Mengenal Lebih Dekat Tes Audiometri: Pengalaman Menjaga Ketajaman Pendengaran di Tengah Polusi Suara Kota

Siska Wijaya | Menit Ini
24 Apr 2026, 22:53 WIB
Mengenal Lebih Dekat Tes Audiometri: Pengalaman Menjaga Ketajaman Pendengaran di Tengah Polusi Suara Kota

MenitIni — Di tengah deru mesin kendaraan, dentuman musik di pusat perbelanjaan, hingga penggunaan earphone yang nyaris tak pernah lepas dari telinga, kesehatan pendengaran seringkali menjadi hal yang kita abaikan. Padahal, telinga adalah jendela sensorik yang menghubungkan kita dengan harmoni dunia. Menyadari urgensi tersebut, dalam rangka memperingati Hari Sadar Bising Sedunia yang jatuh pada 24 April 2026, tim redaksi berkesempatan untuk merasakan langsung bagaimana prosedur pemeriksaan kesehatan telinga melalui metode skrining audiometri yang kini semakin mutakhir.

Langkah Awal Menuju Kesadaran Kesehatan Telinga

Perjalanan kami dimulai di salah satu fasilitas kesehatan ternama di Jakarta Barat, yakni IHC Rumah Sakit PELNI. Suasana rumah sakit siang itu tampak cukup tenang, memberikan kontras yang menarik sebelum kami memasuki sesi pemeriksaan suara. Bagi sebagian orang, pemeriksaan telinga mungkin terdengar mengintimidasi, namun kenyataannya, prosedur ini jauh dari kesan medis yang menakutkan. Langkah awal dimulai dengan pendaftaran sederhana menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan pengisian data riwayat kesehatan singkat yang dipandu oleh staf yang ramah.

Baca Juga

Terobosan Baru BPJS Kesehatan: Layanan PANDAWA Kini Beroperasi 24 Jam, Respon Tak Sampai 5 Menit

Terobosan Baru BPJS Kesehatan: Layanan PANDAWA Kini Beroperasi 24 Jam, Respon Tak Sampai 5 Menit

Mengapa pemeriksaan ini penting? Tes audiometri bukan sekadar rutinitas medis biasa. Ini adalah metode evaluasi mendalam untuk mengukur ambang batas pendengaran seseorang terhadap berbagai frekuensi dan intensitas suara. Dalam dunia medis, tes ini krusial untuk mendeteksi secara dini apakah seseorang mengalami penurunan fungsi pendengaran, mengidentifikasi jenis gangguannya, hingga menentukan frekuensi spesifik mana yang sudah tidak mampu lagi ditangkap oleh saraf pendengaran kita.

Memasuki Bilik Hening: Pengalaman di Ruang Kedap Suara

Tak lama menunggu, kami diarahkan menuju sebuah ruangan khusus. Berbeda dengan ruang pemeriksaan dokter pada umumnya, pemeriksaan audiometri dilakukan di dalam sebuah bilik kecil yang dirancang khusus agar kedap suara secara total. Begitu pintu ditutup, kebisingan dari koridor rumah sakit seketika lenyap, menyisakan keheningan yang cukup tajam. Di dalam bilik tersebut, tersedia sebuah kursi nyaman, headphone berkualitas tinggi, dan sebuah tombol kecil berwarna hitam yang menjadi alat komunikasi utama kami dengan petugas di luar.

Baca Juga

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

“Aturannya sederhana. Setiap kali Anda mendengar suara, sekecil atau setipis apa pun itu, silakan tekan tombolnya,” instruksi petugas medis melalui jendela kaca kecil yang menghubungkan bilik tersebut dengan perangkat komputer pemantau. Dari sinilah tantangan dimulai. Suara-suara yang diperdengarkan memiliki karakter yang sangat beragam. Mulai dari bunyi frekuensi rendah yang terdengar seperti gumaman, hingga bunyi frekuensi tinggi yang sangat tipis seperti bunyi “tiiiit” yang nyaris tidak terdeteksi oleh indra.

Proses ini menuntut konsentrasi penuh. Terkadang, suara terdengar sangat jelas di telinga kanan, lalu tiba-tiba berpindah ke telinga kiri dengan volume yang terus menurun. Ini adalah simulasi bagaimana telinga kita merespons kebisingan di dunia nyata. Menariknya, seluruh proses pemeriksaan ini hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. Cepat, efisien, namun memberikan data yang sangat akurat mengenai kondisi biologis organ pendengaran kita.

Baca Juga

Waspada Adiksi Layar: Kenali Tanda Si Kecil Mulai Terjebak Kecanduan Gadget

Waspada Adiksi Layar: Kenali Tanda Si Kecil Mulai Terjebak Kecanduan Gadget

Membaca Hasil: Diskusi Bersama Ahli Medis

Setelah sesi di bilik hening berakhir, data mentah yang terekam secara digital langsung dikirimkan ke meja dokter spesialis. Kami berkesempatan berkonsultasi langsung dengan dr. Elisabeth Uli Artha Sirait, seorang spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) yang bertugas di RS PELNI. Melalui pemeriksaan fisik singkat pada liang telinga dan melihat grafik audiogram, dokter memberikan penjelasan yang menenangkan.

“Secara keseluruhan, hasilnya normal dan bagus,” ungkap dr. Elisabeth. Namun, ia menekankan bahwa hasil normal hari ini bukanlah jaminan untuk masa depan jika kita tidak mengubah pola hidup dalam berinteraksi dengan suara bising. Total waktu yang kami habiskan, mulai dari pendaftaran hingga mendapatkan diagnosa akhir, hanya berkisar sekitar 30 menit. Sebuah investasi waktu yang sangat kecil dibandingkan dengan manfaat jangka panjang yang didapatkan untuk kesehatan telinga.

Baca Juga

Spektrum Luas Penyakit Ginjal: Mengapa Deteksi Dini Melalui Tes DNA Menjadi Kunci Keselamatan Pasien?

Spektrum Luas Penyakit Ginjal: Mengapa Deteksi Dini Melalui Tes DNA Menjadi Kunci Keselamatan Pasien?

Bahaya yang Mengintai di Balik Kebisingan Bertahap

Sari Narulita, Corporate Secretary IHC, dalam diskusinya bersama kami, menyoroti fenomena betapa isu kesehatan pendengaran seringkali terpinggirkan. Berbeda dengan sakit gigi atau gangguan penglihatan yang gejalanya terasa secara instan, penurunan pendengaran bersifat degeneratif dan berlangsung secara perlahan. Seseorang mungkin tidak sadar bahwa mereka mulai kehilangan kemampuan mendengar suara burung atau detak jam tangan sampai kondisinya benar-benar memburuk.

“Prosesnya yang perlahan membuat orang sering abai. Kami di IHC ingin mendorong kesadaran masyarakat bahwa menjaga pendengaran harus menjadi prioritas yang sama tingginya dengan menjaga kesehatan jantung atau organ tubuh lainnya,” tutur Sari. Hal ini menjadi pengingat penting, terutama bagi masyarakat perkotaan yang terpapar polusi suara setiap hari tanpa henti.

Baca Juga

Waspada Apendisitis: 4 Langkah Strategis Mencegah Usus Buntu dan Mengenali Gejala Awalnya

Waspada Apendisitis: 4 Langkah Strategis Mencegah Usus Buntu dan Mengenali Gejala Awalnya

Dampak Luas di Luar Fungsi Pendengaran

Dr. Elisabeth juga memaparkan fakta medis yang cukup mengejutkan. Gangguan pendengaran akibat kebisingan (Noise-Induced Hearing Loss) tidak hanya berdampak pada telinga. Paparan suara berlebih dalam durasi yang lama dapat memicu berbagai masalah kesehatan sistemik. Stres meningkat karena sistem saraf terus-menerus dalam kondisi ‘waspada’ akibat kebisingan, kualitas tidur menurun drastis, hingga menurunnya daya konsentrasi yang pada akhirnya menghambat performa kerja sehari-hari.

Tren global saat ini bahkan menunjukkan peningkatan gangguan pendengaran pada kelompok usia muda. Hal ini tidak terlepas dari gaya hidup modern, seperti penggunaan earphone dengan volume maksimal dalam durasi berjam-jam setiap hari. Fenomena ini sering kali diabaikan oleh generasi milenial dan Gen Z, padahal kerusakan saraf pendengaran seringkali bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.

Memahami Ambang Batas Aman Suara

Penting bagi kita untuk mengetahui angka-angka di balik suara. Dr. Elisabeth menjelaskan bahwa ambang batas risiko dimulai pada level 85 desibel (dB). Sebagai gambaran, suasana jalan raya yang padat atau restoran yang ramai sudah mendekati angka tersebut. Suara pada level 85 dB hanya aman didengar maksimal selama 8 jam sehari. Jika level suara naik, durasi aman tersebut akan berkurang secara eksponensial.

Bayangkan ketika Anda berada di sebuah konser musik atau mendengarkan earphone dengan volume penuh yang bisa mencapai 110 dB. Level kebisingan ini setara dengan suara mesin pesawat jet atau petir yang menggelegar. Pada tingkat ini, kerusakan sel rambut di dalam telinga bisa terjadi hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, konsep safe listening atau mendengarkan dengan aman menjadi kunci utama.

Langkah Preventif untuk Masa Depan

Menjaga kesehatan telinga sebenarnya tidaklah sulit. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain menerapkan aturan 60/60 saat menggunakan headphone (volume maksimal 60% dan durasi maksimal 60 menit), menggunakan penutup telinga (earplugs) saat berada di lingkungan bising, serta melakukan pemeriksaan rutin secara berkala ke dokter THT.

Melalui pengalaman langsung ini, kita diingatkan kembali bahwa suara adalah anugerah yang harus dijaga. Kesadaran untuk melakukan skrining audiometri secara dini bukan hanya tentang mengetahui seberapa tajam kita mendengar, tetapi tentang bagaimana kita menghargai kualitas hidup di masa tua nanti. Mari mulai peduli pada telinga kita, sebelum keheningan mengambil alih tanpa kita sadari.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *