Rahasia di Balik Kemewahan Hanbok ‘Perfect Crown’: Bagaimana Cho Sang-kyung Menghidupkan Karakter IU dan Byeon Woo-seok Melalui Benang

Rendi Saputra | Menit Ini
01 Mei 2026, 20:52 WIB
Rahasia di Balik Kemewahan Hanbok 'Perfect Crown': Bagaimana Cho Sang-kyung Menghidupkan Karakter IU dan Byeon Woo-seok

MenitIni — Dunia hiburan internasional tengah tertuju pada kemegahan visual dalam serial terbaru, Perfect Crown. Drama yang mempertemukan dua megabintang, IU dan Byeon Woo-seok, ini tidak hanya mencuri perhatian lewat alur ceritanya yang emosional, tetapi juga melalui estetika busana yang memanjakan mata. Di balik deretan hanbok mewah yang dikenakan para bangsawan dalam semesta alternatif Korea tersebut, ada tangan dingin seorang maestro: Cho Sang-kyung.

Bagi penikmat sinema Korea, nama Cho Sang-kyung bukanlah sosok asing. Ia adalah sang alkemis visual yang telah membentuk wajah industri film dan drama selama lebih dari dua dekade. Dari atmosfer kelam nan mencekam dalam mahakarya Park Chan-wook, Oldboy (2003), hingga keanggunan yang menghantui dalam The Handmaiden (2016), hingga fenomena global Squid Game, Cho selalu berhasil menerjemahkan narasi menjadi tekstur kain. Dalam Perfect Crown, ia kembali membuktikan bahwa kostum bukan sekadar pelengkap, melainkan nyawa dari karakter itu sendiri.

Baca Juga

Sepatu Sandal Anak Perempuan Trendy: Panduan Gaya dan Kenyamanan untuk OOTD Si Kecil yang Menggemaskan

Sepatu Sandal Anak Perempuan Trendy: Panduan Gaya dan Kenyamanan untuk OOTD Si Kecil yang Menggemaskan

Reinterpretasi Tradisi dalam Dunia Alternatif

Mengambil latar belakang Korea Selatan yang masih menganut sistem monarki konstitusional, Perfect Crown memberikan ruang kreatif yang luas bagi Cho untuk bereksperimen. Ia tidak hanya mereproduksi sejarah, tetapi juga melakukan reinterpretasi yang berani. Hanbok dalam drama ini tampil sebagai pernyataan mode yang fleksibel, berkelas tinggi, dan sangat relevan dengan selera fashion global saat ini.

Cho Sang-kyung menggabungkan siluet tradisional yang kaku dengan sentuhan kontemporer yang mulus. Ia mengajak penonton untuk melihat hanbok bukan sebagai peninggalan masa lalu yang berdebu di museum, melainkan sebagai karya seni yang memiliki keanggunan abadi. Riset mendalam yang ia lakukan memastikan bahwa setiap helai benang tetap menghormati pakem tradisi, namun tetap mampu melampaui batas-batasnya untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Baca Juga

9 Rekomendasi Tempat Makan Enak Dekat Saloka Theme Park Semarang Tahun 2026: Surga Kuliner Pemuas Lidah

9 Rekomendasi Tempat Makan Enak Dekat Saloka Theme Park Semarang Tahun 2026: Surga Kuliner Pemuas Lidah

Simbolisme di Balik Jubah Pemberontak Pangeran I-an

Salah satu momen paling ikonik dalam drama ini adalah kemunculan perdana Pangeran Agung I-an, yang diperankan oleh aktor yang tengah naik daun, Byeon Woo-seok. Ia tampil mengenakan cheollik atau jubah militer saat menghadiri sebuah jamuan resmi. Dalam kacamata tradisi, pilihan busana ini adalah sebuah anomali. Cho menjelaskan bahwa secara historis, cheollik sering kali digunakan sebagai pakaian dalam di bawah jubah resmi kerajaan.

“Ini adalah pilihan yang sangat disengaja—ada kesan mengancam sekaligus sedikit memberontak. Saya ingin langkah pertama karakter ini menunjukkan sejauh mana ia berani melangkah keluar dari norma. Ini adalah tipe kemunculan yang akan langsung menjadi berita utama keesokan harinya di dunia nyata,” ungkap Cho dalam sebuah wawancara mendalam. Melalui Byeon Woo-seok, Cho berhasil mengomunikasikan karakter pangeran yang tidak mau didikte oleh aturan kolot istana hanya lewat apa yang ia kenakan.

Baca Juga

Resep Kue Talam Takaran Sendok: Rahasia Jajanan Pasar yang Lembut, Praktis, dan Anti Gagal

Resep Kue Talam Takaran Sendok: Rahasia Jajanan Pasar yang Lembut, Praktis, dan Anti Gagal

Filosofi Warna: Antara Tradisi Obangsaek dan Modernitas

Dalam menentukan palet warna, Cho tetap berpegang teguh pada konsep obangsaek (lima warna utama: putih, hitam, biru, merah, dan kuning) serta oganseak (warna sekunder seperti ungu, teal, dan oranye). Namun, ia memberinya sentuhan modern agar terlihat dinamis di layar kaca. Warna yang paling menyita perhatian adalah nuansa teal pada selempang upacara besar Pangeran I-an yang terlihat di poster promosi.

Banyak penggemar yang menyamakan warna tersebut dengan Tiffany blue, namun Cho menegaskan bahwa itu adalah warna yang sangat khas Korea. “Jika warnanya terlalu biru, ia akan terlihat kaku di layar. Jika terlalu merah, ia akan mendominasi dan mengganggu fokus penonton terhadap ekspresi aktor. Warna teal ini kami pilih dengan sangat hati-hati agar aktornya benar-benar bersinar,” tambahnya. Ketelitian ini menunjukkan betapa krusialnya peran warna dalam mendukung drama Korea yang berkualitas tinggi.

Baca Juga

Pesona Teuku Rassya di Hari Pernikahan: Paduan Gagah Adat Aceh dan Sentuhan Modern yang Memukau

Pesona Teuku Rassya di Hari Pernikahan: Paduan Gagah Adat Aceh dan Sentuhan Modern yang Memukau

Eksperimen Material: Renda, Payet, dan Keanggunan Ibu Suri

Keberanian Cho Sang-kyung juga terlihat pada busana yang dikenakan oleh karakter Ibu Suri. Di sini, Cho keluar dari pakem tradisional dengan memakaikan magoja (jaket luar) yang hanya disampirkan di atas rok, tanpa menggunakan jeogori (atasan) tradisional. Pilihan ini memberikan kesan santai namun tetap berwibawa, sangat cocok untuk menggambarkan suasana musim semi yang hangat di dalam istana.

Tak hanya soal cara pakai, Cho juga bereksperimen dengan bahan-bahan yang tidak lazim ditemukan pada hanbok klasik, seperti renda (lace) dan payet. Meskipun menggunakan bahan modern, ia tetap mempertahankan garis lengan melengkung yang menjadi ciri khas hanbok sejati. Detail lain yang ia cintai adalah kerutan alami pada sutra Korea. Baginya, ketidaksempurnaan tekstur sutra saat bergerak itulah yang memberikan kesan ‘hidup’ dan stylish pada pakaian, terutama pada kemeja I-an yang didesain tanpa dasi namun tetap terlihat formal.

Baca Juga

Rahasia Wajah Flawless Seharian: Rekomendasi Bedak Tabur Terbaik untuk Hasil Makeup Anti-Geser

Rahasia Wajah Flawless Seharian: Rekomendasi Bedak Tabur Terbaik untuk Hasil Makeup Anti-Geser

Menjaga Martabat Lewat Lekukan Hanbok Sejati

Meskipun penuh dengan inovasi, ada prinsip yang tidak bisa dikompromikan oleh Cho. Baginya, hanbok untuk keluarga kerajaan harus tetap mempertahankan martabatnya. Ia mengkritik tren hanbok saat ini yang cenderung dibuat terlalu lurus untuk menonjolkan bentuk tubuh pemakainya. Bagi Cho, itu justru menghilangkan esensi dari hanbok itu sendiri.

“Kami sangat memperhatikan detail yang tidak terlihat secara kasat mata—mulai dari lekuk lengan, garis bawah, hingga panjang dangui (busana kerajaan wanita). Hanbok sejati memiliki lekukan halus yang anggun. Itulah yang mencerminkan martabat keluarga kerajaan, dan saya bersikeras untuk mempertahankannya,” tegas perancang yang juga terlibat dalam film Korea legendaris ini. Baginya, pemisahan yang jelas antara jeogori dan chima (rok) menawarkan variasi gaya yang tak terbatas, bahkan bisa dipadukan dengan gaun modern tanpa lengan untuk kesan yang lebih chic.

Hanbok Sebagai Simbol ‘Quiet Luxury’ Global

Di tengah populernya gaya hidup minimalis dan estetika old money, Cho Sang-kyung berharap hanbok bisa dilihat sebagai puncak dari kemewahan yang tenang atau quiet luxury. Hanbok bukan tentang seberapa banyak perhiasan yang dipakai, melainkan tentang kualitas bahan, ketepatan potongan, dan aura kebangsawanan yang terpancar dari pemakainya. Ia ingin audiens global melihat hanbok sebagai pilihan fashion yang relevan, bahkan untuk kegiatan sehari-hari.

Ia memberikan tips bagaimana memasukkan elemen tradisional ke dalam gaya modern. Misalnya, memadukan rompi staf istana yang sederhana di atas kemeja, atau mengenakan beoseon (kaus kaki tradisional) dengan sandal modern. “Saya ingin menunjukkan bahwa satu elemen tradisional saja sudah cukup efektif untuk mengubah total tampilan seseorang menjadi lebih artistik,” tuturnya dengan penuh semangat.

Sentuhan Tangan Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Menutup ceritanya, Cho merefleksikan tantangan profesinya di masa depan, terutama dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence) dalam dunia desain. Meskipun teknologi bisa membantu mempercepat proses, Cho tetap yakin bahwa emosi manusia tidak bisa digantikan oleh mesin. Pekerjaannya bukan sekadar menggambar pola, melainkan memahami emosi aktor dan atmosfer yang ingin dibangun oleh sutradara.

“Tujuan akhirnya adalah mengejutkan penonton dengan citra baru dari para aktor yang mereka cintai. Pekerjaan kami berhubungan dengan hati dan perasaan. Itulah sebabnya saya sangat menghargai kerja tangan. Meskipun terkadang prosesnya lebih lambat atau tidak sesempurna buatan mesin, saya ingin terus berkarya dengan tangan, pikiran, dan hati,” tutupnya. Melalui Perfect Crown, Cho Sang-kyung tidak hanya mendesain pakaian; ia sedang menjahit sebuah warisan budaya untuk masa depan.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *