Seni Membangun Kelekatan: Mengapa Pengasuh Daycare Harus Menjadi ‘Orang Tua Kedua’ bagi Anak

Siska Wijaya | Menit Ini
27 Apr 2026, 16:54 WIB
Seni Membangun Kelekatan: Mengapa Pengasuh Daycare Harus Menjadi 'Orang Tua Kedua' bagi Anak

MenitIni — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban yang menuntut mobilitas tinggi, dilema orang tua bekerja sering kali bermuara pada satu pertanyaan besar: ke mana buah hati harus dititipkan? Selama ini, banyak yang menganggap taman penitipan anak atau daycare hanyalah sebuah tempat singgah sementara, sebuah ‘parkir’ aman bagi anak saat ayah dan bunda bergelut dengan rutinitas kantor. Namun, perspektif ini mulai bergeser seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya tumbuh kembang anak pada usia dini.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menegaskan bahwa fungsi daycare jauh melampaui sekadar menjaga fisik anak agar tetap aman. Ada dimensi emosional yang sering kali terlupakan, namun menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak di masa depan. Peran pengasuh di lembaga tersebut bukan sekadar memastikan anak sudah makan atau mandi, melainkan bagaimana mereka mampu membangun jembatan emosional yang kuat dengan anak-anak yang mereka asuh.

Baca Juga

Jangan Keliru! Ini Perbedaan Mencolok Influenza dan Salesma yang Sering Dianggap Sama

Jangan Keliru! Ini Perbedaan Mencolok Influenza dan Salesma yang Sering Dianggap Sama

Filosofi Pengasuhan Berbasis Anak: Lebih dari Sekadar Pengawasan

Eko Novi Ariyanti, selaku Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II KemenPPPA, memaparkan sebuah visi baru dalam dunia pengasuhan formal. Menurutnya, konsep pengasuhan anak di lembaga daycare harus berakar pada prinsip pemenuhan hak anak secara menyeluruh. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah kunjungan ke Mika Daycare and Preschool di kawasan BSD, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

“Daycare itu bagian dari konsep pengasuhan berbasis anak. Artinya, siapa pun yang berinteraksi dengan anak, pada dasarnya adalah pengasuh,” ujar Ariyanti dengan nada menekankan. Pernyataan ini membawa pesan mendalam bahwa setiap individu di dalam ekosistem daycare, mulai dari staf administrasi hingga pengasuh utama, memegang tanggung jawab moral untuk menciptakan lingkungan yang mendukung psikologi anak.

Baca Juga

Mengenal Varises: Lebih Dari Sekadar Masalah Estetika, Ini Sinyal Bahaya bagi Pembuluh Darah Anda

Mengenal Varises: Lebih Dari Sekadar Masalah Estetika, Ini Sinyal Bahaya bagi Pembuluh Darah Anda

Dalam paradigma ini, pengasuhan tidak lagi dipandang sebagai tugas mekanis. Tidak cukup hanya memberikan asupan nutrisi dan menjaga kebersihan. Lebih dari itu, pengasuh harus mampu memastikan anak tumbuh dalam suasana yang penuh kasih sayang, kenyamanan, dan rasa aman. Tanpa adanya rasa aman secara emosional, seorang anak akan sulit mengeksplorasi potensinya secara maksimal.

Membangun Kelekatan: Kunci Utama Kesehatan Mental Anak

Salah satu poin krusial yang digarisbawahi oleh KemenPPPA adalah masalah kelekatan atau attachment. Dalam dunia psikologi, kelekatan antara anak dan figur otoritasnya adalah kunci bagi kesehatan mental di masa depan. Anak yang memiliki kelekatan yang sehat cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan memiliki empati yang tinggi.

Baca Juga

Strategi Baru Kemenkes: Label ‘Nutri Level’ Hadir Jadi ‘Alarm’ Penyelamat dari Ancaman Diabetes

Strategi Baru Kemenkes: Label ‘Nutri Level’ Hadir Jadi ‘Alarm’ Penyelamat dari Ancaman Diabetes

Ariyanti menceritakan sebuah narasi menarik tentang bagaimana kelekatan itu mewujud dalam keseharian. Ia mengisahkan tentang seorang pengasuh senior yang telah berhasil membangun ikatan batin yang begitu kuat dengan anak asuhnya. Saking dekatnya, ketika pengasuh tersebut hanya sekadar ingin pamit ke toilet, sang anak akan merespons dengan pelukan erat di kakinya, seolah enggan berpisah barang sejenak.

“Jadi, bonding itu sangat penting di daycare. Pengasuh tidak hanya sebatas dia mengasuh anak, tetapi harus ada kelekatan juga dari pengasuh. Kedekatan seperti inilah yang memberikan rasa nyaman bagi anak, membuat mereka merasa dihargai dan dicintai meskipun jauh dari orang tua kandung mereka,” tambahnya.

Pendidikan Tanpa Kekerasan: Mengubah Pendekatan Disiplin

Sering kali, tantangan terbesar bagi pengasuh adalah saat anak menunjukkan perilaku yang sulit, seperti mogok makan atau tantrum. Di sinilah integritas dan profesionalisme seorang pengasuh diuji. KemenPPPA memberikan mandat keras: tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apa pun, sekecil apa pun, di dalam lingkungan daycare.

Baca Juga

Waspada! Tramadol Ilegal Mengintai Generasi Muda: Dari Risiko Putus Sekolah Hingga Ancaman Kematian

Waspada! Tramadol Ilegal Mengintai Generasi Muda: Dari Risiko Putus Sekolah Hingga Ancaman Kematian

Pendekatan yang harus dikedepankan adalah metode edukatif dan persuasif. Jika seorang anak menolak untuk makan, pengasuh yang kompeten harus memahami akar permasalahannya dan mencari solusi kreatif tanpa harus membentak atau memaksa. Hal ini membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi dan pemahaman mendalam mengenai psikologi anak.

“Misalnya anak tidak mau makan, pengasuh sudah tahu apa yang mesti dilakukan tanpa melakukan kekerasan pada anak,” tutur Ariyanti. Dengan cara ini, anak belajar tentang disiplin dan aturan melalui cara yang positif, bukan karena rasa takut. Pengasuhan yang bebas kekerasan akan membentuk memori masa kecil yang indah dan menghindarkan anak dari trauma jangka panjang.

Stimulasi Kognitif Melalui Interaksi Aktif

Selain aspek emosional, daycare juga memiliki peran sebagai lembaga pendidikan anak usia dini non-formal. Waktu yang dihabiskan anak di tempat penitipan harus diisi dengan kegiatan yang menstimulasi kecerdasan mereka. Pengasuh didorong untuk tidak pasif dan hanya menonton anak bermain, melainkan menjadi mitra bermain yang aktif.

Baca Juga

Tuberkulosis dan Wajah Perempuan: Mengupas Disparitas Gender dalam Perjuangan Melawan Epidemi

Tuberkulosis dan Wajah Perempuan: Mengupas Disparitas Gender dalam Perjuangan Melawan Epidemi

Kegiatan sederhana seperti membacakan dongeng, mengajak bernyanyi, atau bermain permainan edukatif memiliki dampak besar bagi perkembangan bahasa dan kognitif anak. Interaksi aktif ini juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkuat bonding antara pengasuh dan anak. Saat seorang pengasuh mendongeng, ia tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga berbagi emosi dan imajinasi dengan anak tersebut.

Lingkungan yang kaya akan stimulasi akan membantu anak untuk lebih siap saat memasuki jenjang sekolah formal nantinya. Oleh karena itu, pemilihan daycare yang memiliki kurikulum aktivitas yang jelas dan terarah menjadi hal yang sangat krusial bagi para orang tua.

Tips Bagi Orang Tua dalam Memilih Daycare Berkualitas

Melihat betapa pentingnya peran daycare sebagaimana yang dipaparkan oleh KemenPPPA, orang tua perlu lebih jeli dalam melakukan riset. MenitIni merangkum beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat memilih tempat penitipan anak:

  • Rasio Pengasuh dan Anak: Pastikan jumlah pengasuh sebanding dengan jumlah anak agar perhatian yang diberikan bisa lebih personal dan intensif.
  • Kualitas Interaksi: Amati bagaimana para pengasuh berinteraksi dengan anak-anak. Apakah mereka tampak tulus, sabar, dan komunikatif?
  • Fasilitas Keamanan dan Kebersihan: Lingkungan yang bersih dan aman adalah harga mati untuk menjaga kesehatan fisik anak.
  • Program Harian: Tanyakan mengenai jadwal aktivitas harian. Apakah ada waktu untuk membacakan buku, bermain di luar ruangan, dan istirahat yang cukup?
  • Transparansi Komunikasi: Daycare yang baik akan selalu memberikan laporan harian mengenai kondisi anak kepada orang tua secara terbuka.

Pada akhirnya, daycare bukanlah sekadar tempat untuk menitipkan anak, melainkan sebuah mitra strategis bagi orang tua dalam membesarkan generasi penerus yang tangguh secara mental dan cerdas secara intelektual. Dengan adanya komitmen dari pemerintah melalui KemenPPPA dan kesadaran dari pengelola daycare, diharapkan standar pengasuhan anak di Indonesia akan terus meningkat, menciptakan lingkungan yang benar-benar layak bagi tumbuh kembang sang buah hati.

Mari kita pastikan bahwa setiap detik yang dihabiskan anak di tempat pengasuhan adalah detik yang penuh dengan pembelajaran berharga dan kasih sayang yang tulus. Karena masa kecil tidak akan pernah terulang kembali, dan fondasi yang kita bangun hari ini akan menentukan siapa mereka di masa depan.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *