Efek Domino Konflik Timur Tengah: Maskapai Korea Selatan Masuk Mode Darurat, Karyawan Diminta Cuti Tanpa Gaji

Rendi Saputra | Menit Ini
14 Apr 2026, 06:22 WIB
Efek Domino Konflik Timur Tengah: Maskapai Korea Selatan Masuk Mode Darurat, Karyawan Diminta Cuti Tanpa Gaji

MenitIni — Ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah, melibatkan Iran, Israel, hingga Amerika Serikat, kini membawa dampak nyata yang menghantam industri penerbangan di Korea Selatan. Tak sekadar gangguan operasional, tekanan finansial yang kian berat memaksa sejumlah maskapai mengambil langkah ekstrem demi menjaga napas perusahaan.

Salah satu yang terdampak signifikan adalah T’Way Air. Maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) ini baru saja meluncurkan program cuti di luar tanggungan bagi para karyawannya. Kebijakan pahit ini diambil menyusul melonjaknya nilai tukar won terhadap dolar serta kenaikan tajam harga minyak dunia yang memicu pembengkakan biaya operasional secara drastis.

Langkah Darurat di Tengah Tekanan Likuiditas

Pengumuman mengenai cuti sementara ini telah disampaikan kepada para awak kabin belum lama ini. Pihak manajemen berdalih bahwa langkah ini merupakan strategi untuk menyeimbangkan beban kerja sekaligus mengurangi kelelahan kru setelah adanya penyesuaian jadwal penerbangan yang masif. Namun, di balik narasi tersebut, kondisi keuangan perusahaan memang sedang tidak baik-baik saja.

Baca Juga

Resep Cireng Isi Ayam Suwir Pedas Takaran Sendok: Renyah di Luar, Kenyal di Dalam!

Resep Cireng Isi Ayam Suwir Pedas Takaran Sendok: Renyah di Luar, Kenyal di Dalam!

“Program cuti ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas lebih bagi awak kabin dalam kondisi kerja saat ini, dan hanya tersedia dalam jangka waktu terbatas bagi mereka yang bersedia berpartisipasi,” ungkap perwakilan perusahaan sebagaimana dilaporkan pada pertengahan April 2026.

T’Way Air mencatatkan diri sebagai maskapai bujet pertama di Korea Selatan yang secara resmi memasuki mode manajemen darurat sejak Maret 2026. Tekanan likuiditas menjadi momok menakutkan setelah perusahaan mencatatkan kerugian operasional yang fantastis, yakni mencapai 12,3 miliar won pada 2024 dan membengkak hingga 265,5 miliar won (sekitar Rp3 triliun) pada tahun 2025.

Badai Pembatalan Rute Internasional

Kondisi sulit ini tidak hanya dialami T’Way Air. Sejumlah operator transportasi udara lainnya di Korea Selatan mulai melakukan pangkas jadwal besar-besaran untuk mengantisipasi penurunan permintaan penumpang akibat harga tiket yang melonjak. Berikut adalah rincian rute yang terdampak:

Baca Juga

Jangan Dibuang! 7 Kreasi Roti Goreng dari Roti Tawar Sisa yang Renyah dan Menggugah Selera

Jangan Dibuang! 7 Kreasi Roti Goreng dari Roti Tawar Sisa yang Renyah dan Menggugah Selera
  • Jin Air: Menangguhkan sedikitnya 45 penerbangan pulang pergi di delapan rute utama, termasuk rute populer Incheon-Guam dan Busan-Cebu selama April 2026.
  • Air Premia: Memangkas frekuensi penerbangan jarak menengah-jauh, termasuk pengurangan puluhan jadwal pada rute Incheon ke Los Angeles dan Honolulu.
  • Aero K & Air Busan: Menghentikan operasional rute internasional ke Jepang (Narita, Osaka) serta destinasi wisata seperti Da Nang dan Cebu demi efisiensi biaya.
  • Eastar Jet: Memangkas sekitar 50 jadwal penerbangan pada rute Incheon-Phu Quoc.

Para pengamat industri menilai bahwa maskapai bertarif rendah adalah pihak yang paling rentan dalam krisis ini. Pasalnya, komponen bahan bakar menyumbang sekitar 30 persen dari total biaya operasional mereka. Berdasarkan data ekonomi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang semula di angka USD 65 telah meroket hingga menembus angka USD 99 per barel hanya dalam hitungan pekan.

Baca Juga

Rahasia Wajah Flawless Seharian: Rekomendasi Bedak Tabur Terbaik untuk Hasil Makeup Anti-Geser

Rahasia Wajah Flawless Seharian: Rekomendasi Bedak Tabur Terbaik untuk Hasil Makeup Anti-Geser

Maskapai Nasional Ikut Berbenah, Bagaimana dengan Indonesia?

Bukan hanya maskapai bujet, raksasa seperti Korean Air dan Asiana Airlines pun mulai mengencangkan ikat pinggang. Mereka telah mendeklarasikan sistem manajemen darurat dengan fokus pada perampingan investasi yang dianggap tidak mendesak. Asiana Airlines, misalnya, terpaksa mengurangi jadwal terbang ke sejumlah kota di Tiongkok dan Kamboja sebagai langkah penyelamatan sementara.

Di tengah carut-marut industri penerbangan di Korea Selatan, kondisi berbeda dilaporkan oleh maskapai kebanggaan tanah air, Garuda Indonesia. Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, memastikan bahwa layanan penerbangan tetap berjalan normal. Meski begitu, pihaknya tetap waspada dengan melakukan penyesuaian kebijakan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) guna merespons dinamika harga avtur global.

Pemerintah Indonesia melalui regulasi terbaru juga terus berupaya menjaga stabilitas industri melalui pemberian stimulus pajak demi meringankan beban operasional maskapai di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian menantang.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *