May Day 2026: Mengapa Menjaga Asupan Cairan Adalah Kunci Demo Damai? Simak Penjelasan Guru Besar FKUI

Siska Wijaya | Menit Ini
01 Mei 2026, 08:52 WIB
May Day 2026: Mengapa Menjaga Asupan Cairan Adalah Kunci Demo Damai? Simak Penjelasan Guru Besar FKUI

MenitIni — Gema orasi dan derap langkah ribuan massa kembali mewarnai jalanan protokol di berbagai kota besar di Indonesia. Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh pada 1 Mei 2026, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, menjadi panggung bagi para pekerja untuk menyuarakan hak-hak mereka. Namun, di balik semangat yang membara dan atmosfer perjuangan yang kental, terselip sebuah risiko kesehatan yang sering kali dianggap remeh namun memiliki dampak sistemik yang luar biasa: dehidrasi.

Bukan sekadar rasa haus biasa, kekurangan cairan di tengah teriknya matahari saat melakukan aksi massa ternyata menyimpan bom waktu bagi stabilitas emosi. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus praktisi kesehatan di RSCM, Prof. Ari Fahrial Syam, memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini. Menurutnya, dehidrasi adalah salah satu faktor krusial yang mampu mengubah dinamika sebuah demonstrasi dari damai menjadi penuh ketegangan.

Baca Juga

Mitos Blau pada Gondongan: Benarkah Bisa Menyembuhkan atau Justru Membahayakan Masa Depan Anak?

Mitos Blau pada Gondongan: Benarkah Bisa Menyembuhkan atau Justru Membahayakan Masa Depan Anak?

Kaitan Erat Antara Haus dan Emosi yang Meledak

Dalam sebuah wawancara mendalam, Prof. Ari menjelaskan bahwa dehidrasi memiliki pengaruh langsung terhadap fungsi kognitif dan kestabilan psikologis seseorang. Ketika tubuh kekurangan cairan, volume darah menurun, yang mengakibatkan pasokan oksigen ke otak menjadi tidak optimal. Kondisi inilah yang memicu perubahan perilaku yang signifikan pada peserta Hari Buruh.

“Dehidrasi merupakan faktor penting yang bisa menyebabkan emosi seseorang menjadi tidak terkendali. Dalam situasi demonstrasi yang melibatkan ribuan orang, kondisi psikologis yang tidak stabil ini sangat berisiko memperkeruh keadaan,” ujar Prof. Ari. Beliau menekankan bahwa saat otak kekurangan asupan cairan, pusat kendali emosi menjadi lebih sensitif. Hal-hal kecil yang biasanya bisa ditoleransi, dalam kondisi dehidrasi, dapat menjadi pemantik kemarahan yang hebat.

Baca Juga

Menilik ‘Beban Ganda’ Ibu Pekerja Indonesia: Saat Ketangguhan Bertabrakan dengan Realitas Kesehatan

Menilik ‘Beban Ganda’ Ibu Pekerja Indonesia: Saat Ketangguhan Bertabrakan dengan Realitas Kesehatan

Situasi di lapangan sering kali memperburuk keadaan. Suhu udara yang menyengat, polusi kendaraan, serta desak-desakan antar demonstran menciptakan tekanan fisik yang luar biasa. Jika tidak diimbangi dengan hidrasi yang cukup, seorang demonstran akan lebih mudah terpancing provokasi, sulit berpikir jernih, dan kehilangan kemampuan untuk melakukan penilaian situasi secara logis.

Mekanisme Tubuh Saat Demonstrasi: Mengapa Kita Cepat Lelah?

Kegiatan demonstrasi bukanlah aktivitas fisik yang ringan. Para peserta biasanya melakukan long march atau berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh, berdiri selama berjam-jam di bawah terik matahari, hingga berteriak menyuarakan tuntutan. Semua aktivitas ini memacu metabolisme tubuh bekerja lebih keras, yang secara alami menghasilkan panas internal yang harus dikeluarkan melalui keringat.

Baca Juga

Mengungkap Risiko Kesehatan di Balik Gurihnya Ikan Sapu-Sapu: Aman atau Beracun?

Mengungkap Risiko Kesehatan di Balik Gurihnya Ikan Sapu-Sapu: Aman atau Beracun?

“Saat kita berada dalam lingkungan yang panas dan melakukan aktivitas fisik yang intens, tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui keringat. Jika cairan ini tidak segera diganti, maka keseimbangan internal tubuh akan terganggu,” tambah Prof. Ari. Beliau mengingatkan bahwa kebutuhan cairan harian orang dewasa dalam kondisi normal adalah sekitar delapan hingga sepuluh gelas atau setara dengan dua liter.

Namun, dalam konteks aksi massa di lapangan, kebutuhan tersebut bisa melonjak drastis hingga dua atau tiga kali lipat. Kekurangan cairan ini tidak hanya berdampak pada hilangnya air, tetapi juga mineral penting seperti natrium dan kalium. Inilah alasan mengapa kelelahan ekstrem sering kali berujung pada pingsannya peserta aksi di tengah jalan.

Baca Juga

Benarkah Toilet Duduk Jadi Sarang Penularan HPV? Simak Penjelasan Medis untuk Menepis Kekhawatiran Anda

Benarkah Toilet Duduk Jadi Sarang Penularan HPV? Simak Penjelasan Medis untuk Menepis Kekhawatiran Anda

Mengenali Gejala Awal Sebelum Terlambat

Penting bagi setiap koordinator lapangan maupun peserta aksi untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi sejak dini. Prof. Ari memaparkan bahwa gejala awal sering kali dimulai dengan hal-hal yang tampak sepele namun merupakan sinyal darurat dari tubuh. Rasa haus yang amat sangat, mulut yang terasa kering, hingga air liur yang mulai mengental dan lengket adalah tanda bahwa tubuh sudah mulai kekurangan bahan bakar cairnya.

Jika kondisi ini diabaikan, gejala akan berkembang menjadi lebih serius. Sakit kepala yang berdenyut, pusing berputar (vertigo), hingga penglihatan yang mulai kabur adalah indikasi bahwa dehidrasi sudah mulai memengaruhi sistem saraf pusat. Dalam tahap yang lebih berat, seseorang bisa mengalami kram otot yang hebat hingga kehilangan kesadaran atau pingsan secara tiba-tiba.

Baca Juga

Menkes Budi Gunadi Tekan Angka Serangan Jantung Lewat Puskesmas, Strategi Jitu Hemat Anggaran JKN Rp 17 Triliun

Menkes Budi Gunadi Tekan Angka Serangan Jantung Lewat Puskesmas, Strategi Jitu Hemat Anggaran JKN Rp 17 Triliun

“Fenomena demonstran yang pingsan saat aksi bukanlah hal baru. Sering kali, hal ini terjadi karena mereka terlalu fokus pada orasi dan suasana aksi sehingga melupakan kebutuhan dasar tubuh mereka sendiri. Kelelahan yang berpadu dengan kurangnya asupan cairan adalah kombinasi yang berbahaya,” jelasnya dalam konteks kesehatan masyarakat.

Strategi Hidrasi: Apa yang Harus Diminum?

Menjaga tubuh tetap terhidrasi di tengah demonstrasi memerlukan strategi yang tepat. Prof. Ari menyarankan agar para peserta aksi tidak hanya mengandalkan air mineral biasa jika aktivitas dilakukan dalam waktu yang sangat lama dan intens. Penggunaan minuman isotonik sangat dianjurkan karena mengandung elektrolit yang dapat menggantikan mineral yang hilang bersama keringat.

Selain itu, ada satu tips penting yang sering dilupakan: hindari mengonsumsi air yang terlalu dingin atau es secara berlebihan saat tubuh sedang sangat panas. Perbedaan suhu yang ekstrem antara suhu tubuh internal dan minuman dingin dapat memicu kontraksi tiba-tiba pada otot tenggorokan dan sistem pencernaan, yang berisiko menyebabkan iritasi atau gangguan kenyamanan selama beraksi.

“Kalau sudah mulai terasa haus atau mulut kering, jangan ditunda. Segera minum sedikit demi sedikit namun rutin (sipping). Jangan menunggu sampai merasa lemas baru mencari air,” imbau Prof. Ari. Membawa botol minum pribadi yang mudah diakses adalah langkah preventif paling sederhana namun paling efektif bagi setiap individu yang turun ke jalan.

Air Minum Sebagai Jembatan Empati dan Perdamaian

Menariknya, isu dehidrasi ini tidak hanya menyasar para pengunjuk rasa. Aparat keamanan yang berjaga, seperti kepolisian dan TNI, juga menghadapi risiko yang persis sama. Mereka berdiri tegak dengan seragam lengkap dan peralatan pengamanan yang berat di bawah sinar matahari yang sama menyengatnya. Ketegangan antara dua pihak sering kali meningkat ketika kedua belah pihak sama-sama mengalami kelelahan fisik dan dehidrasi.

Dalam pandangan Prof. Ari, air minum bisa menjadi simbol empati yang mampu mendinginkan suasana politik yang memanas. Langkah sederhana seperti saling berbagi air minum atau menyediakan posko-posko air gratis baik bagi demonstran maupun petugas keamanan dapat menjadi instrumen peredam konflik. Ketika kebutuhan fisik dasar terpenuhi, emosi akan lebih stabil, dan dialog dapat berjalan dengan lebih kondusif.

Peringatan dari Guru Besar FKUI ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan untuk hak-hak buruh dan kesejahteraan pekerja tidak boleh mengabaikan keselamatan diri sendiri. Demo yang sehat adalah demo yang dilakukan dengan kesadaran penuh, energi yang terjaga, dan emosi yang terkendali. Dengan menjaga asupan cairan, kita tidak hanya menjaga kesehatan organ tubuh, tetapi juga menjaga marwah demokrasi agar tetap berjalan damai dan bermartabat.

Mari jadikan May Day 2026 sebagai momentum aksi yang tidak hanya kuat secara narasi, tetapi juga sehat secara fisik. Pastikan botol air minum Anda selalu penuh sebelum melangkah menuju barisan perjuangan.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *