Inspirasi Abadi: Kisah Djonady Sugiaman, Meraih Gelar Magister Biomedik di Usia 70 Tahun

Siska Wijaya | Menit Ini
30 Apr 2026, 10:52 WIB
Inspirasi Abadi: Kisah Djonady Sugiaman, Meraih Gelar Magister Biomedik di Usia 70 Tahun

MenitIni — Sebuah pemandangan yang tidak biasa sekaligus mengharukan terekam dalam seremoni wisuda Universitas YARSI pada 25 April 2026. Di tengah deretan wisudawan yang mayoritas didominasi oleh wajah-wajah muda nan segar, muncul sosok pria bersahaja dengan gurat usia yang matang namun memancarkan binar semangat yang luar biasa. Pria tersebut adalah Bapak Djonady Sugiaman, M.Biomed., yang baru saja resmi menyandang gelar Magister di usia yang genap menyentuh kepala tujuh.

Momen ini menjadi kian spesial lantaran Direktur Pascasarjana yang menyerahkan ijazah tersebut, Prof. Tjandra Yoga Aditama, ternyata memiliki usia yang sama persis dengan sang wisudawan. Sebuah fenomena langka dalam dunia pendidikan tinggi di mana guru besar dan muridnya berdiri di panggung yang sama sebagai teman sebaya, membuktikan bahwa koridor ilmu pengetahuan tidak pernah memandang batas tanggal lahir seseorang.

Baca Juga

Viral Surat Peralihan Status Nakes Non-ASN Jadi CPNS, Kemenkes: Ini Pendataan, Bukan Pengangkatan Langsung

Viral Surat Peralihan Status Nakes Non-ASN Jadi CPNS, Kemenkes: Ini Pendataan, Bukan Pengangkatan Langsung

Sinergi Sebaya: Ketika Guru Besar dan Mahasiswa Berusia Sama

Dalam narasi yang dibagikan oleh Prof. Tjandra Yoga Aditama, ia mengungkapkan rasa kagumnya terhadap perjalanan akademik Djonady Sugiaman. Jarang sekali ditemukan sebuah institusi pendidikan di mana direktur pascasarjananya memberikan ijazah kepada lulusan yang secara kronologis adalah rekan seangkatannya dalam perjalanan hidup. Universitas YARSI mencatat sejarah tersendiri dengan meluluskan mahasiswa berusia 70 tahun yang tetap gigih menyelesaikan studi magisternya tepat waktu.

Interaksi antara keduanya bukan sekadar hubungan formal antara dosen dan mahasiswa, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana gairah intelektual bisa menyatukan dua individu dalam visi yang sama. Prof. Tjandra menegaskan bahwa kehadiran Djonady di ruang kelas memberikan warna tersendiri bagi dinamika perkuliahan pascasarjana, di mana pengalaman hidup bertemu dengan teori-teori akademis yang mutakhir.

Baca Juga

Misteri Kerentanan Anak Terhadap Influenza: Mengapa Si Kecil Lebih Mudah Tumbang dan Bagaimana Cara Membentenginya?

Misteri Kerentanan Anak Terhadap Influenza: Mengapa Si Kecil Lebih Mudah Tumbang dan Bagaimana Cara Membentenginya?

Jejak Akademik Global yang Tak Pernah Padam

Djonady Sugiaman bukanlah sosok baru dalam dunia pendidikan. Jauh sebelum ia meraih gelar dari Universitas YARSI, ia telah menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Pada tahun 1990, di saat usianya masih menginjak 36 tahun, Djonady telah berhasil meraih gelar Master of Science (MSc) dari Stockholm University, Swedia. Pencapaian ini menunjukkan bahwa sejak muda, ia telah memiliki standar akademik yang sangat tinggi.

Setelah melanglang buana di berbagai bidang pengabdian dan profesional selama puluhan tahun, banyak orang mungkin akan memilih untuk menikmati masa pensiun dengan santai. Namun, Djonady justru memilih untuk kembali masuk ke lab dan ruang perpustakaan. Ia memilih program Magister Biomedik, sebuah bidang yang menuntut ketelitian tinggi dan pemahaman mendalam tentang ilmu biologi kedokteran yang terus berkembang pesat.

Baca Juga

Paradoks Keadilan di FH UI: Ketika Benteng Hukum Terguncang Kasus Pelecehan Seksual

Paradoks Keadilan di FH UI: Ketika Benteng Hukum Terguncang Kasus Pelecehan Seksual

Warisan Intelektual dalam Keluarga

Semangat belajar Djonady Sugiaman tampaknya mengalir deras dalam darah keturunannya. Bak pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kedua anak Djonady juga merupakan akademisi yang berprestasi di tingkat dunia. Anak pertamanya adalah lulusan PhD dari Karolinska Institute, salah satu universitas medis paling prestisius di dunia yang juga menjadi tempat penentuan pemenang Nobel Kedokteran.

Sementara itu, anak keduanya tidak kalah gemilang dengan meraih gelar Master dari Harvard University, universitas legendaris di Amerika Serikat. Keberhasilan anak-anaknya ini seolah menjadi cermin dari pola didik dan nilai-nilai yang ditanamkan Djonady dalam keluarganya. Budaya belajar yang kuat menjadi fondasi utama bagi keluarga ini untuk terus berkontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di level global.

Baca Juga

Menjaga Masa Depan Si Kecil: Mengapa Vaksin Campak Menjadi Perlindungan Mutlak yang Tak Boleh Diabaikan

Menjaga Masa Depan Si Kecil: Mengapa Vaksin Campak Menjadi Perlindungan Mutlak yang Tak Boleh Diabaikan

Motivasi di Balik Gelar Kedua di Usia Senja

Banyak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dicari oleh seorang pria berusia 68 tahun saat pertama kali memutuskan mendaftar kembali sebagai mahasiswa pascasarjana? Mengapa ia bersedia mengalokasikan waktunya untuk riset dan tesis di usia yang seharusnya sudah bebas dari beban akademis? Djonady memiliki dua alasan fundamental yang sangat inspiratif.

Pertama, ia merasa perlu untuk terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat dinamis. Di bidang biomedik, temuan baru muncul hampir setiap hari. Djonady tidak ingin hanya menjadi penonton, ia ingin memahami mekanisme kehidupan dari perspektif sains yang paling mutakhir. Kedua, ia memiliki hasrat besar untuk menerapkan ilmu tersebut secara praktis dalam kehidupan nyata dan kegiatan lapangan. Baginya, ilmu tidak boleh hanya berhenti di atas kertas, tetapi harus memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga

Sido HerbalPedia: Revolusi Digital Sido Muncul Membawa Jamu ke Panggung Sains Global

Sido HerbalPedia: Revolusi Digital Sido Muncul Membawa Jamu ke Panggung Sains Global

Teladan bagi Generasi Muda Indonesia

Kisah sukses Djonady Sugiaman merupakan tamparan halus bagi generasi muda yang sering kali merasa cepat puas atau malah mudah menyerah dalam menuntut ilmu. Di tengah gempuran tren instan, Djonady menunjukkan bahwa proses belajar adalah perjalanan seumur hidup (lifelong learning). Tidak ada istilah “terlambat” selama keinginan untuk tahu masih menyala di dalam hati.

Universitas YARSI sendiri merasa sangat bangga bisa menjadi rumah bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang usia. Keberadaan sosok seperti Djonady memberikan motivasi tambahan bagi mahasiswa lain yang berusia jauh lebih muda. Jika seseorang yang berusia 70 tahun mampu menyelesaikan beban studi kurikulum biomedik yang berat, maka tidak ada alasan bagi generasi Z untuk tidak memberikan usaha terbaik mereka dalam menempuh pendidikan.

Kesimpulan: Ilmu Pengetahuan Sebagai Penjaga Jiwa

Penyerahan ijazah kepada Djonady Sugiaman bukan sekadar acara seremonial kelulusan biasa. Ini adalah perayaan atas keteguhan manusia dalam mencari kebenaran ilmiah. Prof. Tjandra Yoga Aditama menutup momen tersebut dengan pesan yang mendalam bahwa perkembangan ilmu pengetahuan saat ini berlari sangat kencang, dan hanya mereka yang terus belajar yang dapat mengimbanginya.

Selamat kepada Bapak Djonady Sugiaman, MSc., M.Biomed. Prestasi Anda bukan hanya tentang deretan gelar di belakang nama, melainkan tentang teladan luar biasa yang Anda berikan bagi pendidikan anak bangsa. Anda membuktikan bahwa usia hanyalah angka, sementara semangat untuk belajar adalah sesuatu yang abadi.

Bagi Anda yang ingin mengikuti jejak inspiratif ini atau mencari informasi terkait peluang studi lanjut, jangan ragu untuk melakukan penelusuran lebih dalam mengenai beasiswa pascasarjana atau program-program unggulan di universitas-universitas terkemuka tanah air. Mari terus belajar, karena dengan ilmu, kita dapat memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa ini.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *