Strategi Berani Geely: Memilih Jalur Metanol Saat Dunia Berlomba Mengejar Baterai Lithium

Dewi Amalia | Menit Ini
14 Apr 2026, 14:21 WIB
Strategi Berani Geely: Memilih Jalur Metanol Saat Dunia Berlomba Mengejar Baterai Lithium

MenitIni — Di tengah hiruk-pikuk transisi global menuju elektrifikasi berbasis baterai, raksasa otomotif asal Tiongkok, Geely, justru mengambil langkah yang cukup provokatif dengan mempertegas komitmennya pada pengembangan bahan bakar alternatif berbasis metanol. Langkah ini menjadi antitesis di saat banyak pabrikan lain mempertaruhkan segalanya pada teknologi lithium.

Pernyataan ini ditegaskan langsung oleh Chairman Geely, Li Shufu, dalam sebuah forum industri kendaraan listrik terkemuka di China. Shufu menyoroti satu kelemahan fundamental yang sering diabaikan dalam euforia mobil listrik saat ini: beban berat baterai lithium. Menurut pandangannya, kendaraan listrik berbasis baterai memiliki bobot yang terlalu masif untuk memenuhi ekspektasi transportasi masa depan yang efisien.

Baca Juga

Dominasi Daihatsu di Maret 2026: Gran Max dan Sigra Tetap Jadi Tulang Punggung Penjualan

Dominasi Daihatsu di Maret 2026: Gran Max dan Sigra Tetap Jadi Tulang Punggung Penjualan

Problem ‘Obesitas’ Baterai Lithium

Li Shufu mengklaim bahwa mobil listrik dengan baterai lithium bisa memiliki bobot hingga dua kali lipat dibandingkan kendaraan berbahan bakar metanol dalam dimensi yang setara. Masalah bobot ini bukan sekadar soal angka di atas timbangan, melainkan berpengaruh langsung pada efisiensi konsumsi energi dan dinamika berkendara.

Hal inilah yang mendasari mengapa Geely tetap bersikukuh mendorong pengembangan teknologi metanol. Mereka meyakini bahwa dari sisi teknis, metanol menawarkan rasio bobot dan energi yang jauh lebih masuk akal untuk mobilitas masa depan yang berkelanjutan.

Dukungan Kebijakan dan Diversifikasi Energi

Langkah strategis Geely ini ternyata selaras dengan arah kebijakan pemerintah China. Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas setempat mulai memperluas cakrawala energi mereka. Fokus negara Tirai Bambu tersebut kini tidak lagi hanya terpaku pada kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), tetapi juga merambah ke energi alternatif lain seperti hidrogen, amonia, hingga metanol.

Baca Juga

Bukan Sekadar Karet Lingkar, Ini Alasan Mobil Listrik Wajib Menggunakan Ban Khusus EV untuk Performa Maksimal

Bukan Sekadar Karet Lingkar, Ini Alasan Mobil Listrik Wajib Menggunakan Ban Khusus EV untuk Performa Maksimal

Pada Oktober 2024, sejumlah kementerian di China bahkan telah merilis panduan komprehensif untuk membangun basis energi terbarukan terpadu yang menggabungkan tenaga angin dan surya dengan produksi metanol. Bagi Li Shufu, ini adalah sinyal hijau bagi transformasi besar dalam sistem energi domestik mereka.

Uji Coba Ekstrem di Lintasan Balap

Keseriusan Geely tidak hanya berhenti di atas kertas atau laboratorium. Perusahaan ini telah mulai menguji ketangguhan mesin metanol mereka di arena motorsport. Dengan menggunakan bahan bakar metanol murni alias M100, Geely berupaya membuktikan bahwa performa mesin ini tetap gahar meski dalam kondisi paling ekstrem sekalipun.

Dominasi Merek China di Indonesia: Menggeser Paradigma Lama

Fenomena ambisi teknologi Tiongkok ini juga merembet kuat ke pasar Indonesia. Data terbaru dari Gaikindo menunjukkan bahwa penerimaan pasar terhadap jenama Tiongkok tumbuh sangat agresif. Pada periode awal 2026, kontribusi merek China terhadap penjualan mobil nasional sudah mencapai 17,3 persen, sebuah lonjakan signifikan dibandingkan lima tahun lalu yang masih terjebak di angka bawah 2 persen.

Baca Juga

Kemenperin Dorong Gaikindo Susun Skema Baru PPnBM: Proteksi Truk Lokal dari Gempuran Produk Impor

Kemenperin Dorong Gaikindo Susun Skema Baru PPnBM: Proteksi Truk Lokal dari Gempuran Produk Impor

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai tren ini dipicu oleh keberhasilan mereka dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang kompetitif. Bukan hanya soal insentif pajak, tetapi kemampuan pabrikan China dalam menekan biaya produksi melalui rantai pasokan yang sangat terintegrasi.

Selain itu, fitur inovatif dan peningkatan kualitas rakitan membuat pandangan konsumen Indonesia berubah. Strategi agresif seperti garansi baterai jangka panjang dan harga yang rasional mulai meruntuhkan dominasi merek-merek lama yang kini mulai dicap overpriced oleh sebagian konsumen. Kehadiran Geely dengan opsi metanol di masa depan tentu akan menjadi babak baru yang menarik untuk disimak di tanah air.

Dewi Amalia

Dewi Amalia

Penulis spesialis gaya hidup dan kesehatan. Dewi memiliki minat besar pada isu mental health dan tren diet berkelanjutan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *