Analisis Tajam Fabio Capello: Mengapa AC Milan Tumbang dan Kehilangan Ritme di San Siro?
MenitIni — Keheningan menyelimuti San Siro setelah peluit panjang dibunyikan, menandai kekalahan memilukan AC Milan di tangan Udinese. Fabio Capello, sosok legendaris yang mengamati langsung jalannya pertandingan dari tribun, memberikan bedah taktik sekaligus kritik pedas terhadap performa mantan timnya tersebut yang dinilai kehilangan jati diri.
Kekalahan telak 0-3 ini bukan sekadar hasil buruk di papan skor, melainkan sinyal bahaya bagi posisi Milan dalam persaingan memperebutkan tiket Liga Champions. Dalam waktu singkat, keunggulan sembilan poin yang sempat mereka miliki atas para pesaing kini menyusut drastis menjadi lima poin saja. Situasi ini menempatkan skuad asuhan Massimiliano Allegri dalam tekanan besar di sisa musim.
Ambisi Hector Souto di Final Piala AFF Futsal 2026: Skuad Garuda Siap Jinakkan Dominasi Thailand
Bukan Masalah Formasi, Tapi Kecepatan Bermain
Banyak pengamat mungkin akan menyalahkan pemilihan formasi taktik, namun Capello memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, biang keladi kekalahan Rossoneri adalah ketidakmampuan mereka mengimbangi ritme permainan lawan yang jauh lebih progresif.
“Mari kita kesampingkan soal formasi. Masalah utamanya adalah tempo permainan. Udinese tampil satu setengah kali lebih cepat dibandingkan Milan,” ujar Capello sebagaimana dikutip dari La Gazzetta dello Sport. Ia menyoroti bagaimana Udinese memenangkan hampir setiap duel di lapangan, melakukan serangan balik dengan intensitas tinggi, dan membuat lini pertahanan Milan kocar-kacir. Bagi Capello, taktik secanggih apa pun tidak akan berguna jika intensitas fisik pemain berada di bawah lawan.
Misi Kebangkitan Garuda Muda: Kurniawan Dwi Yulianto Tatap Peluang Timnas Indonesia U-17 Menuju Piala Dunia
Penurunan Performa yang Sulit Diterima
Lebih lanjut, Capello mempertanyakan mengapa performa AC Milan merosot begitu tajam. Padahal, jika menilik jadwal pertandingan, Rossoneri seharusnya memiliki keunggulan kebugaran karena tidak sedang berlaga di kompetisi Eropa maupun Coppa Italia.
“Penurunan ini sulit dibenarkan. Dalam musim di mana mereka tidak memiliki jadwal padat setelah tersingkir lebih awal dari kompetisi lain, saya merasa masalahnya bukan lagi di kaki, melainkan di pikiran,” tegas pria yang pernah membawa Milan berjaya di era 90-an tersebut.
Bayang-Bayang Kegagalan Scudetto dan Rasa Nyaman
Menutup analisisnya, Capello menduga ada faktor psikologis yang sangat kuat yang membebani mental para pemain. Ia melihat ada dampak mental yang tersisa setelah Milan secara matematis tersingkir dari perburuan gelar juara Liga Italia musim ini.
Juventus Siap Bajak Marcus Rashford Jika Barcelona Gagal Tebus Maharnya dari Manchester United
“Mungkin para pemain merasakan dampak psikologis setelah kekalahan di Napoli yang mengakhiri mimpi Scudetto mereka. Atau bisa jadi, mereka merasa terlalu nyaman karena menganggap tiket Liga Champions sudah pasti berada di tangan,” tutupnya. Kini, publik menanti bagaimana respon tim dalam lanjutan Liga Italia untuk membuktikan bahwa mereka masih layak menyandang status sebagai raksasa Italia.