Mengenal Fenomena Bed Rotting: Antara Tren Rebahan Gen Z dan Alarm Gangguan Kesehatan Mental

Siska Wijaya | Menit Ini
24 Apr 2026, 06:54 WIB
Mengenal Fenomena Bed Rotting: Antara Tren Rebahan Gen Z dan Alarm Gangguan Kesehatan Mental

MenitIni — Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara gesekan jari di layar ponsel, sebuah tren baru sedang menjangkiti generasi muda. Fenomena ini dikenal dengan istilah bed rotting. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada aktivitas menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh, di atas tempat tidur tanpa melakukan aktivitas produktif apa pun selain menatap layar gawai. Namun, apakah ini sekadar bentuk kemalasan yang dimaklumi, atau justru sebuah sinyal bahaya bagi kondisi psikologis remaja kita?

Rebahan sambil memantau media sosial atau maraton menonton video pendek kini telah bertransformasi dari sekadar cara melepas lelah menjadi gaya hidup yang memiliki nama sendiri. Bagi banyak remaja, kasur bukan lagi sekadar tempat untuk tidur, melainkan markas besar untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk tuntutan dunia nyata yang semakin menyesakkan. Namun, di balik kenyamanan selimut dan bantal, terdapat dinamika emosional yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat oleh mata telanjang.

Baca Juga

Waspada ‘El Nino Godzilla’ 2026: Ancaman Polusi dan Wabah Penyakit Menular Mengintai

Waspada ‘El Nino Godzilla’ 2026: Ancaman Polusi dan Wabah Penyakit Menular Mengintai

Bukan Sekadar Kemalasan Biasa

Banyak orang tua mungkin akan mengernyitkan dahi dan langsung melabeli perilaku ini sebagai bentuk kemalasan akut. Namun, menurut Pakar Pendidikan Anak dan Remaja dari IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, bed rotting tidak bisa dipandang sesederhana itu. Ada lapisan-lapisan psikologis yang perlu dibedah untuk memahami mengapa seorang remaja memilih untuk “membusuk” di tempat tidur daripada bersosialisasi di dunia luar.

Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” ungkap Dr. Yulina. Beliau menekankan bahwa fenomena ini sering kali merupakan manifestasi dari kebutuhan untuk berhenti sejenak dari tekanan hidup yang konstan. Di era di mana produktivitas sering dipuja secara berlebihan, diam di tempat tidur menjadi bentuk protes pasif sekaligus ruang aman bagi mereka yang merasa kelelahan secara mental.

Baca Juga

Terobosan Kedokteran Nuklir: Mengupas Peran Vital PET-CT dan SPECT-CT dalam Deteksi Dini Kanker yang Lebih Akurat

Terobosan Kedokteran Nuklir: Mengupas Peran Vital PET-CT dan SPECT-CT dalam Deteksi Dini Kanker yang Lebih Akurat

Ruang Eksplorasi di Tengah Krisis Identitas

Remaja saat ini berada pada fase yang dalam psikologi disebut sebagai identity vs role confusion. Ini adalah masa-masa krusial di mana mereka sedang meraba-raba siapa diri mereka sebenarnya dan apa peran mereka di masyarakat. Dalam konteks modern, dunia digital telah menjadi laboratorium utama bagi eksplorasi jati diri tersebut.

Dr. Yulina menjelaskan bahwa bagi sebagian besar remaja, bed rotting bukanlah perilaku pasif tanpa makna. “Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ‘ruang jeda’ sekaligus ‘ruang eksplorasi’ bagi remaja,” jelasnya. Melalui layar ponsel di genggaman, mereka melihat dunia, mempelajari tren baru, hingga mencari komunitas yang dirasa relevan dengan kegelisahan mereka. Namun, eksplorasi ini ibarat pedang bermata dua.

Baca Juga

Klarifikasi Kemenkes Terkait Dugaan Bayi Dipindahtangankan di RSHS Bandung: Kasus Berakhir Damai

Klarifikasi Kemenkes Terkait Dugaan Bayi Dipindahtangankan di RSHS Bandung: Kasus Berakhir Damai

Di satu sisi, dunia maya memberikan informasi tanpa batas. Di sisi lain, paparan terus-menerus terhadap standar hidup ideal yang sering kali semu di media sosial dapat memicu perbandingan sosial yang merusak harga diri. Ketika seorang remaja melihat teman sebaya atau pembuat konten favoritnya tampak memiliki kehidupan sempurna, rasa cemas dan rendah diri bisa muncul, yang pada akhirnya justru membuat mereka semakin ingin bersembunyi di bawah selimut.

Garis Tipis Antara Self-Care dan Maladaptif

Fenomena bed rotting berada di wilayah abu-abu yang membingungkan. Bagi sebagian orang, melakukan rebahan seharian setelah seminggu bekerja atau belajar keras adalah bentuk self-care yang valid. Ini adalah cara otak dan tubuh melakukan regulasi diri untuk memulihkan energi yang terkuras habis. Namun, masalah muncul ketika aktivitas ini menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi stres atau yang dikenal sebagai avoidance coping.

Baca Juga

May Day 2026: Mengapa Menjaga Asupan Cairan Adalah Kunci Demo Damai? Simak Penjelasan Guru Besar FKUI

May Day 2026: Mengapa Menjaga Asupan Cairan Adalah Kunci Demo Damai? Simak Penjelasan Guru Besar FKUI

Dr. Yulina memperingatkan bahwa kunci pembedanya terletak pada kendali diri. “Jika individu masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti dan mampu kembali beraktivitas, maka ini bisa menjadi bentuk self-care. Namun, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa sangat serius,” tegasnya. Ketika seseorang mulai mengabaikan kewajiban, membatalkan janji secara konsisten, dan merasa tidak berdaya untuk beranjak dari tempat tidur meskipun ingin, saat itulah bed rotting berubah menjadi pola perilaku yang maladaptif.

Sinyal Bahaya Kesehatan Mental

Kita harus waspada karena dalam banyak kasus, bed rotting yang berkepanjangan bisa menjadi gejala awal atau indikator dari masalah kesehatan mental yang lebih dalam. Dr. Yulina menyoroti beberapa kondisi seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi klinis yang sering kali bersembunyi di balik kebiasaan rebahan ini.

Baca Juga

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Waspada Padel Elbow: Mengenal Gejala dan Cara Jitu Mengatasi Cedera Tren Olahraga Kekinian

Ada beberapa bendera merah atau red flags yang perlu diwaspadai oleh individu maupun orang tua, di antaranya:

  • Kehilangan minat pada hobi atau aktivitas yang sebelumnya sangat disukai.
  • Gangguan tidur yang signifikan, baik itu insomnia maupun keinginan untuk tidur terus-menerus.
  • Penarikan diri secara total dari lingkungan sosial dan interaksi tatap muka.
  • Penurunan performa akademik atau produktivitas kerja yang drastis.
  • Perasaan hampa, putus asa, atau kelelahan kronis yang tidak kunjung hilang meskipun sudah beristirahat.

Jika gejala-gejala ini muncul menyertai kebiasaan bed rotting, maka sudah saatnya untuk mencari bantuan profesional. Jangan biarkan fenomena ini dianggap sebagai tren Generasi Z yang lumrah, sementara di dalamnya ada jeritan minta tolong yang tidak terdengar.

Membangun Budaya Istirahat yang Sehat

Lantas, bagaimana cara kita menanggapi tren ini tanpa harus menghakimi? Jawabannya bukan dengan melarang rebahan sama sekali, melainkan dengan membangun pola istirahat yang lebih berkualitas dan sadar (mindful resting). Dr. Yulina menekankan bahwa istirahat yang sehat bukan sekadar tidak melakukan apa-apa.

“Istirahat yang sehat harus dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu yang jelas, dan benar-benar memberikan efek pemulihan energi bagi tubuh dan jiwa,” tuturnya. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mengubah bed rotting menjadi istirahat yang lebih produktif bagi kesehatan mental:

  1. Tetapkan Batas Waktu: Izinkan diri sendiri untuk beristirahat, namun tentukan durasinya. Gunakan alarm jika perlu agar tidak terhanyut dalam guliran layar yang tak berujung.
  2. Zonasi Tempat Tidur: Cobalah untuk tidak menggunakan tempat tidur untuk aktivitas selain tidur atau istirahat total. Sebisa mungkin, jangan bermain ponsel atau bekerja di atas kasur agar otak bisa mengasosiasikan kasur sebagai tempat untuk pemulihan, bukan stimulasi digital.
  3. Variasikan Bentuk Istirahat: Ganti sebagian waktu bed rotting dengan aktivitas ringan lainnya yang tetap menenangkan, seperti berjalan kaki santai di taman, melakukan peregangan tubuh, atau sekadar menulis jurnal (journaling).
  4. Batasi Paparan Algoritma: Sadari bahwa konten yang kita konsumsi di media sosial memengaruhi suasana hati. Gunakan fitur batas waktu aplikasi untuk mencegah doomscrolling yang menguras emosi.

Pada akhirnya, self-care yang sejati bukan tentang seberapa lama kita mampu menghindar dari dunia, melainkan tentang bagaimana kita tetap memegang kemudi atas pilihan-pilihan hidup kita. Bed rotting mungkin terasa nyaman untuk sementara, namun pertumbuhan dan kebahagiaan sejati biasanya ditemukan saat kita berani melangkah keluar dari zona nyaman, menghirup udara segar, dan kembali berinteraksi dengan realitas.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *