Dilema Work From Home: Studi 14 Tahun Ungkap Mengapa WFH Tidak Selalu Manis bagi Kesehatan Mental
MenitIni — Bekerja dari rumah atau yang populer dengan istilah work from home (WFH) sering kali digambarkan sebagai solusi jitu untuk mencapai keseimbangan hidup. Bayangan bekerja tanpa kemacetan dan fleksibilitas waktu memang menggoda. Namun, sebuah riset mendalam justru menyingkap fakta yang lebih kompleks: WFH adalah pedang bermata dua, terutama bagi mereka yang menyandang status sebagai perempuan profesional.
Menyitir hasil penelitian dari King’s Business School yang dimuat dalam Journal of Health and Social Behavior, fenomena ini tidak sesederhana yang terlihat di permukaan. Melalui analisis panjang selama 14 tahun—dari 2009 hingga 2023—terhadap hampir 40.000 pekerja di Inggris, terungkap bahwa dampak bekerja jarak jauh sangat dipengaruhi oleh gender, jenis industri, hingga budaya di lingkungan kerja itu sendiri.
Butuh Dana Darurat? Simak Panduan Lengkap Mencairkan Manfaat Asuransi Sebelum Jatuh Tempo
Stigma Fleksibilitas dan Beban Ganda
Sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia, WFH sebenarnya memberikan napas lega bagi kesehatan mental pria. Namun, kondisi kontras justru dialami oleh perempuan di level profesional. Constance Beaufils, salah satu peneliti utama dalam studi ini, menjelaskan bahwa bagi banyak perempuan, rumah bukan sekadar kantor kedua, melainkan medan tempur baru.
“Selama bertahun-tahun, kita menganggap WFH sebagai kunci kesejahteraan. Namun, data kami menunjukkan kenyataan pahit bagi sebagian orang. Perempuan profesional sering kali terperosok dalam beban kerja penuh waktu yang berbenturan langsung dengan tanggung jawab domestik dan pengasuhan anak secara bersamaan,” ungkap Beaufils. Kondisi ini diperparah dengan adanya ‘stigma fleksibilitas’, di mana para pekerja merasa harus membuktikan loyalitas mereka dengan bekerja lebih keras atau selalu siap sedia di depan layar demi menghapus persepsi bahwa mereka ‘bersantai’ di rumah.
Lonjakan Kasus Campak di Indonesia: Ancaman Nyata dari ‘Amnesia Imun’ hingga Risiko Kematian pada Dewasa
Perbedaan Dampak Berdasarkan Status Ekonomi
Menariknya, studi ini menemukan bahwa kesehatan mental tidak merosot di semua lini. Bagi perempuan dengan penghasilan yang lebih rendah, WFH justru menjadi penyelamat. Fleksibilitas yang ditawarkan membantu mereka mengelola jadwal yang sebelumnya sangat kaku, sehingga tekanan psikologis akibat beban kerja yang terbatas kontrolnya dapat tereduksi secara signifikan.
Bagi kelompok ini, kemampuan untuk mengatur waktu di sela-sela pekerjaan menjadi kemewahan yang memberikan dampak positif pada stabilitas emosional mereka.
Pergeseran Budaya Pasca-Pandemi
Titik balik terjadi ketika dunia dipaksa beradaptasi dengan pandemi. Saat WFH menjadi standar baru yang diterima secara massal, narasi mulai berubah. Budaya kerja yang dulunya penuh prasangka terhadap pekerja jarak jauh mulai melunak. Heejung Chung, Direktur Global Institute for Women’s Leadership, menyoroti bahwa perubahan paling signifikan bukan terletak pada kebijakannya, melainkan pada penerimaan sosialnya.
Garda Terdepan Lebih Aman: Wamenkes Dante Pastikan Dokter Magang Segera Terima Vaksinasi Campak
“Setelah pandemi, stigma itu luntur. Perempuan profesional tidak lagi merasa harus melakukan kompensasi berlebihan untuk membuktikan dedikasi mereka,” jelas Chung. Di saat yang sama, keterlibatan pria dalam urusan rumah tangga mulai meningkat, yang secara tidak langsung menyeimbangkan beban domestik, meski hal ini juga membuat manfaat kesehatan mental yang sebelumnya dinikmati pria menjadi sedikit berkurang.
Pada akhirnya, laporan MenitIni menegaskan bahwa WFH bukanlah obat ajaib bagi semua masalah produktivitas. Efektivitasnya sangat bergantung pada sistem pendukung, baik dari manajemen perusahaan maupun pembagian peran yang adil di dalam rumah tangga. Tanpa batasan yang jelas antara ruang kerja dan ruang pribadi, kenyamanan rumah justru bisa berubah menjadi sumber kelelahan baru.