Langkah Berani Toyota Indonesia: Gandeng CATL untuk Produksi Sel Baterai, TKDN Siap Melesat 80 Persen

Dewi Amalia | Menit Ini
20 Apr 2026, 20:53 WIB
Langkah Berani Toyota Indonesia: Gandeng CATL untuk Produksi Sel Baterai, TKDN Siap Melesat 80 Persen

MenitIni — Industri otomotif nasional kini tengah bersiap menyambut babak baru dalam peta elektrifikasi global. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) secara resmi mengumumkan kemitraan strategis dengan raksasa teknologi baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL). Langkah besar ini ditandai dengan kucuran investasi fantastis senilai Rp 1,3 triliun yang dialokasikan untuk membangun kemandirian produksi baterai dari hulu hingga ke hilir.

Kerja sama ini bukan sekadar soal angka, melainkan ambisi Toyota untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik di tanah air. Dengan investasi tersebut, pabrikan asal Jepang ini berupaya mematangkan rantai pasok lokal, mengurangi ketergantungan pada komponen impor, serta memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci di pasar internasional.

Baca Juga

Jadwal Lengkap dan Lokasi Samsat Keliling Jadetabek 28 April 2026: Solusi Praktis Bayar Pajak Tepat Waktu

Jadwal Lengkap dan Lokasi Samsat Keliling Jadetabek 28 April 2026: Solusi Praktis Bayar Pajak Tepat Waktu

Dari Perakitan Menuju Produksi Sel Mandiri

Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, mengungkapkan bahwa saat ini fasilitas mereka di pabrik Karawang sebenarnya sudah memiliki lini produksi untuk battery pack. Fasilitas tersebut telah menyokong kebutuhan unit mobil hybrid populer seperti Toyota Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, hingga Yaris Cross HEV.

Namun, melalui kolaborasi dengan CATL, Toyota ingin melangkah lebih jauh. Fokus utama kini bergeser pada peningkatan kemampuan produksi, mulai dari sekadar perakitan (battery assy pack) hingga pembuatan sel baterai dan modul secara menyeluruh di dalam negeri.

“Komponen sel baterai dan modul yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri, ke depannya akan sepenuhnya diproduksi oleh tangan-tangan terampil SDM Indonesia. Kemitraan ini tidak hanya memperluas nilai investasi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam strategi multipathway Toyota menuju netralitas karbon,” ujar Nandi saat ditemui di kawasan PIK 2, Tangerang.

Baca Juga

Mengintip Dapur Inovasi di Wuhu: Pengalaman Eksklusif Menjajal Lepas E4, SUV Listrik yang Siap Taklukkan Aspal Indonesia

Mengintip Dapur Inovasi di Wuhu: Pengalaman Eksklusif Menjajal Lepas E4, SUV Listrik yang Siap Taklukkan Aspal Indonesia

Loncatan TKDN yang Signifikan

Salah satu poin paling krusial dari lokalisasi ini adalah peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selama ini, kontribusi lokal pada bagian baterai tergolong kecil karena prosesnya hanya sebatas perakitan akhir. Nandi memaparkan perbandingan yang sangat kontras terkait dampak produksi mandiri ini.

“Jika hanya melakukan assembling atau merakit seperti kemarin, nilai TKDN baterai itu hanya sekitar 8 persen. Namun, dengan kemampuan memproduksi sel dan modul sendiri, angka tersebut bisa melompat tajam hingga menyentuh 80 persen,” tambah Nandi dengan nada optimis. Meski begitu, detail perhitungan teknis mengenai TKDN ini akan terus didiskusikan lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan terkait.

Menjadi Hub Ekspor Pertama di Asia Tenggara

Upaya pendalaman lokalisasi ini membawa misi besar bagi posisi ekonomi Indonesia. Selain menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal, langkah ini diharapkan mampu menekan angka impor secara signifikan. Targetnya, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi utama untuk komponen inti teknologi otomotif masa depan.

Baca Juga

Mengintip Ketangguhan iCAR V27 Setir Kanan di Beijing Auto Show 2026: Calon Jawara SUV Listrik Indonesia?

Mengintip Ketangguhan iCAR V27 Setir Kanan di Beijing Auto Show 2026: Calon Jawara SUV Listrik Indonesia?

Strategi komprehensif ini menempatkan TMMIN sebagai anak perusahaan Toyota pertama di wilayah Asia Tenggara yang akan melakukan ekspor baterai ke pasar global. Rencana besar ini dijadwalkan mulai berjalan pada paruh kedua tahun 2026. Menariknya, produk yang diekspor tidak hanya berupa unit kendaraan yang sudah terpasang baterai, tetapi juga baterai dalam bentuk komponen terpisah, mempertegas peran strategis Indonesia dalam rantai pasok elektrifikasi dunia.

Dewi Amalia

Dewi Amalia

Penulis spesialis gaya hidup dan kesehatan. Dewi memiliki minat besar pada isu mental health dan tren diet berkelanjutan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *