Waspada Bruxism! Mengenal Penyebab Gigi Gemeretak Saat Tidur dan Kaitannya dengan Tingkat Stres

Siska Wijaya | Menit Ini
10 Apr 2026, 12:24 WIB
Waspada Bruxism! Mengenal Penyebab Gigi Gemeretak Saat Tidur dan Kaitannya dengan Tingkat Stres

MenitIni — Pernahkah Anda terbangun karena suara gesekan gigi yang memekakkan telinga dari pasangan tidur, atau justru Anda yang sering dikeluhkan karena kebiasaan tersebut? Fenomena gigi yang beradu secara tidak sadar saat terlelap ini bukan sekadar gangguan suara biasa. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai bruxism, sebuah kebiasaan yang jika dibiarkan dapat berdampak serius pada kesehatan rahang dan gigi.

Meskipun bisa dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita, bruxism rupanya lebih sering ditemukan pada anak-anak di rentang usia 3 hingga 12 tahun. Hal ini diungkapkan oleh Dokter Spesialis Neurologi, Yeni Quinta Mondiani. Ia menjelaskan bahwa sleep bruxism ditandai dengan gerakan mengunyah yang repetitif, sehingga memicu gesekan antar gigi yang cukup kuat untuk merusak lapisan enamel.

Mekanisme Saraf di Balik Gesekan Gigi

Mengapa gigi bisa bergerak sendiri saat kita tertidur lelap? Menurut Yeni, bruxism terjadi karena adanya peningkatan aktivitas yang intens pada otot-otot pengunyahan, seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid. Fenomena ini bukan sekadar gerakan fisik semata, melainkan ada campur tangan sistem saraf pusat.

“Aktivitas ini dipicu oleh gangguan kontrol gerakan pada sistem saraf, terutama yang melibatkan sistem dopaminergik. Akibatnya, kontraksi otot menjadi lebih sering dan jauh lebih kuat dibandingkan kondisi normal,” terang dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University tersebut. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kualitas tidur agar sistem saraf tetap bekerja secara optimal.

Stres Sebagai Pemicu Utama

Bukan hanya soal teknis saraf, kondisi psikologis seseorang memegang peranan krusial dalam munculnya bruxism. Penelitian meta-analisis menunjukkan korelasi yang kuat antara tekanan mental dengan kebiasaan buruk ini. Semakin tinggi tingkat kecemasan atau stres yang dialami seseorang, maka semakin besar pula risiko mereka mengalami bruxism di malam hari.

Pengelolaan kesehatan mental menjadi kunci utama. Menemukan pemicu stres dan mengelolanya dengan baik bukan hanya menyelamatkan pikiran, tetapi juga melindungi gigi dari kerusakan permanen. Yeni menyarankan agar penderita mulai memperhatikan aspek psikologis mereka jika gejala gigi gemeretak ini terus berlanjut.

Faktor Risiko dan Kapan Harus ke Dokter?

Selain faktor psikologis, dokter Yeni juga menyoroti beberapa faktor pemicu lainnya, di antaranya:

  • Predisposisi genetik atau faktor keturunan.
  • Kurang tidur atau jadwal istirahat yang berantakan.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu.
  • Gangguan pada irama sirkadian tubuh.

Jika Anda mulai merasakan nyeri yang hebat pada rahang, gigi retak, sensitivitas gigi yang meningkat, hingga gangguan saat mengunyah, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan medis. Apalagi jika kondisi ini dibarengi dengan sakit kepala yang berulang. Pemeriksaan oleh dokter spesialis sangat diperlukan untuk melihat apakah ada keterkaitan dengan masalah neurologis yang lebih kompleks.

Langkah Penanganan yang Komprehensif

Menangani bruxism membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Kesehatan gigi harus dijaga dengan penggunaan pelindung gigi (mouth guard) saat tidur guna mencegah gesekan langsung. Namun, itu hanyalah penanganan dari luar.

Secara internal, perbaikan kualitas hidup melalui manajemen stres dan pola tidur yang sehat adalah fondasi utama. Dalam beberapa kasus medis tertentu, dokter mungkin akan meresepkan obat pelemas otot guna mengurangi intensitas kontraksi rahang di malam hari. Dengan penanganan yang tepat, bruxism bisa diatasi sebelum menyebabkan kerusakan yang lebih fatal pada struktur wajah dan gigi Anda.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *