balance
Dari sisi psikologis, bekerja di rumah pada hari Jumat dianggap mampu meredam tingkat stres akibat perjalanan jauh. Seringkali, tekanan kerja bertambah berat karena individu harus berdesak-desakan di pagi hari. Dengan adanya fleksibilitas waktu, pekerja memiliki kesempatan untuk meraih work life balance yang lebih baik.
Seni Menjaga Ketenangan: 12 Strategi Ampuh Mengendalikan Emosi untuk Hidup Lebih Berkualitas
Studi meta-analisis terbaru pada tahun 2023 dan 2024 bahkan mengonfirmasi bahwa WFH dapat menurunkan risiko burnout atau kelelahan kerja pada tingkat ringan hingga sedang. Hal ini secara tidak langsung juga memicu produktivitas berbasis kesehatan yang lebih berkelanjutan.
WFH Bukan Berarti Hari Libur
Di sisi lain, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa WFH bukan berarti menghentikan seluruh aktivitas pelayanan publik. Sektor-sektor krusial seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik tetap beroperasi penuh demi melayani masyarakat.
“Rumah sakit dan puskesmas tidak boleh tutup pada hari Jumat. Pelayanan publik harus tetap berjalan, namun untuk kegiatan administrasi perkantoran bisa dilakukan secara jarak jauh,” jelas Dante saat melakukan kunjungan ke RS Fatmawati. Ia menekankan bahwa esensi dari bekerja dari rumah adalah memindahkan lokasi kerja tanpa mengurangi tanggung jawab profesional. Rapat koordinasi dan evaluasi program kesehatan tetap berlangsung melalui platform digital, memastikan roda birokrasi tetap berputar meski tidak bertatap muka langsung.