Indonesia Darurat Tuberkulosis: 1 Juta Kasus Setahun, Ratusan Ribu Pasien Masih ‘Berkeliaran’ Tanpa Obat
MenitIni — Ancaman senyap tuberkulosis (TB) masih menjadi momok menakutkan bagi kesehatan masyarakat di tanah air. Berdasarkan data terbaru, Indonesia diperkirakan menghadapi 1.090.000 kasus baru setiap tahunnya. Namun, sebuah fakta mengkhawatirkan terungkap: tidak semua pasien tersebut terdeteksi oleh sistem kesehatan nasional.
Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin P. Octavianus, atau yang akrab disapa Benny, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, tercatat baru sekitar 867 ribu kasus yang berhasil masuk dalam radar pengobatan. Hal ini berarti masih ada sekitar 300 ribu orang yang mengidap tuberkulosis namun belum mendapatkan perawatan medis yang semestinya.
Rantai Penularan yang Sulit Putus
Benny menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mengobati yang sudah sakit, melainkan menemukan mereka yang belum terdeteksi. Tanpa penanganan medis, penderita TB akan terus menjadi sumber penularan di tengah masyarakat.
“Selama kasusnya masih ada di tengah warga, otomatis kuman ini akan terus menginfeksi orang lain. Logikanya sama seperti saat pandemi COVID-19 lalu; selama virusnya masih aktif dan orangnya tidak diisolasi atau diobati, dia akan terus menularkan,” ujar Benny dalam konferensi pers memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta.
Indonesia Peringkat Kedua Dunia
Angka satu juta kasus per tahun ini menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup memprihatinkan di kancah global. Saat ini, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total beban TB dunia. Secara statistik, posisi kita berada di peringkat kedua terbanyak secara global, tepat di bawah India.
Dr. Setiawan Jati Laksono, perwakilan dari World Health Organization (WHO) Indonesia, menjelaskan bahwa fenomena ‘gap’ atau selisih antara estimasi kasus dan temuan lapangan ini juga terjadi secara global. Dari sekitar 10,7 juta kasus TB di dunia, terdapat celah sekitar 2,4 juta kasus yang belum ditemukan. Di Asia, Filipina kini berada di posisi ketiga, sementara China menunjukkan tren positif dengan turun ke peringkat keempat.
Kolaborasi Lintas Sektor: Tak Cukup Hanya Obat
Menghadapi tingginya angka kasus TBC, Kementerian Kesehatan menyadari bahwa pendekatan medis saja tidak akan cukup. Diperlukan kerja sama lintas sektoral karena akar masalah TB sering kali berkaitan dengan kondisi lingkungan dan kemiskinan.
- Kementerian Dalam Negeri: Diperlukan koordinasi kuat dengan kepala daerah untuk optimalisasi Puskesmas dan RSUD.
- Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP): Memperbaiki rumah tidak layak huni yang menjadi sarang berkembangnya bakteri.
- Kementerian Sosial dan Lingkungan Hidup: Fokus pada edukasi dan peningkatan kualitas hidup pasien di desil ekonomi rendah.
Satu fakta ilmiah yang perlu diketahui masyarakat adalah karakter kuman Mycobacterium tuberculosis yang sangat tangguh. Bakteri ini mampu bertahan hidup selama 1 hingga 3 bulan di dalam ruangan yang lembap, minim ventilasi, dan tidak terkena cahaya matahari. Padahal, kuman ini sebenarnya sangat rapuh jika terkena sinar ultraviolet secara langsung.
“Kuman TB itu kalau kena matahari langsung selama 30 menit saja sudah mati. Itulah mengapa perbaikan sanitasi dan ventilasi rumah sangat krusial dalam memutus rantai penularan,” tutup Benny. Sejauh ini, pemerintah melalui Kementerian PKP dilaporkan telah mengintervensi sekitar 2.000 rumah pasien TB untuk dijadikan hunian yang lebih sehat dan layak.