Barcelona Layangkan Protes Kedua ke UEFA, Raphinha Sebut Kekalahan dari Atletico Sebagai ‘Perampokan’
MenitIni — Hubungan antara raksasa Catalonia, Barcelona, dengan otoritas sepak bola Eropa, UEFA, kini tengah memanas menyusul drama yang terjadi di panggung Liga Champions. Barcelona secara resmi telah melayangkan protes kedua kepada UEFA, menuntut pertanggungjawaban atas kepemimpinan wasit yang dianggap berat sebelah saat mereka berhadapan dengan Atletico Madrid di babak perempat final.
Ketegangan ini bermula setelah tim asuhan Xavi Hernandez tersebut harus tersingkir dengan agregat tipis 2-3. Meski berhasil mencuri kemenangan 2-1 di Stadion Metropolitano pada laga leg kedua, Rabu (15/4/2026) dini hari WIB, hasil tersebut tidak cukup untuk membawa mereka ke babak semifinal. Suasana di ruang ganti Blaugrana dilaporkan meledak dengan kemarahan, bahkan winger andalan mereka, Raphinha, secara blak-blakan menyebut jalannya pertandingan tersebut sebagai sebuah “perampokan” yang nyata di depan mata publik.
Timnas Futsal Indonesia Harus Puas Jadi Runner-up Piala AFF 2026 Usai Kena Comeback Thailand
Keputusan Wasit yang Menjadi Titik Api
Dalam dokumen resmi yang diajukan, manajemen Barcelona membedah satu per satu keputusan wasit yang dinilai menyimpang dari aturan baku sepak bola di kedua leg pertandingan. Fokus utama mereka adalah minimnya intervensi dari teknologi VAR dalam momen-momen krusial yang seharusnya bisa mengubah arah pertandingan. Klub merasa teknologi tersebut seolah sengaja diabaikan saat mereka sedang berada dalam posisi yang menguntungkan.
Tidak hanya itu, Barcelona mengklaim bahwa mereka seharusnya mendapatkan setidaknya dua hadiah penalti, masing-masing satu di setiap leg. Namun, klaim ini dimentahkan oleh kubu Atletico Madrid yang bersikeras bahwa insiden-insiden tersebut hanyalah kontak fisik biasa dalam sepak bola. Bagi pihak klub, akumulasi keputusan kontroversial ini tidak hanya merusak integritas kompetisi secara sportif, tetapi juga menghantam finansial klub secara signifikan akibat kehilangan potensi pendapatan di babak selanjutnya.
Bojan Hodak Akui BRI Super League 2025/2026 Paling Menguras Energi: Gelar Juara Bisa Ditentukan di Pekan Terakhir
Luka dari Penolakan Protes Pertama
Langkah hukum kedua ini diambil bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Barcelona sempat melayangkan keluhan terkait insiden handball yang melibatkan bek Atletico, Marc Pubill. Namun, dengan nada yang dingin, UEFA menolak laporan tersebut dan melabelinya sebagai laporan yang tidak dapat diterima (inadmissible).
Penolakan tersebut menjadi pemantik kekecewaan yang lebih dalam bagi jajaran petinggi Barcelona. Mereka merasa suara klub sebesar Barcelona tidak mendapatkan apresiasi yang layak dan transparansi yang seharusnya dijunjung tinggi oleh UEFA. Penolakan pertama itulah yang akhirnya memicu gerakan protes yang lebih masif dan terstruktur kali ini.
Tuntutan Reformasi dan Transparansi
Melalui protes kedua ini, Barcelona tidak hanya sekadar ingin menumpahkan rasa frustrasinya. Mereka membawa misi yang lebih besar: menuntut evaluasi total terhadap sistem perwasitan di bawah naungan UEFA. Klub menyatakan kesiapan penuh untuk berkolaborasi dalam memperbaiki standar penerapan aturan agar lebih ketat, adil, dan transparan di masa depan.
Dilema Marcus Rashford di Barcelona: Antara Performa Gemilang dan Keputusan Permanen 30 Juta Euro
Barcelona berharap optimalisasi teknologi VAR bukan lagi sekadar formalitas, melainkan menjadi alat penegak keadilan yang nyata di lapangan hijau. Mereka ingin memastikan bahwa di musim-musim mendatang, nasib sebuah tim ditentukan oleh talenta dan strategi di atas rumput, bukan oleh peluit wasit yang ragu atau layar VAR yang tetap gelap di momen genting.