Menelusuri Jejak Rasa Eropa: 15 Makanan Indonesia yang Terpengaruh Kuliner Portugis
MenitIni — Sejarah Nusantara bukan sekadar catatan tentang perebutan wilayah dan rempah-rempah, melainkan juga sebuah narasi panjang tentang pertemuan budaya yang tertuang di atas piring. Sebelum bangsa-bangsa Eropa lainnya menjejakkan kaki di tanah air, bangsa Portugis telah lebih dulu tiba di Maluku pada awal abad ke-16. Kedatangan mereka tidak hanya mengubah peta perdagangan dunia, tetapi juga mewariskan DNA kuliner yang hingga kini tetap eksis dalam hidangan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Siapa sangka, kudapan yang sering kita santap saat sore hari atau hidangan sayur yang menjadi menu makan siang favorit ternyata memiliki akar sejarah yang membentang hingga ke daratan Eropa. Berikut adalah ulasan mendalam MenitIni mengenai 15 makanan Indonesia yang mendapat pengaruh kuat dari tradisi kuliner Portugis.
Jelajah Rasa di Pecinan Semarang: 9 Rekomendasi Kuliner Legendaris yang Tetap Hits di 2026
1. Gado-gado: Akulturasi dalam Semangkuk Sayur
Banyak yang mengenal gado-gado sebagai salad khas Indonesia. Namun, penelusuran sejarah menunjukkan bahwa nama ‘gado-gado’ sendiri diyakini diserap dari bahasa Portugis yang berarti ‘campur-campur’. Konsep menyajikan berbagai jenis sayuran dengan siraman saus atau dressing adalah ide yang dibawa oleh bangsa Portugis ke Nusantara.
Tak hanya teknik penyajiannya, bahan utama sausnya yakni kacang tanah juga diperkenalkan oleh penjelajah Portugis dan Spanyol dari Benua Amerika ke Asia. Tanpa pengaruh ini, mungkin kita tidak akan mengenal kelezatan saus kacang yang menjadi identitas banyak makanan tradisional kita.
2. Olahan Ikan Khas Maluku (Petisie)
Di wilayah Timur Indonesia, khususnya Maluku, pengaruh Portugis sangat kental terasa pada cara mereka mengolah hasil laut. Salah satu teknik yang diwariskan adalah memasak ikan dengan perasan jeruk dan bumbu segar, yang sangat mirip dengan hidangan petisie asal Portugis. Rasa asam yang segar berfungsi menghilangkan aroma amis sekaligus memberikan dimensi rasa yang unik pada daging ikan.
Drama Cuaca Buruk di Angkasa: Pesawat Singapore Airlines Rute Guangzhou Terpaksa Dialihkan ke Batam
3. Acar: Teknik Pengawetan dengan Cuka
Sebelum teknologi pendingin ditemukan, bangsa Portugis menggunakan cuka sebagai bahan utama untuk mengawetkan makanan agar tahan selama perjalanan jauh di laut. Teknik ini kemudian diadopsi oleh masyarakat lokal untuk mengolah sayuran seperti timun, wortel, dan bawang merah menjadi acar. Kehadiran acar kini menjadi pelengkap wajib bagi hidangan berat seperti sate atau nasi goreng.
4. Kue Bolu (Bolo)
Istilah ‘bolu’ yang kita gunakan sehari-hari sebenarnya berasal dari kata ‘bolo’ dalam bahasa Portugis yang berarti kue secara umum. Bangsa Portugis memperkenalkan teknik pembuatan kue menggunakan telur dalam jumlah banyak dan mentega, menciptakan tekstur yang empuk dan ringan yang sebelumnya tidak umum dalam tradisi kudapan Nusantara yang lebih banyak menggunakan tepung beras dan santan.
Rahasia Resep Bacem Tahu Tempe Tanpa Digoreng: Lezat, Sehat, dan Praktis untuk Jamuan Keluarga
5. Pastel: Gorengan dengan Sentuhan Eropa
Pastel adalah salah satu camilan paling populer di Indonesia. Bentuknya yang setengah lingkaran dengan pinggiran yang dipilin adalah ciri khas yang diturunkan dari pastry khas Portugis. Isiannya yang berupa sayuran, bihun, dan telur merupakan bentuk adaptasi lokal dari isian daging yang lazim ditemukan di versi aslinya di Eropa.
6. Panada: Warisan Empanada di Manado
Jika Anda berkunjung ke Manado, Panada adalah menu wajib. Hidangan ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan empanada, gorengan berisi dari Semenanjung Iberia. Perbedaan utama terletak pada isiannya; jika di Portugis menggunakan daging, di Manado isiannya dimodifikasi dengan ikan cakalang pedas yang sesuai dengan lidah lokal.
Thailand Membara: Gelombang Panas Ekstrem Tembus 42 Derajat Celcius, Wisatawan Diminta Waspada
7. Risoles
Meskipun sering dikaitkan dengan pengaruh Belanda, risoles sebenarnya memiliki sejarah yang lebih tua yang berkaitan dengan teknik pastry yang dibawa oleh bangsa Portugis ke Asia Tenggara. Kulit dadar tipis yang diisi dan dilapisi tepung panir kemudian digoreng ini menjadi bukti bagaimana teknik memasak Eropa menyatu dengan selera masyarakat kita.
8. Srikaya: Buah dari Benua Amerika
Selai srikaya yang sering kita oleskan pada roti atau dijadikan isian bakpao ternyata berasal dari buah yang dibawa oleh bangsa Portugis dari Amerika Tropis ke Indonesia. MenitIni mencatat bahwa pengolahan buah ini menjadi tekstur seperti krim atau selai manis adalah salah satu bentuk inovasi kuliner yang terinspirasi dari cara orang Eropa mengolah buah menjadi custard.
Kreasi Mie Goreng Tanpa Minyak: Rahasia Diet Lezat yang Tetap Bikin Kenyang
9. Klappertaart: Sentuhan Kolonial di Manado
Meskipun Klappertaart sering dianggap sebagai warisan Belanda, akarnya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh teknik pembuatan pudding panggang Eropa yang dibawa lebih awal. Perpaduan daging kelapa muda, susu, mentega, dan kismis menciptakan hidangan penutup mewah yang mencerminkan gaya hidup kaum kolonial pada masa itu.
10. Kue Cucur
Mungkin terdengar mengejutkan, namun beberapa ahli kuliner menyebutkan bahwa kue cucur memiliki kemiripan dengan filhós, kudapan manis dari Portugis yang dibuat dari adonan tepung yang digoreng. Meski di Indonesia menggunakan gula merah, esensi dari teknik menggoreng adonan hingga membentuk pinggiran yang renyah memiliki kemiripan struktural yang kuat.
11. Selat Solo: Bistik Gaya Nusantara
Selat Solo adalah contoh nyata bagaimana ‘Salad’ dan ‘Bistik’ Eropa berakulturasi dengan bumbu Jawa. Penggunaan saus yang encer namun kaya rempah, serta penyajian sayuran rebus dan telur, merupakan adaptasi dari gaya makan formal bangsa Eropa termasuk Portugis dan Belanda yang kemudian disesuaikan dengan selera keraton.
12. Bika Ambon
Meskipun namanya ‘Ambon’, kue ini sangat populer di Medan. Sejarah mencatat bahwa teknik fermentasi adonan untuk menghasilkan rongga-rongga pada kue dipengaruhi oleh teknik pembuatan kue spons Eropa. Penggunaan nira atau tuak sebagai pengembang awal adalah bentuk kearifan lokal dalam meniru ragi yang digunakan orang Portugis.
13. Lapis Legit
Lapis legit atau spekkoek memang berkembang pesat pada masa kolonial Belanda, namun teknik melapis kue ini awalnya terinspirasi dari kue-kue berlapis Eropa yang dibawa oleh para pendahulu mereka, termasuk bangsa Portugis. Penggunaan rempah seperti kayu manis dan cengkeh di dalam kue adalah jembatan antara kekayaan alam Nusantara dan teknik patiseri Barat.
14. Puding Susu
Konsep hidangan penutup yang menggunakan susu dan telur sebagai bahan utama (custard) diperkenalkan oleh bangsa Eropa. Sebelum kedatangan mereka, masyarakat Nusantara lebih akrab dengan kudapan berbasis pati dan santan. Puding susu yang lembut kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari resep kue modern di Indonesia.
15. Roti (Pão)
Terakhir dan yang paling fundamental adalah roti. Kata ‘roti’ dalam konteks modern Indonesia sangat dipengaruhi oleh kata ‘pão’ dalam bahasa Portugis. Bangsa Portugis adalah yang pertama memperkenalkan teknik memanggang adonan gandum kepada masyarakat pesisir Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi berbagai variasi roti yang kita kenal sekarang.
Kesimpulan
Jejak kuliner Portugis di Indonesia adalah bukti bahwa makanan adalah bahasa universal yang melampaui batas negara dan waktu. Melalui proses adaptasi dan inovasi, bangsa Indonesia berhasil menyerap pengaruh asing tersebut dan mengubahnya menjadi sesuatu yang benar-benar baru dan khas. Kini, setiap suapan gado-gado atau potongan kue bolu yang kita nikmati bukan sekadar pelepas lapar, melainkan penghormatan terhadap sejarah panjang akulturasi budaya di tanah air.