Sisi Humoris Jose Mourinho yang Tersembunyi: Paul Pogba Buka Suara Soal Hubungan Pasang Surut di Manchester United

Aris Setiawan | Menit Ini
23 Apr 2026, 12:51 WIB
Sisi Humoris Jose Mourinho yang Tersembunyi: Paul Pogba Buka Suara Soal Hubungan Pasang Surut di Manchester United

MenitIni — Selama bertahun-tahun, panggung megah Old Trafford tidak hanya menyuguhkan drama di atas lapangan hijau, tetapi juga menyimpan intrik di balik layar yang melibatkan dua sosok raksasa sepak bola modern: Paul Pogba dan Jose Mourinho. Hubungan keduanya sering kali digambarkan oleh media sebagai sebuah ‘perang dingin’ yang tak berujung, penuh dengan ketegangan, dan berujung pada keretakan yang merugikan klub.

Namun, dalam sebuah wawancara eksklusif yang membuka tabir rahasia tersebut, Paul Pogba justru membagikan perspektif yang sangat berbeda. Pemain asal Prancis itu mengungkapkan bahwa narasi yang selama ini beredar di publik tidak sepenuhnya mencerminkan realitas yang terjadi di ruang ganti. Alih-alih sosok pelatih yang kaku dan otoriter, Pogba mengenang Jose Mourinho sebagai sosok yang memiliki sisi humoris yang luar biasa dan kepribadian yang sangat unik.

Baca Juga

Maestro di Balik Kebangkitan United: Mengapa Bruno Fernandes Pantas Jadi Pemain Terbaik Liga Inggris Versi Benjamin Sesko

Maestro di Balik Kebangkitan United: Mengapa Bruno Fernandes Pantas Jadi Pemain Terbaik Liga Inggris Versi Benjamin Sesko

Awal Mula ‘The Pogback’ dan Sinergi yang Menjanjikan

Kilas balik ke tahun 2016, kembalinya Pogba ke Manchester United disambut dengan gegap gempita. Statusnya sebagai pemain termahal di dunia kala itu menjadikannya simbol kebangkitan Setan Merah di bawah komando Mourinho. Banyak pihak yang memprediksi bahwa kombinasi antara kejeniusan taktik Mourinho dan kreativitas tanpa batas dari Paul Pogba akan membawa United kembali ke takhta juara Liga Inggris.

Pada musim pertama mereka, ekspektasi tersebut seolah mulai menjadi kenyataan. United berhasil mengamankan trofi Liga Europa dan Piala Liga. Di balik kesuksesan tersebut, Pogba mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sang pelatih sangatlah harmonis. Tidak ada dinding pemisah yang tebal; mereka justru berkomunikasi dengan sangat cair, layaknya mentor dan murid yang saling menghargai.

Baca Juga

Tensi Tinggi di Turin: Luciano Spalletti Kritik Habis Strategi ‘Gampang Jatuh’ Hellas Verona

Tensi Tinggi di Turin: Luciano Spalletti Kritik Habis Strategi ‘Gampang Jatuh’ Hellas Verona

“Saya tidak punya masalah dengan pelatih mana pun. Saya selalu menanamkan rasa hormat yang tinggi kepada siapa pun yang memimpin tim. Mereka adalah bosnya, mereka yang memutuskan segalanya, termasuk apakah Anda akan bermain atau tidak,” ujar Pogba dalam percakapan di kanal YouTube Rio Ferdinand Presents.

Mourinho di Mata Pogba: Sosok yang ‘Lucu Banget’

Satu hal yang jarang diketahui publik adalah bagaimana Mourinho berinteraksi dengan para pemainnya secara personal. Pogba menceritakan bahwa pelatih asal Portugal itu sering bertukar pesan singkat dengannya. Dalam momen-momen santai tersebut, Mourinho menunjukkan sisi manusiawi yang jauh dari kesan arogan yang sering terlihat di depan kamera televisi.

Baca Juga

Badai di Stamford Bridge: Mengapa Rezim Liam Rosenior di Chelsea Berakhir Tragis Hanya dalam 106 Hari?

Badai di Stamford Bridge: Mengapa Rezim Liam Rosenior di Chelsea Berakhir Tragis Hanya dalam 106 Hari?

“Kami sangat akrab di awal, benar-benar akrab. Kami sering saling mengirim pesan dan hal-hal seperti itu. Dia benar-benar pria yang lucu, sangat humoris. Dia adalah sosok yang istimewa, jujur saja,” puji Pogba dengan nada tulus. Pengakuan ini tentu mengejutkan banyak pihak yang selama ini hanya melihat momen-momen perdebatan mereka di pinggir lapangan atau konferensi pers yang panas.

Menurut Pogba, suasana di kamp pelatihan Manchester United pada masa-masa awal kepemimpinan Mourinho sangat positif. Kehangatan yang dibangun oleh Mourinho secara personal sempat menjadi bahan bakar utama bagi tim untuk tampil solid. Namun, seperti banyak kisah hebat lainnya, dinamika tersebut mulai berubah ketika badai mulai datang menerjang dari berbagai sudut.

Baca Juga

Wayne Rooney Kritik Tajam Mentalitas Liverpool: Di Mana Para Pemimpin Saat The Reds Terpuruk?

Wayne Rooney Kritik Tajam Mentalitas Liverpool: Di Mana Para Pemimpin Saat The Reds Terpuruk?

Akar Masalah: Cedera dan Tekanan yang Meningkat

Memasuki musim kedua dan ketiga, awan mendung mulai menyelimuti hubungan profesional mereka. Pogba menilai bahwa titik balik keretakan tersebut dipicu oleh masalah kebugaran yang dialaminya. Sebagai pemain kunci dengan banderol mahal, setiap absennya Pogba di lapangan hijau memicu spekulasi dan ketidakpuasan. Mourinho, yang dikenal sangat menuntut dedikasi fisik total dari pemainnya, mulai merasa frustrasi dengan kondisi cedera Pogba yang berulang.

Ketegangan ini perlahan mengikis kepercayaan di antara keduanya. Mourinho mulai mempertanyakan komitmen Pogba, sementara Pogba merasa bahwa dirinya butuh waktu untuk pulih sepenuhnya agar bisa memberikan yang terbaik bagi tim. Di sinilah friksi mulai muncul, dan intensitas persaingan di Liga Inggris yang sangat tinggi tidak menyisakan banyak ruang untuk diplomasi yang lembut.

Baca Juga

Legenda Bicara: Luis Figo Desak Real Madrid Beri Penghormatan Layak untuk Dani Carvajal

Legenda Bicara: Luis Figo Desak Real Madrid Beri Penghormatan Layak untuk Dani Carvajal

“Saya pikir cedera-cedera itu yang mulai menyebabkan masalah. Ketika Anda tidak bisa bermain, tekanan dari luar mulai masuk ke dalam ruang ganti,” jelas Pogba. Ia menyadari bahwa sebagai pelatih, Mourinho berada di bawah tekanan besar untuk memberikan hasil instan, dan ketidakhadiran pemain bintang di skuad utama tentu menjadi beban pikiran tersendiri bagi sang manajer.

Peran Media dalam Memperkeruh Suasana

Pogba juga tidak ragu untuk menuding media sebagai salah satu faktor utama yang memperburuk hubungannya dengan Mourinho. Dalam setiap konferensi pers, pertanyaan mengenai Pogba seolah menjadi menu wajib bagi para jurnalis. Hal ini, menurutnya, secara tidak langsung menciptakan kejenuhan dan kekesalan di pihak Mourinho.

“Media selalu bertanya kepadanya tentang saya. Setiap hari, setiap saat. Paul, Paul, dan Paul. Saya rasa itu mulai membuatnya kesal. Mungkin dia mulai berpikir, ‘Apakah pemain ini benar-benar layak mendapatkan semua perhatian ini sementara dia sedang cedera?’,” tutur Pogba mencoba menganalisis apa yang ada di pikiran mantan pelatihnya tersebut.

Narasi ‘konflik’ yang dibangun media sering kali melebih-lebihkan fakta yang ada. Setiap gestur kecil di lapangan latihan atau setiap ekspresi wajah di bangku cadangan dianalisis sedemikian rupa untuk mendukung cerita keretakan hubungan mereka. Pogba merasa bahwa sorotan yang berlebihan ini menciptakan jarak emosional yang semakin lebar antara dirinya dan Mourinho.

Filosofi Profesionalisme Paul Pogba

Meskipun hubungannya dengan Mourinho berakhir dengan perpisahan ketika sang pelatih dipecat pada akhir 2018, Pogba tetap mempertahankan prinsip profesionalismenya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyimpan dendam atau niat buruk terhadap pelatih manapun yang pernah menangani dirinya selama berkarier di dunia sepak bola profesional.

Baginya, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi besar. Ia memahami bahwa tanggung jawab seorang manajer sangatlah berat, dan setiap keputusan yang diambil pastilah didasari oleh kepentingan tim, meskipun terkadang keputusan tersebut terasa pahit bagi individu pemain.

Pelajaran yang bisa diambil dari pengakuan Pogba ini adalah betapa kompleksnya hubungan manusia di level tertinggi olahraga profesional. Di balik angka-angka statistik dan nilai transfer yang fantastis, terdapat dinamika personal yang melibatkan emosi, ego, dan tekanan publik yang luar biasa besar.

Warisan Mourinho dan Pogba di Old Trafford

Jika menilik kembali ke belakang, era Mourinho dan Pogba sebenarnya tidak seburuk yang sering digambarkan oleh para pengamat. Meraih tiga gelar (termasuk Community Shield) dalam satu musim bukanlah pencapaian yang mudah di kompetisi seketat Inggris. Namun, tingginya standar yang ditetapkan oleh sejarah Manchester United membuat pencapaian tersebut seolah terasa kurang maksimal.

Kini, baik Pogba maupun Mourinho telah menempuh jalan hidup masing-masing. Namun, cerita tentang mereka akan selalu menjadi bagian dari sejarah modern Manchester United. Pengakuan Pogba mengenai sisi lucu Mourinho memberikan warna baru dalam memandang sejarah tersebut, mengingatkan kita bahwa di balik topeng ‘The Special One’ yang serius, terdapat sosok yang mampu mencairkan suasana dengan canda tawa.

Dengan keterbukaan ini, diharapkan publik dapat melihat sisi lain dari para pelaku sepak bola. Bahwa pada akhirnya, mereka tetaplah manusia biasa yang berusaha memberikan yang terbaik di tengah badai ekspektasi dan sorotan kamera yang tak pernah padam.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan pengalaman 5 tahun meliput kompetisi sepak bola. Fokus pada analisis statistik dan strategi pertandingan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *