Fenomena Luka Tak Kasatmata: Menelisik Dampak Psikologis Pelecehan Seksual Digital di Lingkungan Kampus

Siska Wijaya | Menit Ini
16 Apr 2026, 20:52 WIB
Fenomena Luka Tak Kasatmata: Menelisik Dampak Psikologis Pelecehan Seksual Digital di Lingkungan Kampus

MenitIni Kasus dugaan pelecehan seksual daring yang belakangan ini mengguncang civitas akademika Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) membuka kotak pandora mengenai betapa rentannya ruang digital kita. Di balik layar gawai yang tampak dingin, tersimpan potensi kekerasan yang dampaknya tak kalah destruktif dibandingkan luka fisik yang kasatmata.

Menanggapi fenomena ini, psikiater dr. Lahargo Kembaren memberikan sorotan tajam. Menurutnya, definisi kekerasan harus dimaknai secara lebih luas dalam konteks modern. Kekerasan bukan lagi sekadar tentang hantaman fisik, melainkan segala tindakan yang bertujuan menyakiti, mengintimidasi, merendahkan, hingga membahayakan martabat seseorang, baik di dunia nyata maupun di jagat maya.

Luka yang Lahir dari Jempol dan Layar

Dalam diskursus mengenai pelecehan seksual, seringkali publik terjebak pada persepsi konvensional bahwa kekerasan baru dianggap serius jika terjadi kontak fisik. Padahal, Lahargo menekankan bahwa kata-kata yang diketikkan di kolom komentar atau dibagikan dalam grup percakapan memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap psikis seseorang.

Baca Juga

Mitos atau Fakta? Mengupas Tuntas Aturan Konsumsi Gula dan Faktor Genetik bagi Penderita Diabetes

Mitos atau Fakta? Mengupas Tuntas Aturan Konsumsi Gula dan Faktor Genetik bagi Penderita Diabetes

“Di era digital, kekerasan seksual sering hadir dalam bentuk yang samar. Ia muncul dalam balutan komentar seksual, candaan yang mengobjektifikasi tubuh, hingga narasi dalam grup chat yang menjadikan seseorang sebagai bahan tertawaan,” ungkap dokter spesialis kedokteran jiwa tersebut melalui keterangan resminya.

Dampak dari kekerasan digital ini ibarat luka dalam. Meski kulit tak tergores, harga diri korban bisa terkoyak akibat penyebaran stiker, meme, atau candaan yang dianggap lumrah oleh pelaku, namun menghancurkan rasa aman bagi korbannya.

Bahaya Psikologi Kelompok dalam Ruang Chat

Satu hal yang menjadi perhatian serius Lahargo adalah dinamika psikologi kelompok atau group reinforcement. Dalam sebuah komunitas daring, satu komentar negatif yang dibiarkan atau justru ditertawakan oleh anggota lain akan menciptakan normalisasi terhadap perilaku salah tersebut.

Baca Juga

Menakar Standar Emas Calon Dokter: 5 Faktor Utama Penjamin Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia

Menakar Standar Emas Calon Dokter: 5 Faktor Utama Penjamin Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia

“Sesuatu yang salah bisa terasa biasa saja ketika dirayakan bersama-sama. Di sinilah batas moral seseorang mulai menipis. Kadang kala, seseorang tidak menjadi buruk sendirian, melainkan karena ekosistem kelompoknya yang memfasilitasi perilaku toksik tersebut,” jelasnya lebih lanjut.

Tameng ‘Bercanda’ dan Dampak Jangka Panjang

Seringkali, pelaku pelecehan berlindung di balik dalih “hanya bercanda” atau justru menyalahkan korban yang dianggap terlalu sensitif. Dalam psikologi, fenomena ini disebut moral disengagement—sebuah upaya untuk melepaskan tanggung jawab moral atas perilaku yang melukai orang lain.

Namun, bagi korban, dampak yang dirasakan jauh dari kata sederhana. Luka pada kesehatan mental bisa bermanifestasi menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD). Pikiran-pikiran intrusif yang terus mengulang percakapan traumatis tersebut dapat menghancurkan kepercayaan diri dan rasa aman korban dalam jangka panjang.

Baca Juga

Skandal FH UI: Komnas Perempuan Desak Kasus Pelecehan Dibawa ke Jalur Pidana, Bukan Sekadar Etik

Skandal FH UI: Komnas Perempuan Desak Kasus Pelecehan Dibawa ke Jalur Pidana, Bukan Sekadar Etik

Sebagai Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo menegaskan bahwa setiap bentuk pelecehan, sekecil apa pun di ruang digital, harus ditindak tegas karena ia merusak fondasi dasar manusia: martabat dan harga diri.

Siska Wijaya

Siska Wijaya

Editor Cek Fakta yang berdedikasi menelusuri sumber data primer guna memastikan informasi yang tersaji di Menit Ini bebas dari disinformasi.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *