Solusi Inovatif IPB: Mengolah Ikan Sapu-Sapu Menjadi Pupuk Organik Cair Bernilai Tinggi

Siska Wijaya | Menit Ini
29 Apr 2026, 12:52 WIB
Solusi Inovatif IPB: Mengolah Ikan Sapu-Sapu Menjadi Pupuk Organik Cair Bernilai Tinggi

MenitIni — Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di aliran sungai perkotaan, khususnya di Jakarta, seringkali dipandang sebagai beban lingkungan yang sulit teratasi. Ikan yang memiliki nama ilmiah dari famili Loricariidae ini dikenal memiliki daya tahan luar biasa, bahkan di perairan yang sangat tercemar sekalipun. Namun, di balik kemampuan adaptasinya yang ekstrem, tersimpan risiko kesehatan yang besar jika ikan ini masuk ke dalam rantai pangan manusia. Menanggapi dilema tersebut, pakar dari IPB University menawarkan sebuah solusi cerdas yang mengubah ancaman lingkungan ini menjadi peluang ekonomi yang ramah ekosistem.

Bahaya Tersembunyi di Balik Konsumsi Ikan Sapu-Sapu

Selama bertahun-tahun, muncul kekhawatiran mengenai penggunaan daging ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan olahan murah. Namun, Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, Prof. Mala Nurilmala, memberikan peringatan keras. Berdasarkan penelitian mendalam, ikan sapu-sapu yang diambil dari perairan yang terkontaminasi tidak layak untuk dikonsumsi, baik oleh manusia maupun digunakan sebagai bahan pakan ternak.

Baca Juga

Waspada Penularan Campak di Sekolah: Kenali Gejala ‘3C’ dan Protokol Penanganan Cepat dari Kemenkes

Waspada Penularan Campak di Sekolah: Kenali Gejala ‘3C’ dan Protokol Penanganan Cepat dari Kemenkes

Masalah utamanya terletak pada akumulasi logam berat, seperti timbal (Pb), merkuri, dan kadmium, yang mengendap di dalam tubuh ikan ini. Karena habitat aslinya di sungai-sungai besar perkotaan yang telah menjadi muara limbah industri dan domestik, ikan sapu-sapu bertindak layaknya penyerap polutan. Jika dikonsumsi, logam berat tersebut akan berpindah ke tubuh manusia dan dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kronis, mulai dari kerusakan saraf hingga risiko kanker dalam jangka panjang.

Transformasi Menjadi Pupuk Organik Cair

Melihat risiko tersebut, Prof. Mala menyarankan agar hasil pengendalian atau pembasmian ikan invasif ini tidak dibuang begitu saja menjadi limbah. Alih-alih menguburnya—yang juga memakan waktu lama untuk terurai karena kulitnya yang keras dan bersisik baja—ia merekomendasikan pengolahan menjadi pupuk organik cair khusus untuk tanaman hias.

Baca Juga

Sido HerbalPedia: Revolusi Digital Sido Muncul Membawa Jamu ke Panggung Sains Global

Sido HerbalPedia: Revolusi Digital Sido Muncul Membawa Jamu ke Panggung Sains Global

“Sebaiknya ikan sapu-sapu dimanfaatkan untuk pupuk cair tanaman hias. Memang tidak bisa digunakan lagi untuk makhluk hidup karena berada di perairan yang sangat tercemar oleh logam berat,” tegas Prof. Mala. Pendekatan ini dinilai sebagai langkah yang paling bijak dan aman. Unsur hara yang terkandung dalam jaringan tubuh ikan, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, tetap bermanfaat bagi pertumbuhan vegetasi tanpa membahayakan kesehatan manusia melalui jalur konsumsi.

Risiko Akumulasi dalam Rantai Makanan

Prof. Mala menjelaskan lebih lanjut bahwa sifat logam berat adalah menetap dan terakumulasi (bioakumulasi). Jika ikan dari perairan tercemar dijadikan tepung ikan untuk pakan ayam atau lele, maka logam berat tersebut akan berpindah ke hewan ternak tersebut. Pada akhirnya, manusia yang mengonsumsi daging ternak tersebut akan tetap terpapar zat berbahaya.

Baca Juga

Bahaya Tersembunyi di Balik Botol Vitamin: Mengapa Rutin Minum Suplemen Tanpa Panduan Bisa Berisiko Bagi Kesehatan?

Bahaya Tersembunyi di Balik Botol Vitamin: Mengapa Rutin Minum Suplemen Tanpa Panduan Bisa Berisiko Bagi Kesehatan?

Dengan mengubahnya menjadi pupuk untuk tanaman non-pangan (tanaman hias), rantai paparan ini diputus. Logam berat mungkin akan terserap oleh tanaman hias, namun karena tanaman tersebut tidak untuk dimakan, risiko kesehatan bagi manusia dapat ditekan hingga titik nol. Ini adalah bentuk penerapan ekonomi sirkular di mana limbah biologis diubah menjadi input produktif bagi sektor florikultura.

Karakteristik Invasif yang Mengancam Ekosistem Lokal

Ikan sapu-sapu bukan sekadar penghuni sungai yang pasif. Di Indonesia, mereka dikategorikan sebagai spesies invasif yang mampu mendominasi habitat dengan sangat cepat. Ketidakhadiran predator alami di sungai-sungai tercemar membuat populasi mereka meledak tak terkendali. Mereka seringkali memakan telur ikan lokal dan berkompetisi memperebutkan sumber daya makanan, yang pada akhirnya merusak keanekaragaman hayati asli nusantara.

Baca Juga

Rahasia Pernikahan Langgeng: 7 Fondasi Utama Menciptakan Hubungan Harmonis dan Bahagia

Rahasia Pernikahan Langgeng: 7 Fondasi Utama Menciptakan Hubungan Harmonis dan Bahagia

Prof. Mala menyoroti bahwa secara alami, ikan ini sebenarnya bisa membantu menyerap sebagian logam di perairan. Namun, ketika ekosistem kehilangan keseimbangannya, keberadaan mereka yang terlalu masif justru menjadi bumerang. Oleh karena itu, upaya pengurangan populasi secara rutin memang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan ekologi sungai.

Teknis Sederhana Pengolahan Limbah Ikan

Secara teknis, pengolahan ikan sapu-sapu menjadi pupuk cair tidaklah terlalu rumit. Proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme pengurai dapat menghancurkan protein dan jaringan ikan menjadi nutrisi siap serap bagi tanaman. Mengingat struktur tubuh ikan sapu-sapu yang sangat keras (berlapis tulang/scutes), proses penghancuran secara mekanis atau fermentasi jangka panjang diperlukan agar seluruh bagian tubuhnya bisa terurai sempurna.

Baca Juga

Mitos Blau pada Gondongan: Benarkah Bisa Menyembuhkan atau Justru Membahayakan Masa Depan Anak?

Mitos Blau pada Gondongan: Benarkah Bisa Menyembuhkan atau Justru Membahayakan Masa Depan Anak?

Langkah ini tidak hanya memberikan solusi bagi masalah populasi ikan invasif, tetapi juga membantu masyarakat, khususnya pecinta tanaman hias, untuk mendapatkan sumber pupuk organik yang murah dan efektif. Nutrisi dari ikan dikenal sangat baik untuk merangsang warna daun dan kekuatan batang pada berbagai jenis tanaman hias tropis.

Pengecualian untuk Perairan Bersih

Meskipun ikan sapu-sapu dari sungai Jakarta dan kota besar lainnya sangat berbahaya, Prof. Mala mencatat adanya pengecualian. Jika ikan ini ditemukan hidup di perairan yang benar-benar bersih dan belum terjamah limbah industri, pada dasarnya ikan ini bisa dimanfaatkan sebagaimana ikan air tawar lainnya. Namun, mengingat kondisi mayoritas sungai di wilayah urban saat ini, anggapan bahwa ikan sapu-sapu aman dikonsumsi harus dibuang jauh-jauh.

Kesimpulan: Menuju Lingkungan yang Lebih Sehat

Langkah inovatif yang disuarakan oleh pakar IPB University ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa solusi lingkungan seringkali menuntut cara berpikir yang berbeda. Pembasmian ikan sapu-sapu tidak harus berakhir di tempat pembuangan sampah. Dengan sentuhan teknologi dan pengetahuan, limbah biologis yang berbahaya bagi kesehatan dapat diubah menjadi nutrisi yang menyuburkan estetika lingkungan melalui tanaman hias.

Pemanfaatan ini diharapkan dapat mendorong gerakan pembersihan sungai secara kolektif, di mana masyarakat memiliki insentif tambahan untuk menangkap ikan invasif ini demi diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Pada akhirnya, kebijakan ini akan mendukung terciptanya ekosistem perairan yang lebih seimbang dan masyarakat yang lebih sehat terhindar dari ancaman logam berat.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *