Mengenal Sejarah Gaun Babydoll: Dari Simbol Pemberontakan hingga Kontroversi Olivia Rodrigo

Rendi Saputra | Menit Ini
17 Mei 2026, 04:52 WIB
Mengenal Sejarah Gaun Babydoll: Dari Simbol Pemberontakan hingga Kontroversi Olivia Rodrigo

MenitIni — Panggung hiburan dunia kembali diguncang oleh perdebatan sengit mengenai etika dan estetika busana perempuan. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada sosok penyanyi muda berbakat, Olivia Rodrigo. Di tengah euforia tur promosi EP terbarunya yang bertajuk You Seem Pretty Sad for a Girl So In Love, Olivia justru terperangkap dalam pusaran kritik akibat pilihannya mengenakan gaun babydoll yang kental dengan nuansa retro era 1960-an.

Fenomena ini bukan sekadar perbincangan tentang sehelai kain, melainkan sebuah narasi panjang tentang bagaimana sejarah fashion sering kali berulang dan disalahpahami oleh generasi yang berbeda. Gaun babydoll yang dikenakan Olivia dianggap oleh sebagian kalangan sebagai citra yang terlalu kekanak-kanakan, namun bagi sang artis, busana tersebut adalah sebuah tribut bagi para pionir musik rock perempuan yang ia kagumi.

Baca Juga

Miley Cyrus Abadikan Jejak di Hollywood Walk of Fame: Pesona Gaun Vintage Versace dan Perjalanan Menuju Legenda

Miley Cyrus Abadikan Jejak di Hollywood Walk of Fame: Pesona Gaun Vintage Versace dan Perjalanan Menuju Legenda

Kontroversi di Balik Siluet yang Playful

Ketegangan bermula saat Olivia merilis video musik untuk lagu terbarunya, “Drop Dead”. Dalam visual yang memukau tersebut, ia tampil anggun sekaligus misterius dalam balutan gaun tidur biru berenda rancangan rumah mode kenamaan, Chloe. Latar lorong bercermin ala Versailles memberikan kesan glamor pertengahan abad ke-20 yang sangat kuat, mengingatkan penonton pada estetika klasik film Valley of the Dolls.

Tak berhenti di situ, pada sampul albumnya, Olivia memilih gaun merah muda dengan kerah Peter Pan yang manis. Puncaknya, saat tampil di Barcelona pada 8 Mei 2026, ia kembali mengenakan gaun babydoll bermotif bunga retro yang memicu perdebatan di platform media sosial seperti X dan Threads. Banyak pengguna internet yang menuduh gaya ini memberikan pesan yang kontradiktif antara kedewasaan dan citra anak-anak.

Baca Juga

Rahasia Membuat Kue Bugis Tanpa Cetakan: Tekstur Kenyal nan Legit yang Menggoda Selera

Rahasia Membuat Kue Bugis Tanpa Cetakan: Tekstur Kenyal nan Legit yang Menggoda Selera

Namun, jika kita menelaah lebih dalam, pilihan gaya busana Olivia sebenarnya merupakan bentuk apresiasi terhadap sejarah. Kepada Vogue, ia mengungkapkan bahwa inspirasinya datang dari gerakan riot grrrl. “Saya melihat foto-foto Courtney Love dan Kat Bjelland. Mereka mengenakan gaun babydoll dengan penuh percaya diri di atas panggung punk, dan itu terlihat sangat berdaya,” ungkap Olivia.

Lahir dari Keterbatasan Perang Dunia II

Untuk memahami mengapa gaun babydoll begitu ikonik, kita harus memutar waktu kembali ke tahun 1942. Di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, kebutuhan akan efisiensi bahan menjadi prioritas utama. Di sinilah Sylvia Pedlar, seorang desainer pakaian dalam yang visioner, menciptakan terobosan. Akibat kebijakan penjatahan kain (L-85), ia harus mencari cara agar tetap bisa menciptakan pakaian yang fungsional namun tetap cantik.

Baca Juga

Rahasia Membuat Tempe Homemade yang Padat dan Higienis: Panduan Praktis Anti-Gagal

Rahasia Membuat Tempe Homemade yang Padat dan Higienis: Panduan Praktis Anti-Gagal

Pedlar memutuskan untuk memotong panjang gaun tidur tradisional hingga sebatas lutut atau lebih pendek. Hasilnya adalah sebuah siluet yang longgar, ringan, dan sangat praktis untuk digunakan sehari-hari. Meski kini kita mengenalnya dengan sebutan babydoll dress, konon Pedlar sendiri sebenarnya tidak terlalu menyukai istilah tersebut. Namun, sejarah berkata lain; nama itu abadi dan menjadi bagian dari koleksi prestisius The Metropolitan Museum of Art (The Met).

Era perang memaksa inovasi, dan babydoll adalah anak kandung dari kreativitas di masa sulit. Siluet empire waist yang menjadi ciri khasnya memberikan keleluasaan bergerak bagi perempuan, sebuah elemen yang jarang ditemukan pada busana perempuan di era-era sebelumnya yang cenderung mengekang tubuh dengan korset atau potongan yang sangat ketat.

Baca Juga

Mengapa Label ‘Makanan Sehat’ Justru Bisa Menggagalkan Diet Anda? Simak Penjelasan Ilmiahnya

Mengapa Label ‘Makanan Sehat’ Justru Bisa Menggagalkan Diet Anda? Simak Penjelasan Ilmiahnya

Pengaruh Layar Lebar dan Budaya Pop

Istilah “babydoll” benar-benar meledak di tengah masyarakat pada tahun 1956. Hal ini dipicu oleh penayangan film kontroversial karya Tennessee Williams berjudul Baby Doll. Aktris Carroll Baker, yang memerankan karakter utama bernama Baby Doll Meighan, tampil sangat ikonik dengan gaun tidur pendek yang feminin namun menyiratkan kesan provokatif pada zamannya.

Film ini tidak hanya sukses secara sinematik, tetapi juga berhasil menggeser persepsi publik tentang pakaian tidur. Gaun yang semula hanya digunakan di dalam kamar, perlahan mulai bertransformasi menjadi inspirasi busana luar ruangan. Industri fashion melihat potensi besar dalam siluet yang mengembang dan manis ini, menjadikannya tren yang digemari oleh perempuan muda di seluruh dunia.

Baca Juga

Rahasia di Balik Kemewahan Hanbok ‘Perfect Crown’: Bagaimana Cho Sang-kyung Menghidupkan Karakter IU dan Byeon Woo-seok Melalui Benang

Rahasia di Balik Kemewahan Hanbok ‘Perfect Crown’: Bagaimana Cho Sang-kyung Menghidupkan Karakter IU dan Byeon Woo-seok Melalui Benang

Memasuki era 1960-an, gaun babydoll menemukan wajah barunya melalui gerakan Swinging London. Desainer ternama Mary Quant mengambil siluet ini dan menggabungkannya dengan semangat kebebasan kaum muda saat itu. Dengan potongan yang lebih berani dan motif yang lebih eksperimental, babydoll menjadi simbol pemberontakan terhadap norma-norma berpakaian generasi tua yang kaku.

Revolusi Grunge dan Kembalinya Sang Ikon

Estetika babydoll mengalami metamorfosis paling radikal pada dekade 1990-an. Melalui gerakan musik grunge, gaun yang biasanya terlihat manis dan lugu diubah menjadi simbol perlawanan. Courtney Love, vokalis band Hole, sering tampil dengan gaun babydoll yang robek, dipadukan dengan sepatu bot militer dan riasan wajah yang berantakan.

Gaya ini dikenal sebagai Kinderwhore, sebuah kritik tajam terhadap ekspektasi masyarakat terhadap feminitas perempuan yang harus selalu tampil sempurna dan “cantik”. Dengan mengenakan pakaian yang tampak kekanak-kanakan secara ironis, para musisi ini justru menunjukkan kekuatan dan kemandirian mereka. Inilah akar budaya yang coba dihidupkan kembali oleh Olivia Rodrigo dalam tur terbarunya.

Selain aspek estetikanya, gaun babydoll juga memiliki kaitan sejarah dengan celana pendek longgar atau bloomers. Di masa gerakan suffragette, penggunaan pakaian yang lebih longgar dianggap sebagai langkah maju bagi kebebasan fisik perempuan. Pakaian yang praktis memungkinkan perempuan untuk aktif bergerak di ruang publik, sebuah hak yang diperjuangkan dengan sangat keras di masa lalu.

Mengapa Babydoll Tetap Relevan?

Melihat perjalanan panjangnya, jelas bahwa gaun babydoll bukan sekadar tren musiman. Keberadaannya melintasi berbagai dekade menunjukkan fleksibilitasnya dalam beradaptasi dengan semangat zaman. Dari kebutuhan praktis di masa perang, simbol kebebasan di era 60-an, hingga alat protes di era grunge, babydoll tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tampil beda.

Kontroversi yang menimpa Olivia Rodrigo membuktikan bahwa busana masih memiliki kekuatan besar untuk memancing diskusi publik. Di satu sisi, ada kekhawatiran tentang seksualisasi atau infantilisasi, namun di sisi lain, ada keinginan kuat untuk merebut kembali narasi feminitas. Sejarah mode mengajarkan kita bahwa apa yang kita pakai sering kali merupakan refleksi dari siapa kita dan apa yang ingin kita sampaikan kepada dunia.

Bagi Olivia, mengenakan gaun babydoll adalah caranya menghormati para pendahulunya di dunia musik sekaligus mengekspresikan diri secara artistik. Di tengah arus fashion cepat (fast fashion) yang sering kali melupakan akar sejarah, langkah Olivia untuk menggali kembali arsip-arsip mode masa lalu patut diapresiasi sebagai upaya menjaga kesinambungan budaya.

Pada akhirnya, gaun babydoll akan terus ada, mungkin dengan nama yang berbeda atau detail yang diperbarui. Namun, esensinya sebagai busana yang menawarkan kenyamanan sekaligus pernyataan gaya akan selalu menemukan tempatnya di lemari pakaian setiap generasi. Perdebatan mungkin tidak akan pernah usai, tetapi itulah yang membuat fashion tetap hidup dan menarik untuk terus diikuti.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *