Waspada Ancaman Senyap: Satu Juta Kasus TBC Hantui Indonesia, Kenali Gejala dan Cara Penularannya
MenitIni — Fenomena gunung es nampaknya masih menjadi bayang-bayang kelam dalam penanganan kesehatan masyarakat di Tanah Air. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan sebuah fakta mengkhawatirkan: setiap tahunnya, Indonesia diperkirakan mengantongi sekitar satu juta kasus baru Tuberkulosis (TB). Namun, ironisnya, data tahun 2025 menunjukkan baru sekitar 800 ribu kasus yang berhasil terdiagnosis dan mendapatkan pengobatan medis.
Celah sebesar 200 ribu pasien yang masih ‘hilang’ dari radar medis ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah sumber penularan potensial yang terus bergerak di tengah masyarakat tanpa disadari. Situasi ini pun memicu lonjakan kasus yang terus merangkak naik, sebagaimana disoroti oleh Dr. Rina Triasih, seorang spesialis anak sekaligus konsultan respirologi dari FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ledakan Kasus Pasca-Pandemi dan Strategi ‘Jemput Bola’
Ada tren menarik sekaligus mengkhawatirkan yang diamati oleh para ahli. Pasca-melandainya pandemi COVID-19, laporan kasus TBC justru menunjukkan grafik yang menanjak. Menurut Dr. Rina, kondisi ini bisa bermakna dua hal: antara memang terjadi peningkatan jumlah infeksi riil di lapangan, atau sistem deteksi pemerintah yang kini jauh lebih agresif dalam menyisir kasus-kasus tersembunyi yang selama ini tidak terlaporkan.
Salah satu terobosan yang terbukti ampuh dalam memutus rantai penularan adalah strategi Active Case Finding (ACF). Melalui inisiatif Zero TB Yogyakarta yang digawangi UGM sejak tahun 2020, petugas kesehatan tidak lagi hanya duduk manis menunggu pasien datang ke puskesmas. “Kami menjemput pasien dengan fasilitas X-Ray keliling. Strategi ini menyasar individu yang bergejala maupun yang tidak menunjukkan gejala TBC sama sekali,” tutur Dr. Rina dalam keterangan resminya.
Indonesia: Raksasa TBC Global di Peringkat Kedua
Posisi Indonesia di peta penyakit menular dunia saat ini sedang berada pada titik krusial. Dr. Setiawan Jati Laksono dari WHO Indonesia memaparkan bahwa negeri ini menyumbang sekitar 10 persen dari total beban TBC global. Dari estimasi 10,7 juta kasus baru di seluruh dunia, Indonesia bertengger di peringkat kedua sebagai penyumbang kasus terbanyak, tepat di bawah India dan kini telah melampaui posisi China.
Mengenal Cara Kerja ‘Si Bakteri Rakus’ Mycobacterium
Tuberkulosis bukanlah penyakit yang bisa disepelekan. Disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyakit ini dikenal sangat oportunis. Meski paru-paru menjadi target utama, bakteri ini mampu bermigrasi dan menggerogoti organ lain seperti tulang belakang, kulit, kelenjar getah bening, hingga jantung. Penularannya terjadi secara senyap melalui udara dalam bentuk percikan dahak atau droplet.
Sebagai gambaran betapa masifnya risiko penularan, satu kali batuk dari penderita dapat melepaskan sekitar 3.000 percikan dahak yang sarat kuman. Sementara itu, satu kali bersin bisa memuntahkan hingga satu juta kuman ke udara bebas. Jika sistem imun seseorang sedang lemah, bakteri ini akan menetap dan merusak secara perlahan. Namun, ada kalanya bakteri masuk ke fase dormant atau tidur, yang sewaktu-waktu bisa bangkit kembali dan menjadi aktif saat daya tahan tubuh inangnya menurun drastis.