Krisis Petugas Imigrasi di Bandara Incheon: Turis Asing Terjebak Antrean Hingga 2 Jam

Rendi Saputra | Menit Ini
12 Apr 2026, 07:21 WIB
Krisis Petugas Imigrasi di Bandara Incheon: Turis Asing Terjebak Antrean Hingga 2 Jam

MenitIni — Gerbang utama Korea Selatan, Bandara Internasional Incheon, kini tengah menjadi sorotan tajam akibat penurunan kualitas layanan imigrasi yang memicu gelombang keluhan dari pelancong mancanegara. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kehakiman dan otoritas Bandara Internasional Incheon pada awal April 2026, waktu pemrosesan dokumen bagi warga negara asing yang memasuki Negeri Ginseng tersebut dilaporkan semakin melambat secara signifikan.

Puncak kemelut ini terjadi selama libur Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari 2026 lalu. Kala itu, antrean di loket imigrasi mengular hingga memakan waktu tunggu mencapai 1 jam 54 menit. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan waktu tunggu saat libur Chuseok pada Oktober 2025. Padahal, jika merujuk pada standar yang ditetapkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (IATA), prosedur kedatangan penumpang idealnya tidak boleh melebihi durasi 45 menit demi kenyamanan wisatawan mancanegara.

Baca Juga

Pesona Minimalis Tamara Bleszynski di Hari Bahagia Teuku Rassya dan Cleantha Islan

Pesona Minimalis Tamara Bleszynski di Hari Bahagia Teuku Rassya dan Cleantha Islan

Keluhan Penumpang yang Viral di Media Sosial

Keterlambatan yang berlarut-larut ini tak pelak memicu kemarahan para penumpang. Papan pengumuman daring bandara dan berbagai platform media sosial kini dipenuhi dengan testimoni negatif. Salah seorang turis asal Prancis menceritakan pengalaman pahitnya saat mendarat di Incheon. Ia harus menghabiskan waktu dua jam hanya untuk melewati proses pemeriksaan dan mengambil bagasi.

“Saya bahkan harus merelakan tiket bus yang sudah dipesan karena antrean yang sangat panjang. Petugas di meja layanan pelanggan hanya berdalih bahwa ini disebabkan oleh lonjakan pengunjung di akhir pekan,” tulisnya dalam sebuah unggahan yang menarik perhatian publik. Penumpang lain juga menyoroti minimnya personel yang bertugas, di mana ia melihat hanya ada dua petugas yang melayani tumpukan antrean di loket pemeriksaan fisik.

Baca Juga

5 Variasi Resep Sambal Tanpa Cabai Rawit: Sensasi Pedas Nyaman yang Tetap Bikin Nagih

5 Variasi Resep Sambal Tanpa Cabai Rawit: Sensasi Pedas Nyaman yang Tetap Bikin Nagih

Ketimpangan Jumlah Wisatawan dan Personel Imigrasi

Fenomena ini sebenarnya berakar pada ketidakseimbangan antara volume kunjungan yang meroket dengan ketersediaan sumber daya manusia. Data menunjukkan bahwa kunjungan turis asing ke Korea mencapai angka 3,26 juta orang pada kuartal pertama tahun 2026, tumbuh sekitar 16,4 persen dari tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan data tahun 2020, kenaikannya mencapai angka fantastis, yakni 72,5 persen.

Ironisnya, di saat jumlah pengunjung meledak, kuota personel di kantor Imigrasi Bandara Incheon justru mengalami penyusutan. Dari 891 petugas pada tahun 2020, jumlahnya menyusut menjadi 854 personel pada tahun 2026. Di Terminal 2, kondisi ini kian memprihatinkan. Dari total 52 pos pemeriksaan yang tersedia, seringkali hanya kurang dari separuhnya yang beroperasi secara aktif, bahkan di jam-jam sibuk sekalipun.

Baca Juga

Efek Domino Konflik Timur Tengah: Maskapai Korea Selatan Masuk Mode Darurat, Karyawan Diminta Cuti Tanpa Gaji

Efek Domino Konflik Timur Tengah: Maskapai Korea Selatan Masuk Mode Darurat, Karyawan Diminta Cuti Tanpa Gaji

Situasi semakin pelik karena personel yang ada harus dibagi untuk mengawasi gerbang otomatis dan melayani warga negara lokal. Hal ini menyisakan hanya sekitar lima atau enam petugas saja yang benar-benar siaga di meja pemeriksaan untuk kedatangan internasional bagi pemegang paspor asing.

Otomatisasi: Solusi atau Masalah Baru?

Menanggapi krisis ini, Kementerian Kehakiman Korea Selatan tampaknya lebih memilih jalur teknologi ketimbang menambah jumlah tenaga kerja. Dari permintaan 276 personel tambahan yang diajukan tahun lalu, hanya enam posisi yang disetujui oleh pemerintah pusat karena kendala anggaran pasca-pandemi. Sebagai gantinya, pihak berwenang mendorong skema otomatisasi imigrasi besar-besaran.

Rencananya, jumlah negara yang memenuhi syarat untuk menggunakan gerbang pemeriksaan otomatis akan diperluas dari 18 menjadi 42 negara. Selain itu, pendaftaran data wajah dan sidik jari akan diotomatisasi untuk memangkas waktu birokrasi di garis depan.

Namun, langkah ini menuai skeptisisme dari para pakar industri. Beberapa poin krusial yang menjadi kritik adalah:

  • Batasan Usia: Gerbang otomatis biasanya hanya tersedia bagi pelancong berusia 17 tahun ke atas, yang berarti keluarga dengan anak-anak tetap harus mengantre di jalur manual yang kekurangan petugas.
  • Potensi Antrean Ganda: Kios pendaftaran mandiri dikhawatirkan justru menambah birokrasi, di mana penumpang harus mengantre dua kali: sekali untuk pendaftaran data dan sekali lagi untuk gerbang pemeriksaan.
  • Kebutuhan Interaksi Manusia: Pakar berpendapat bahwa teknologi tidak bisa sepenuhnya menggantikan kehadiran petugas di garis depan, terutama dalam menghadapi kondisi lapangan yang dinamis.

Hingga saat ini, para pelancong yang berencana mengunjungi Korea Selatan melalui Bandara Incheon diimbau untuk menyiapkan waktu ekstra dan kesabaran lebih, setidaknya sampai ada kebijakan konkret yang mampu mengurai benang kusut di gerbang imigrasi bandara tersebut.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *