Tragedi Daycare Little Aresha: Peringatan Keras IDAI Soal Luka Psikologis Anak dan Urgensi Reformasi Pengasuhan

Siska Wijaya | Menit Ini
29 Apr 2026, 18:54 WIB
Tragedi Daycare Little Aresha: Peringatan Keras IDAI Soal Luka Psikologis Anak dan Urgensi Reformasi Pengasuhan

MenitIni — Dunia pengasuhan anak di Indonesia kembali diguncang kabar memilukan yang menyayat hati nurani publik. Kasus kekerasan yang terjadi di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, bukan sekadar fenomena kriminal biasa, melainkan sebuah alarm keras bagi sistem perlindungan anak di tanah air. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan perhatian serius terhadap insiden ini, mengingat dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa luka fisik, melainkan trauma psikologis yang mungkin akan dibawa sang anak hingga dewasa.

Kengerian yang Melampaui Batas Kemanusiaan

Kasus di Yogyakarta ini mencuat setelah berbagai bukti kekerasan terhadap balita terungkap ke publik. Perlakuan yang diterima oleh para korban digambarkan sangat tidak manusiawi. Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, dalam sebuah diskusi daring belum lama ini, menyatakan kemarahan sekaligus keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut.

Baca Juga

Strategi Baru Kemenkes: Label ‘Nutri Level’ Hadir Jadi ‘Alarm’ Penyelamat dari Ancaman Diabetes

Strategi Baru Kemenkes: Label ‘Nutri Level’ Hadir Jadi ‘Alarm’ Penyelamat dari Ancaman Diabetes

“Tentu ini sangat tidak bisa diterima. Bayangkan, ada anak yang diikat bahkan ditelanjangi. Itu sudah seperti perilaku terhadap binatang, sama sekali tidak mengenal rasa perikemanusiaan, apalagi ini dilakukan kepada anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang,” tegas Piprim dengan nada bicara yang berat.

Ironisnya, saat publik masih mencoba mencerna kengerian di Yogyakarta, kasus serupa justru kembali meledak di wilayah lain. Kasus kekerasan anak di sebuah taman pengasuhan anak di Aceh seolah menjadi tamparan bahwa ada celah besar dalam sistem pengawasan institusi penitipan anak di Indonesia. Kejadian yang berulang ini menunjukkan bahwa regulasi yang ada saat ini masih memiliki celah yang bisa dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Baca Juga

Skandal FH UI: Komnas Perempuan Desak Kasus Pelecehan Dibawa ke Jalur Pidana, Bukan Sekadar Etik

Skandal FH UI: Komnas Perempuan Desak Kasus Pelecehan Dibawa ke Jalur Pidana, Bukan Sekadar Etik

Mengenali Luka Tak Kasatmata: Trauma Mendalam pada Buah Hati

Dampak dari kekerasan di usia dini jauh lebih kompleks daripada luka luar. Menurut IDAI, anak-anak yang menjadi korban penganiayaan di tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua mereka akan mengalami guncangan psikologis hebat. Rasa percaya (trust) terhadap lingkungan sekitar akan runtuh, dan ini bisa menghambat perkembangan karakter mereka di masa depan.

Piprim menekankan bahwa pencegahan adalah kunci utama karena luka batin sering kali lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Anak yang mengalami trauma di daycare mungkin akan menunjukkan perubahan perilaku yang drastis. Kesehatan mental anak menjadi taruhan utama dalam setiap detik pengabaian yang terjadi di lembaga-lembaga pengasuhan yang tidak kompeten.

Baca Juga

Mengenal Musuh dalam Selimut: Mengapa Deteksi Dini Penyakit Kronis Menjadi Investasi Hidup Paling Berharga

Mengenal Musuh dalam Selimut: Mengapa Deteksi Dini Penyakit Kronis Menjadi Investasi Hidup Paling Berharga

“Paling utama adalah pencegahan karena traumanya bisa sangat mendalam dan membekas. Kita tidak ingin generasi masa depan kita tumbuh dengan memori kelam tentang kekerasan yang mereka terima di masa kecil,” tambahnya. IDAI berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini agar seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga penegak hukum, memberikan perhatian yang setara.

Waspada ‘Red Flag’: Pesan IDAI untuk Para Orang Tua

Di tengah tuntutan pekerjaan yang tinggi, banyak orang tua modern yang tidak memiliki pilihan selain menitipkan buah hati mereka ke daycare. Namun, peristiwa di Little Aresha menjadi pelajaran berharga agar orang tua tidak sembarang memilih. Piprim berpesan agar para orang tua meningkatkan intuisi dan kewaspadaan mereka terhadap tanda-tanda kecil yang ditunjukkan oleh anak.

Baca Juga

Studi Terbaru: Anemia dan Stunting Jadi ‘Pencuri’ Fokus dan Daya Ingat Anak, Ini Penjelasan Pakar

Studi Terbaru: Anemia dan Stunting Jadi ‘Pencuri’ Fokus dan Daya Ingat Anak, Ini Penjelasan Pakar

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh orang tua:

  • Perubahan Perilaku Mendadak: Jika anak tiba-tiba menjadi sangat histeris, ketakutan, atau menangis tidak wajar saat akan diantar ke daycare, itu adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang salah.
  • Tanda Fisik yang Mencurigakan: Lebam, bekas ikatan, atau ruam yang tidak bisa dijelaskan alasannya oleh pengelola daycare harus segera diinvestigasi.
  • Jangan Tergiur Harga Murah: Piprim mengingatkan agar orang tua tidak mudah tergiur oleh promosi bombastis atau harga yang miring tanpa memeriksa kualitas layanan dan integritas pengelola.
  • Kewajiban Fasilitas CCTV: Keberadaan CCTV yang bisa diakses oleh orang tua secara real-time bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk transparansi.

“Buat orang tua, memang perlu lebih sadar (aware) soal tanda kekerasan pada anak, baik fisik maupun psikis. Jika anak menolak dengan cara yang ekstrem saat diajak ke daycare, jangan diabaikan,” pesan Piprim.

Baca Juga

Bukan Sekadar Tren, Ini Deretan Manfaat WFH bagi Kesehatan dan Aturan Baru ASN yang Perlu Anda Tahu

Bukan Sekadar Tren, Ini Deretan Manfaat WFH bagi Kesehatan dan Aturan Baru ASN yang Perlu Anda Tahu

Revolusi Pengawasan: Dari ‘Penitipan’ Menuju ‘Pengasuhan’

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Unit Kerja Koordinator Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, menyoroti hal fundamental terkait terminologi. Selama ini masyarakat terbiasa menggunakan istilah Tempat Penitipan Anak (TPA). Namun, menurut Fitri, istilah “titip” lebih identik dengan benda mati atau barang.

“Kita harus mengubah cara pandang kita. Ubah penyebutan daycare sebagai Tempat Penitipan Anak menjadi Tempat Pengasuhan Anak. Karena yang ada di sana adalah nyawa, manusia kecil yang sedang tumbuh, bukan barang yang sekadar ditaruh lalu ditinggalkan,” ujar Fitri. Perubahan istilah ini diharapkan mampu mengubah pola pikir pengelola daycare agar lebih bertanggung jawab dalam memberikan asuhan yang humanis dan edukatif.

Lima Rekomendasi Strategis IDAI untuk Keamanan Daycare

Untuk memutus rantai kekerasan ini, IDAI mengeluarkan rekomendasi strategis yang ditujukan kepada pemerintah dan instansi terkait. Langkah-langkah ini dianggap mendesak untuk segera diimplementasikan guna menciptakan ekosistem pengasuhan yang aman.

  1. Implementasi Landasan Regulasi yang Ketat: Penyusunan protokol pengawasan terpadu harus segera dilakukan dengan mengacu pada Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 dan Surat Edaran Menteri PPPA Nomor 61 Tahun 2020.
  2. Audit Berkala dan Transparansi Publik: Setiap lembaga wajib menjalani verifikasi lintas sektor minimal dua kali setahun. Hasil audit ini harus dipublikasikan agar orang tua tahu mana daycare yang memiliki rapor hijau dan mana yang merah.
  3. Modernisasi Sistem Evaluasi: Proses birokrasi manual yang lambat harus ditinggalkan. IDAI mendorong peralihan ke sistem digital untuk memantau perizinan dan akreditasi secara lebih efisien.
  4. Digitalisasi Pengawasan Real-Time: Pemerintah didorong membangun platform terintegrasi yang memungkinkan pemantauan data secara langsung. Ini mencakup legalitas institusi hingga rekam jejak para pengasuh yang bekerja di sana.
  5. Pelatihan Pengasuh Bersertifikat: Pengasuhan anak usia dini memerlukan keahlian khusus. Para pengasuh harus melewati uji kompetensi psikologis dan teknis sebelum diizinkan menangani anak-anak.

Masalah kekerasan di daycare adalah masalah kolektif yang membutuhkan solusi sistemik. Kasus Little Aresha harus menjadi titik balik bagi Indonesia untuk membenahi regulasi daycare secara menyeluruh. Kita tidak boleh menunggu ada korban berikutnya untuk bertindak. Masa depan anak-anak kita bergantung pada seberapa serius kita melindungi mereka hari ini.

MenitIni akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan memberikan informasi edukatif bagi para orang tua di seluruh Indonesia agar tetap waspada dan cerdas dalam memilih tempat pengasuhan bagi sang buah hati.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *