Skandal Kecantikan Korea Selatan: Kontroversi Skin Booster Berbahan Jaringan Kulit Mayat

Rendi Saputra | Menit Ini
18 Apr 2026, 20:53 WIB
Skandal Kecantikan Korea Selatan: Kontroversi Skin Booster Berbahan Jaringan Kulit Mayat

MenitIni — Industri kecantikan Korea Selatan kini tengah berada di bawah sorotan tajam setelah munculnya gelombang kritik terhadap penggunaan bahan-bahan ekstrem dalam produk estetika. Laporan terbaru mengungkapkan adanya produk skin booster berbasis matriks ekstraseluler (ECM) yang diproduksi menggunakan jaringan kulit dari jenazah manusia yang didonorkan.

Tren ini diperkirakan akan terus berkembang pesat. Hingga akhir tahun 2026, setidaknya tujuh produk serupa diprediksi bakal membanjiri pasar perawatan kulit di Negeri Gingseng tersebut. Meskipun diposisikan sebagai alternatif mutakhir bagi suntikan sintetis atau hasil rekayasa hayati, keberadaan produk ini memicu perdebatan sengit mengenai batas antara inovasi medis dan etika kemanusiaan.

Area Abu-abu Regulasi dan Keamanan Biologis

Hingga saat ini, produk-produk tersebut masih terjebak dalam area abu-abu regulasi. Para kritikus menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait standar keamanan dan aspek moral, sementara pihak berwenang terlihat masih sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan tegas. Isu ini bahkan telah mencapai level audit parlemen dan dibahas secara intensif di forum Majelis Nasional.

Baca Juga

Rahasia Kulit Glowing Meghan Markle Terungkap Saat Kunjungan Hangat ke Australia

Rahasia Kulit Glowing Meghan Markle Terungkap Saat Kunjungan Hangat ke Australia

Kwon Dong-ju, seorang pakar hukum dari firma Yoon and Yang yang berbasis di Seoul, mengungkapkan bahwa pengawasan saat ini masih sangat minim. Menurutnya, regulasi yang ada hanya berfokus pada pengendalian infeksi dan kontaminasi, namun belum menyentuh standar keamanan biologis serta uji klinis ketat yang biasanya diwajibkan untuk obat-obatan atau alat kesehatan lainnya.

Dari Prosedur Medis Menuju Komoditas Estetika

Secara teknis, skin booster ECM ini bekerja dengan cara menyuntikkan material kolagen yang diambil dari lapisan kulit terdalam jenazah. Proses produksinya pun cukup kompleks, melibatkan teknik pembekuan, pengeringan, penghancuran, hingga ekstraksi sel. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Korea Selatan, material tersebut saat ini masih diimpor dari luar negeri, sehingga jasad donor domestik belum digunakan untuk tujuan ini.

Baca Juga

Waspada Trik Pemasaran! Menelisik Makna Sejati di Balik Tren Perawatan Rambut ‘Clean Beauty’

Waspada Trik Pemasaran! Menelisik Makna Sejati di Balik Tren Perawatan Rambut ‘Clean Beauty’

Awalnya, prosedur penggunaan jaringan manusia ini dimaksudkan untuk tujuan rekonstruksi yang bersifat darurat atau medis murni, seperti penanganan pasien luka bakar berat atau rekonstruksi payudara. Namun, besarnya permintaan pasar membuat material ini bergeser fungsi menjadi produk kecantikan komersial.

  • Produk diklasifikasikan sebagai transplantasi jaringan, bukan perangkat medis.
  • Fokus regulasi hanya pada kompatibilitas transplantasi, bukan efek estetika jangka panjang.
  • Terdapat kekhawatiran akan menurunnya niat masyarakat untuk mendonasikan tubuh jika digunakan untuk tujuan komersial.

Gejolak Etika dan Penolakan Publik

Sentimen publik terhadap tren kecantikan ekstrem ini cenderung negatif. Sebuah survei yang dilakukan oleh Profesor Lee Dong-han dari Universitas Wanita Sookmyung menunjukkan bahwa sekitar 60,9 persen dari seribu lebih responden mendukung pelarangan total atau pembatasan yang sangat ketat terhadap penggunaan jaringan manusia yang sudah meninggal untuk kepentingan estetika.

Baca Juga

Rahasia Mengubah Halaman Jadi Galeri Emas: Panduan Profesional Merawat Bunga Matahari Agar Mekar Sempurna

Rahasia Mengubah Halaman Jadi Galeri Emas: Panduan Profesional Merawat Bunga Matahari Agar Mekar Sempurna

Para ahli mengkhawatirkan bahwa komersialisasi jaringan tubuh manusia dapat mencederai nilai luhur dari donasi itu sendiri. Di tengah tantangan praktis dalam membedakan antara tindakan medis esensial dan prosedur kosmetik, pemerintah Korea Selatan kini tengah meninjau langkah-langkah untuk membatasi iklan prosedur tersebut demi menjaga integritas dunia medis dan norma sosial yang berlaku.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *