Ekspansi Startup Indonesia di SusHi Tech Tokyo 2026: Dari Inovasi Limbah Kopi Hingga Revolusi AI Visa

Rendi Saputra | Menit Ini
29 Apr 2026, 10:51 WIB
Ekspansi Startup Indonesia di SusHi Tech Tokyo 2026: Dari Inovasi Limbah Kopi Hingga Revolusi AI Visa

MenitIni — Panggung teknologi dunia kembali menjadi saksi bisu bagi ketangguhan inovasi anak bangsa. Empat startup terpilih asal Indonesia bersiap menggebrak ajang Sustainable High-City Technology (SusHi Tech) Tokyo 2026, sebuah perhelatan prestisius yang mempertemukan para inovator global di jantung Jepang. Melalui program BEKUP Global Scale-Up yang digawangi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), keempat perusahaan rintisan ini membawa misi besar: membuktikan bahwa teknologi lokal mampu menjawab tantangan global sekaligus merambah pasar internasional yang sangat kompetitif.

Misi Diplomasi Ekonomi dan Teknologi di Tokyo

Partisipasi Indonesia dalam SusHi Tech Tokyo bukan sekadar ajang pameran produk. Ini adalah langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem startup internasional. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dalam keterangannya di Jakarta baru-baru ini, menegaskan bahwa proses pemilihan empat entitas ini dilakukan melalui kurasi yang sangat ketat untuk memastikan mereka benar-benar siap melakukan penetrasi pasar di Negeri Sakura.

Baca Juga

Resep Telur Daging Kukus yang Lembut bak Puding: Tips dan Cara Membuat Hidangan Sehat untuk Keluarga

Resep Telur Daging Kukus yang Lembut bak Puding: Tips dan Cara Membuat Hidangan Sehat untuk Keluarga

“Saat ini, empat startup pilihan telah bersiap untuk menjalani proses benchmarking dan business matching. Kami ingin mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mencari peluang kolaborasi yang lebih luas dan konkret di SusHi Tech Tokyo,” ujar Teuku Riefky dengan nada optimis. Kehadiran mereka diharapkan menjadi jembatan bagi kerja sama ekonomi yang lebih dalam antara Indonesia dan Jepang, terutama dalam pemanfaatan teknologi masa depan.

Bell Living Lab: Revolusi Kulit Vegan dari Ampas Kopi

Salah satu sorotan utama jatuh pada Bell Living Lab. Startup ini membawa inovasi yang sangat selaras dengan semangat keberlanjutan lingkungan yang sedang menjadi tren global. Arka Irfani, sang pendiri, menceritakan bagaimana perjalanan lima tahunnya mengubah limbah menjadi barang bernilai tinggi. Berawal dari bangku kuliah di ITB, Arka mengeksplorasi proses fermentasi bakteri yang mampu menghasilkan serat filamen kuat.

Baca Juga

Stok Sambal Sepekan: 7 Kreasi Sambal Nusantara yang Praktis dan Menggugah Selera

Stok Sambal Sepekan: 7 Kreasi Sambal Nusantara yang Praktis dan Menggugah Selera

Metode yang digunakan mirip dengan pembuatan nata de coco, namun dengan hasil akhir yang jauh lebih fleksibel, kokoh, dan berukuran besar. Material ini diposisikan sebagai alternatif kulit (leather) untuk industri fesyen dan furnitur. Dengan mengolah ampas kopi dari para petani dan roastery lokal, Bell Living Lab telah mengembangkan lebih dari 30 varian produk, mulai dari lembaran kulit sintetis hingga papan material keras yang ramah lingkungan.

“Kami melihat kesadaran akan produk ramah lingkungan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali terus meningkat. Namun, pasar Jepang adalah target yang sangat potensial karena mereka memiliki apresiasi yang sangat tinggi terhadap produk berbasis sustainability,” ungkap Arka. Melalui ajang ini, ia berharap bisa menggaet investor global yang memiliki visi serupa dalam menjaga bumi.

Baca Juga

Menyelami Surga Bahari Nusantara: Strategi Kemenpar Memperkuat Pasar dan Standar Keamanan Wisata Selam

Menyelami Surga Bahari Nusantara: Strategi Kemenpar Memperkuat Pasar dan Standar Keamanan Wisata Selam

SPUN: Memangkas Birokrasi dengan Kecerdasan Buatan

Sektor jasa juga tak kalah inovatif dengan kehadiran SPUN. Startup yang baru berusia dua tahun ini fokus pada pembangunan infrastruktur pengurusan visa secara daring. Memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), SPUN menawarkan solusi bagi pelancong maupun pebisnis yang seringkali terkendala oleh rumitnya birokrasi dokumen internasional.

CEO dan co-founder SPUN Global, Christa Sabathaly, menjelaskan bahwa teknologi mereka mampu memetakan kebutuhan visa dari ratusan negara secara otomatis. Salah satu fitur unggulannya adalah Visa Approval Scoring. Sistem ini mampu memprediksi persentase keberhasilan pengajuan visa sebelum pengguna menyerahkannya ke pusat aplikasi. Hal ini sangat krusial karena penolakan visa tidak hanya membuang waktu, tetapi juga merugikan secara finansial.

Baca Juga

Resep Bolu Chiffon Takaran Sendok: Rahasia Tekstur Selembut Awan Tanpa Ribet Timbangan

Resep Bolu Chiffon Takaran Sendok: Rahasia Tekstur Selembut Awan Tanpa Ribet Timbangan

“Dengan sistem kami, agen perjalanan maupun individu bisa memiliki kepastian lebih tinggi. Kami telah mengintegrasikan sekitar 400 kerangka kerja visa ke dalam sistem AI kami, sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan secara manual dengan kecepatan yang sama,” jelas Christa. Di Tokyo nanti, SPUN membidik kerja sama B2B dengan perusahaan perjalanan global.

Gapai dan IJO: Mengisi Celah Tenaga Kerja dan Keberlanjutan

Di sisi lain, Gapai hadir sebagai solusi atas tantangan ketenagakerjaan global. Fokus mereka adalah menghubungkan tenaga kerja terampil Indonesia dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri, khususnya Jepang, di sektor hospitalitas, manufaktur, dan kesehatan. Mengingat Jepang sedang menghadapi tantangan demografi dengan populasi yang menua, kehadiran Gapai dianggap sangat relevan untuk menyuplai tenaga kerja berkualitas tinggi dari Indonesia.

Baca Juga

Rahasia Merebus Daging Sapi Agar Cepat Empuk: Tips Cerdas Hemat Gas yang Wajib Anda Coba

Rahasia Merebus Daging Sapi Agar Cepat Empuk: Tips Cerdas Hemat Gas yang Wajib Anda Coba

Sementara itu, startup bernama IJO juga berfokus pada isu lingkungan, melengkapi barisan startup hijau Indonesia. Menekraf Riefky mencatat bahwa fokus pada aspek lingkungan ini merupakan nilai tawar yang sangat kuat bagi para pelaku usaha di Jepang. Investasi asing saat ini memang cenderung mengarah pada perusahaan yang menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

Optimisme Ekonomi dan Target Transaksi Jutaan Dolar

Kemenekraf melalui Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Muhammad Neil El Himam, menetapkan target yang jelas dari partisipasi ini. Pemerintah membidik setidaknya 20 hingga 32 pertemuan bisnis strategis yang diharapkan bisa membuahkan 12 hingga 22 kesepakatan kerja sama baru. Secara ekonomi, potensi transaksi awal diproyeksikan bisa menembus angka USD 1 juta hingga USD 5 juta.

Program BEKUP Global Scale-Up sendiri telah menjadi inkubator yang efektif. Dari 125 pendaftar di seluruh Indonesia, proses seleksi yang ketat hanya menyisakan empat startup terbaik. Proses kurasi ini bahkan melibatkan ahli dari Jepang, seperti Creww Inn dan TechShake, untuk memastikan bahwa inovasi yang dibawa memang memiliki market-fit yang tepat dengan kebutuhan pasar internasional.

Keikutsertaan di SusHi Tech Tokyo 2026 bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang membangun reputasi Indonesia sebagai pusat inovasi teknologi di Asia Tenggara. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi tanpa batas, keempat startup ini siap membuktikan bahwa solusi dari Indonesia mampu menjawab tantangan dunia modern.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *