Mitos vs Fakta HPV: Benarkah Hanya Mengintai Perempuan? Simak Penjelasan Lengkap Pakar Berikut Ini

Siska Wijaya | Menit Ini
22 Apr 2026, 08:52 WIB
Mitos vs Fakta HPV: Benarkah Hanya Mengintai Perempuan? Simak Penjelasan Lengkap Pakar Berikut Ini

MenitIni — Ketidaktahuan sering kali menjadi celah bagi penyakit untuk berkembang biak, tidak terkecuali dalam kasus Human Papilloma Virus atau yang lebih dikenal dengan HPV. Di tengah derasnya arus informasi, mitos seputar virus ini justru tumbuh subur, menciptakan stigma yang menghambat langkah pencegahan. Banyak yang percaya bahwa virus ini hanya menjadi urusan perempuan atau hanya menular melalui perilaku seksual tertentu. Namun, apakah anggapan tersebut selaras dengan fakta medis?

Mendobrak Stigma: HPV Bukan Penyakit Monogender

Selama bertahun-tahun, kampanye kesehatan mengenai HPV selalu identik dengan pencegahan kanker serviks. Hal ini secara tidak langsung membangun persepsi publik bahwa laki-laki berada di zona aman. Menanggapi fenomena ini, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, Subsp. Ven, FINSDV, FAADV, memberikan pandangan yang mencerahkan bagi para pembaca setia MenitIni. Beliau menegaskan bahwa HPV adalah ancaman kesehatan yang bersifat universal.

Baca Juga

Saat Asam Lambung Menyerang Mental: Memahami Hubungan Erat GERD dengan Serangan Panik dan Solusinya

Saat Asam Lambung Menyerang Mental: Memahami Hubungan Erat GERD dengan Serangan Panik dan Solusinya

“HPV itu bukan penyakit perempuan saja. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki risiko yang setara untuk terinfeksi. Oleh karena itu, strategi pencegahan yang efektif haruslah mencakup kedua belah pihak tanpa terkecuali,” ungkap dr. Hanny dalam sebuah diskusi kesehatan baru-baru ini. Fakta menunjukkan bahwa laki-laki sering kali menjadi ‘silent carrier’ atau pembawa virus tanpa menunjukkan gejala yang nyata, yang justru memperluas rantai penularan HPV di masyarakat.

Bahaya Laten pada Laki-laki yang Terabaikan

Satu hal yang perlu diwaspadai adalah sifat infeksi HPV pada laki-laki yang kerap bersifat asimtomatik. Artinya, seorang pria bisa saja tampak sehat bugar meskipun di dalam tubuhnya terdapat virus yang siap menular. Tanpa adanya pemeriksaan rutin atau kesadaran akan gejala awal seperti munculnya kutil kelamin, infeksi ini bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, termasuk kanker anus atau kanker penis di masa depan.

Baca Juga

Hari Sadar Bising Sedunia 2026: Lindungi Pendengaran Sebelum Sunyi Abadi Menghampiri

Hari Sadar Bising Sedunia 2026: Lindungi Pendengaran Sebelum Sunyi Abadi Menghampiri

Dr. Hanny menjelaskan bahwa ketiadaan gejala pada pria membuat mereka jarang melakukan konsultasi medis hingga kondisi sudah mencapai stadium lanjut. Inilah alasan mengapa edukasi mengenai gejala HPV pada pria harus terus digaungkan agar deteksi dini bisa dilakukan lebih awal, sebelum komplikasi permanen terjadi.

Menepis Mitos Cara Penularan: Lebih dari Sekadar Hubungan Seksual

Mitos lain yang sangat kuat melekat di masyarakat adalah anggapan bahwa HPV hanya menular melalui hubungan seksual penetratif. Fakta medis berkata lain. Penularan virus ini ternyata jauh lebih mudah dari yang dibayangkan banyak orang. HPV dapat berpindah melalui kontak kulit-ke-kulit secara langsung di area yang terinfeksi.

“Penularan tidak selalu terjadi lewat penetrasi. Aktivitas seksual non-penetratif, kontak langsung dengan area mukosa yang terinfeksi, hingga proses persalinan normal dari ibu ke bayi bisa menjadi jalur transmisi virus ini,” papar dr. Hanny. Dengan kata lain, siapa pun yang aktif secara fisik dan melakukan kontak intim memiliki potensi risiko, sehingga menjaga kesehatan reproduksi menjadi tanggung jawab personal yang sangat krusial.

Baca Juga

Teknik vs Beban: Mengupas Rahasia Latihan Efektif Agar Otot Tumbuh Tanpa Cedera

Teknik vs Beban: Mengupas Rahasia Latihan Efektif Agar Otot Tumbuh Tanpa Cedera

Vaksinasi: Perlindungan Medis, Bukan Pemicu Kebebasan Seksual

Salah satu hambatan terbesar dalam program imunisasi HPV di Indonesia adalah kekhawatiran orang tua bahwa pemberian vaksin pada remaja akan memicu perilaku seksual bebas. MenitIni mencatat bahwa kekhawatiran ini hanyalah mitos yang tidak berdasar pada data ilmiah. Vaksin HPV murni merupakan intervensi medis untuk membangun sistem imun terhadap virus penyebab kanker.

“Vaksin HPV sama sekali tidak berkorelasi dengan perilaku seksual seseorang. Ini adalah bagian dari imunisasi rutin yang tujuannya adalah memberikan proteksi sedini mungkin, bahkan sebelum seseorang terpapar oleh virus di masa depan,” tegas dr. Hanny. Memberikan vaksin sejak dini justru memberikan ketenangan bagi orang tua karena anak-anak mereka telah memiliki ‘perisai’ biologis terhadap ancaman kanker serviks dan penyakit terkait HPV lainnya.

Baca Juga

Solusi Sarapan Sehat Anak Tanpa Ribet: Strategi Gizi Seimbang untuk Menunjang Konsentrasi dan Cegah Stunting

Solusi Sarapan Sehat Anak Tanpa Ribet: Strategi Gizi Seimbang untuk Menunjang Konsentrasi dan Cegah Stunting

Belajar dari Tren Global: Vaksinasi Netral Gender

Jika selama ini kita menganggap bahwa vaksinasi HPV untuk laki-laki hanyalah tren di negara-negara Barat, maka kita perlu memperbarui peta informasi kita. Dr. Hanny mengungkapkan bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah telah melangkah lebih jauh dalam hal ini. Negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, hingga Arab Saudi telah menerapkan kebijakan vaksin HPV netral gender.

Artinya, negara-negara tersebut memberikan akses vaksinasi yang sama bagi anak laki-laki dan perempuan. Kebijakan ini diambil berdasarkan pemahaman bahwa untuk memutus rantai penyebaran virus secara total, seluruh populasi yang berisiko harus dilindungi. Tren global ini membuktikan bahwa kesadaran akan pentingnya perlindungan menyeluruh terhadap HPV sudah melampaui batas-batas budaya dan geografis.

Baca Juga

Ancaman Tersembunyi Virus HPV pada Laki-laki: Kenali Gejala, Risiko Kanker, dan Pentingnya Pencegahan Dini

Ancaman Tersembunyi Virus HPV pada Laki-laki: Kenali Gejala, Risiko Kanker, dan Pentingnya Pencegahan Dini

Siapa yang Paling Berisiko?

Secara umum, setiap orang yang pernah melakukan kontak seksual memiliki risiko terinfeksi HPV setidaknya sekali dalam hidup mereka. Namun, tingkat risiko ini akan meningkat secara signifikan pada individu dengan kondisi berikut:

  • Memiliki banyak pasangan seksual tanpa proteksi yang memadai.
  • Memulai aktivitas seksual pada usia yang terlalu dini.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (immunocompromised).
  • Individu yang memiliki riwayat infeksi menular seksual lainnya.
  • Perokok aktif, karena rokok diketahui dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam membersihkan infeksi HPV secara alami.

Meskipun demikian, dr. Hanny mengingatkan bahwa karena virus ini bisa bersembunyi tanpa gejala, setiap orang tetap harus waspada dan tidak meremehkan langkah-langkah pencegahan HPV yang ada.

Langkah Nyata Pencegahan: Edukasi dan Skrining

Sebagai penutup, kunci utama dalam memerangi penyebaran HPV adalah kombinasi antara pengetahuan yang tepat dan tindakan preventif yang konsisten. Selain vaksinasi, bagi mereka yang sudah aktif secara seksual, melakukan skrining rutin seperti Pap Smear atau tes DNA HPV sangatlah dianjurkan. Deteksi dini adalah separuh dari kemenangan dalam melawan penyakit ini.

“Pemahaman yang benar adalah fondasi utama. Jika masyarakat tahu faktanya dan berhenti percaya pada mitos, maka upaya pencegahan akan jauh lebih efektif dan angka kasus kanker akibat HPV bisa ditekan secara signifikan,” pungkas dr. Hanny. Mari mulai peduli pada kesehatan diri sendiri dan pasangan dengan mencari informasi dari sumber terpercaya seperti MenitIni dan berkonsultasi dengan tenaga medis profesional demi masa depan yang lebih sehat.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *