Menyelami Surga Bahari Nusantara: Strategi Kemenpar Memperkuat Pasar dan Standar Keamanan Wisata Selam
MenitIni — Pesona bawah laut Indonesia tidak pernah gagal memikat mata dunia. Sebagai jantung dari segitiga terumbu karang dunia atau golden triangle, nusantara kini berada di garis depan pertumbuhan wisata bahari global. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan bahwa sektor diving atau selam rekreasi telah bertransformasi menjadi subsektor dengan laju pertumbuhan paling impresif saat ini.
Asisten Deputi Mancanegara 1 Deputi Pemasaran Kemenpar, Dedi Ahmad Kurnia, mengungkapkan bahwa posisi strategis Indonesia yang bersanding dengan Filipina dan wilayah Pasifik menjadikannya magnet bagi operator selam internasional. Hal ini terbukti dari membeludaknya paket wisata selam Indonesia yang dijajakan di pasar global. “Kami melihat antusiasme yang luar biasa saat promosi di luar negeri. Banyak agen perjalanan internasional yang menjadikan destinasi kita sebagai jualan utama mereka,” ujar Dedi dalam pembukaan Diving, Resort, and Travel (DRT) Show di ICE BSD City, Sabtu (18/4/2026).
Solusi Cerdas Busan Tekan ‘Getok Harga’ Jelang Konser BTS: Kuil dan Pusat Pelatihan Disulap Jadi Penginapan Terjangkau
Sinergi TTI: Pintu Masuk Investasi Melalui Pariwisata
Kemenpar kini tengah merajut konsep Tourism, Trade, and Investment (TTI). Dalam pandangan Dedi, pariwisata bukan sekadar kunjungan pelancong, melainkan gerbang pembuka bagi perdagangan dan investasi yang lebih masif di masa depan. Namun, ia memberikan catatan tebal: setiap investasi yang masuk wajib memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal serta tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Meskipun diving kerap dikategorikan sebagai wisata petualangan ekstrem, prinsip keberlanjutan tetap menjadi fondasi utama. “Pariwisata harus menjadi instrumen pelestarian. Harus ada keseimbangan yang presisi antara nilai ekonomi dan perlindungan alam. Inilah esensi dari pariwisata masa depan,” tegasnya.
Komitmen Keamanan: Belajar dari Labuan Bajo
Menyadari bahwa keselamatan adalah mata uang utama dalam industri pariwisata, Kemenpar bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menginisiasi kegiatan “Safety Talk”. Langkah ini diambil untuk memperkuat standar keamanan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi salah satu destinasi unggulan dunia.
Kontroversi Fatima Bosch: Sebut Miss Universe ‘Mengerikan’ Hingga Klarifikasi Pihak Organisasi
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, dalam arahannya menekankan bahwa kepercayaan wisatawan sangat bergantung pada jaminan keselamatan. Kemenpar telah memperkuat payung hukum melalui Permenpar No. 7 Tahun 2016 tentang Panduan Pelaksanaan Selam Rekreasi dan Permenpar No. 6 Tahun 2025 yang mengatur standar perizinan berusaha berbasis risiko, khususnya untuk transportasi laut wisata.
Namun, tantangan di lapangan masih nyata. Agustinus Gias, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Manggarai Barat, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Tragedi kecelakaan kapal wisata yang sempat berulang di perairan Flores harus menjadi titik balik untuk perbaikan tata kelola pelabuhan dan pengawasan pelaku usaha secara kolektif.
Membangun Manajemen Krisis yang Tangguh
Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenpar, Fadjar Hutomo, mendorong setiap daerah untuk membentuk Tim Manajemen Krisis Kepariwisataan sesuai mandat Permenpar Nomor 10 tahun 2019. Ia juga mengingatkan para penyedia jasa untuk mematuhi UU Nomor 29 tahun 2014, di mana penyelenggara kegiatan berisiko tinggi wajib memiliki sumber daya manusia yang tersertifikasi dalam bidang pencarian dan pertolongan (SAR).
Skandal Pungli di Imigrasi Batam: Panduan Strategis bagi Wisatawan untuk Melawan Oknum Nakal
Senada dengan hal tersebut, Ketua P3KOM Marselinus Betong mengungkapkan bahwa respons darurat di lokasi terpencil masih menghadapi kendala koordinasi dan fasilitas medis. Ia mendesak adanya pusat komando khusus untuk menangani risiko medis dan perubahan cuaca ekstrem di perairan secara lebih cepat dan terstruktur.
Menuju Ekosistem Biru yang Harmonis
Di sisi lain, ajang DRT Show 2026 juga menjadi panggung inovasi teknologi penyelaman dari jenama global seperti Huawei, TUSA, hingga Mares. CEO LX Development Group, Jason Chong, membawa visi besar mengenai “Ekosistem Biru” yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan perdagangan secara harmonis.
Melalui Ocean Star Underwater Photo Gallery, pameran ini menerapkan standar etika lingkungan yang sangat ketat. Setiap karya yang ditampilkan dipastikan diambil tanpa merusak terumbu karang atau mengganggu perilaku alami fauna laut. “Seorang penyelam sejati harus memposisikan diri sebagai penjaga samudera, bukan predator yang merusak habitatnya,” pungkas Jason.