Waspada! Meski Tak Menyerang Langsung, Komplikasi Campak Bisa Berujung pada Gangguan Ginjal

Siska Wijaya | Menit Ini
20 Apr 2026, 16:52 WIB
Waspada! Meski Tak Menyerang Langsung, Komplikasi Campak Bisa Berujung pada Gangguan Ginjal

MenitIni — Penyakit campak sering kali dipandang sebelah mata sebagai infeksi kulit biasa pada anak-anak. Padahal, virus ini menyimpan potensi komplikasi berbahaya yang dapat menyerang berbagai organ vital tubuh, mulai dari paru-paru hingga risiko gangguan fungsi ginjal yang serius.

Meskipun secara klinis penyakit campak tidak memberikan dampak destruktif secara langsung pada sel ginjal, terdapat rantai penyebab yang patut diwaspadai. Dokter spesialis anak, dr. Elsye Souvriyanti, mengungkapkan bahwa pintu masuk masalah ginjal pada pasien campak biasanya diawali oleh kondisi diare hebat.

“Apakah bisa berdampak ke ginjal? Secara langsung sebenarnya tidak, namun campak sering kali memicu diare. Jika diare tersebut menyebabkan dehidrasi berat, maka hal itulah yang memicu gangguan ginjal pada pasien. Jadi, bukan virus campaknya yang langsung merusak ginjal,” ujar dr. Elsye dalam sebuah diskusi kesehatan belum lama ini.

Baca Juga

Mengenal Label Nutri-Level: Strategi Baru Kemenkes dan BPOM Tekan Risiko Penyakit Kronis

Mengenal Label Nutri-Level: Strategi Baru Kemenkes dan BPOM Tekan Risiko Penyakit Kronis

Rantai Komplikasi yang Mengancam Nyawa

Daya rusak virus campak terletak pada kemampuannya memicu berbagai komplikasi berat. Salah satu yang paling sering dilaporkan adalah laringitis atau pembengkakan pada saluran pernapasan (laring), yang berisiko membuat pasien mengalami sesak napas akut. Tidak berhenti di situ, kesehatan anak juga terancam oleh pneumonia, yang hingga kini menjadi penyumbang angka kematian tertinggi pada kasus campak.

Beberapa komplikasi lain yang harus diantisipasi oleh orang tua meliputi:

  • Ensefalitis: Peradangan pada otak yang dapat berdampak jangka panjang.
  • Otitis Media: Infeksi pada telinga yang mengganggu pendengaran.
  • Konjungtivitis: Peradangan mata yang jika tidak ditangani dengan benar bisa berakibat fatal bagi penglihatan.

Bagi ibu hamil, kewaspadaan harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Infeksi virus campak pada masa kehamilan berisiko tinggi menyebabkan keguguran (abortus), kelahiran prematur, hingga potensi kelainan bawaan pada bayi saat dilahirkan.

Baca Juga

Dilema Klaim Asuransi Kesehatan: Mengapa Peran Dewan Penasihat Medis Kini Menjadi Krusial?

Dilema Klaim Asuransi Kesehatan: Mengapa Peran Dewan Penasihat Medis Kini Menjadi Krusial?

Ketahanan Virus di Tengah Cuaca Ekstrem El Nino

Menariknya, dr. Elsye juga menyoroti daya tahan virus penyebab campak di tengah fenomena cuaca panas ekstrem atau yang sering disebut sebagai El Nino Godzilla. Virus yang termasuk dalam kelompok Paramyxovirus ini ternyata memiliki karakteristik yang unik namun rapuh terhadap lingkungan tertentu.

“Organisme ini sebenarnya tidak memiliki daya tahan yang tinggi di lingkungan luar. Jika berada di suhu kamar, daya infektivitas atau kemampuannya untuk menularkan penyakit akan menurun drastis hingga 60 persen dalam waktu tiga sampai lima hari,” jelasnya.

Virus campak diketahui sangat sensitif terhadap panas dan mudah hancur oleh paparan sinar ultraviolet (UV). Oleh karena itu, langkah pencegahan di lingkungan rumah tangga menjadi sangat krusial melalui pencegahan penyakit yang tepat.

Baca Juga

Terobosan Baru Kesehatan: BPOM Resmi Izinkan Vaksin Campak bagi Orang Dewasa Berisiko

Terobosan Baru Kesehatan: BPOM Resmi Izinkan Vaksin Campak bagi Orang Dewasa Berisiko

“Sangat penting bagi keluarga yang memiliki pasien campak untuk menempatkan mereka di kamar isolasi yang mendapatkan akses sinar matahari langsung. Sinar UV alami akan membantu mematikan virus-virus yang keluar dari tubuh pasien. Sebaliknya, pada kondisi udara yang dingin dan lembap, virus ini justru mampu bertahan hidup jauh lebih lama,” pungkas dr. Elsye.

Melalui pemahaman akan bahaya komplikasi dan manajemen lingkungan yang tepat, diharapkan risiko fatalitas akibat campak dapat ditekan, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi pola persebaran virus di masa depan.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *