Hati-Hati Melangkah: Larangan Sandal Jepit di Cinque Terre Italia dan Ancaman Denda Puluhan Juta Rupiah

Rendi Saputra | Menit Ini
23 Jun 2026, 04:51 WIB
Hati-Hati Melangkah: Larangan Sandal Jepit di Cinque Terre Italia dan Ancaman Denda Puluhan Juta Rupiah

MenitIni — Pesona Riviera Italia dengan deretan bangunan warna-warni yang bertengger di tebing curam memang menjadi magnet luar biasa bagi pelancong dunia. Namun, bagi Anda yang berencana mengunjungi kawasan ikonik Cinque Terre, ada satu aturan yang tidak boleh dianggap remeh jika tidak ingin kantong jebol seketika. Otoritas setempat telah menetapkan aturan ketat: dilarang keras mengenakan sandal jepit saat menjelajahi jalur pendakiannya.

Kebijakan ini bukanlah sekadar imbauan estetika, melainkan aturan hukum yang memiliki konsekuensi finansial serius. Para turis yang nekat mengenakan alas kaki yang dianggap tidak memadai, seperti sandal jepit, sandal bertali tipis, atau sepatu beralas licin lainnya, dapat dijatuhi denda yang sangat tinggi. Langkah tegas ini diambil untuk meminimalisir risiko kecelakaan di jalur-jalur ekstrem yang menghubungkan lima desa nelayan bersejarah di kawasan wisata Italia tersebut.

Baca Juga

Sentuhan Magis Tex Saverio: Mengupas Detail Gaun Resepsi Syifa Hadju yang Memukau

Sentuhan Magis Tex Saverio: Mengupas Detail Gaun Resepsi Syifa Hadju yang Memukau

Denda Fantastis demi Keselamatan Pendaki

Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, namun angka denda yang ditetapkan tidak main-main. Berdasarkan aturan yang sebenarnya sudah mulai disosialisasikan sejak tahun 2019, pengunjung yang melanggar bisa dikenakan denda mulai dari 50 euro hingga mencapai 2.500 euro. Jika dikonversikan ke mata uang kita, angka tersebut setara dengan Rp850 ribu hingga sekitar Rp51,1 juta rupiah.

Patrizio Scarpellini, Direktur Taman Nasional Cinque Terre, menegaskan bahwa medan di kawasan tersebut sering kali disalahpahami oleh para wisatawan. Banyak yang datang dengan pola pikir ingin bersantai di pantai, namun kemudian mencoba mendaki jalur antardesa tanpa persiapan matang. “Masalahnya adalah banyak orang datang ke sini dengan berpikir mereka berada di tepi laut, padahal jalur di atas desa-desa ini adalah jalur pegunungan yang sesungguhnya,” ujar Scarpellini dalam sebuah pernyataan resmi.

Baca Juga

Rahasia Bolu Kukus Mekar Sempurna Cuma Pakai Takaran Sendok, Anti-Gagal dan Super Lembut!

Rahasia Bolu Kukus Mekar Sempurna Cuma Pakai Takaran Sendok, Anti-Gagal dan Super Lembut!

Menurutnya, jalur-jalur di taman nasional ini memiliki karakteristik yang curam, berbatu, dan terkadang sangat licin. Penggunaan alas kaki yang tidak tepat sering kali berujung pada cedera serius, yang pada akhirnya merepotkan tim penyelamat gunung setempat untuk melakukan evakuasi di medan yang sulit dijangkau kendaraan darat.

Beban Tim Penyelamat dan Risiko Kecelakaan

Alasan utama di balik denda setinggi langit ini adalah tingginya biaya dan risiko yang harus ditanggung oleh layanan darurat. Ketika seorang turis mengalami terkilir atau patah tulang karena mengenakan sandal jepit di jalur pendakian, tim penyelamat sering kali harus mengerahkan helikopter untuk melakukan evakuasi. Hal ini tidak hanya memakan biaya besar bagi negara, tetapi juga membahayakan nyawa personel penyelamat.

Baca Juga

7 Rekomendasi Perangkap Nyamuk Elektrik Terbaik 2024: Solusi Ampuh Basmi Serangga Tanpa Bahan Kimia

7 Rekomendasi Perangkap Nyamuk Elektrik Terbaik 2024: Solusi Ampuh Basmi Serangga Tanpa Bahan Kimia

Otoritas Taman Nasional Cinque Terre ingin memastikan bahwa setiap pengunjung menyadari bahwa mereka sedang memasuki area alam liar, bukan sekadar trotoar kota yang mulus. Oleh karena itu, mengenakan perlengkapan mendaki yang sesuai, seperti sepatu hiking dengan daya cengkeram (grip) yang kuat, adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi bagi siapa pun yang ingin menikmati pemandangan laut dari ketinggian tebing Riviera.

Sistem Satu Arah dan Pengendalian Overtourism

Selain masalah alas kaki, Cinque Terre juga terus berbenah dalam menghadapi lonjakan jumlah wisatawan atau yang sering disebut sebagai overtourism. Sejak tahun 2023, sistem jalur satu arah telah mulai diuji coba secara bertahap, terutama pada jalur-jalur paling populer seperti Monterosso-Vernazza. Aturan ini biasanya diberlakukan pada jam-jam sibuk, yakni mulai pukul 09.00 hingga 14.00 waktu setempat pada periode puncak liburan seperti bulan April, Mei, dan Juni.

Baca Juga

Langkah Gemilang Putri Elisabeth: Kisah Pewaris Takhta Belgia Taklukan Harvard Kennedy School

Langkah Gemilang Putri Elisabeth: Kisah Pewaris Takhta Belgia Taklukan Harvard Kennedy School

Langkah ini diambil untuk mencegah penumpukan massa di titik-titik sempit yang berbahaya. Dengan menerapkan sistem satu arah, risiko turis berpapasan di jalur yang curam dapat dikurangi, sehingga aliran pejalan kaki menjadi lebih lancar dan aman. Pengunjung juga diwajibkan memiliki “Cinque Terre Trekking Card” yang harganya bervariasi mulai dari 10 euro hingga 15 euro pada hari-hari puncak sebagai bentuk kontribusi terhadap pemeliharaan jalur dan fasilitas umum.

Paradoks Sandal Jepit: Antara Larangan dan Barang Mewah

Menariknya, di saat Italia melarang penggunaan sandal jepit karena alasan keselamatan, di belahan dunia lain, alas kaki sederhana ini justru sedang mengalami pergeseran status sosial. Baru-baru ini, publik sempat dihebohkan dengan kabar dari Arab Saudi di mana sepasang sandal jepit yang desainnya sangat mirip dengan sandal warung di Indonesia dijual dengan harga fantastis mencapai 4.500 riyal atau sekitar Rp19 juta.

Baca Juga

Menjelajah Rasa di Jakarta Selatan: 10 Rekomendasi Tempat Makan di Blok M Square Terpopuler 2026

Menjelajah Rasa di Jakarta Selatan: 10 Rekomendasi Tempat Makan di Blok M Square Terpopuler 2026

Sandal yang disebut sebagai “sandal trendi” tersebut dipajang di dalam kotak kaca layaknya perhiasan mahal di sebuah butik mewah. Hal ini tentu menjadi ironi yang menggelitik, terutama bagi warga Indonesia yang terbiasa membeli sandal serupa dengan harga tidak lebih dari Rp20 ribu. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah benda fungsional yang sederhana bisa berubah nilai tergantung pada konteks merek dan lokasinya.

Namun, baik itu sandal jepit seharga ribuan rupiah maupun jutaan rupiah, fungsinya tetaplah sama: tidak cocok untuk digunakan mendaki gunung. Otoritas di Italia tidak peduli seberapa mahal merek sandal yang Anda gunakan; jika bentuknya adalah sandal jepit atau flip-flops, maka denda tetap menanti di ujung jalur jika Anda nekat melintas.

Tips Aman Menjelajahi Cinque Terre

Bagi Anda yang tengah merencanakan tips liburan ke Italia, berikut adalah beberapa poin penting yang perlu disiapkan agar perjalanan Anda tetap nyaman dan bebas dari masalah hukum:

  • Gunakan Sepatu Hiking: Pastikan sepatu Anda memiliki sol yang tidak licin dan mampu melindungi pergelangan kaki.
  • Pantau Informasi Online: Sebelum mendaki, cek situs resmi taman nasional untuk mengetahui jalur mana yang dibuka atau menerapkan sistem satu arah.
  • Bawa Persediaan yang Cukup: Tabir surya, topi, dan air minum adalah perlengkapan wajib mengingat teriknya matahari di pesisir Italia.
  • Patuhi Rambu-rambu: Perhatikan poster peringatan yang dipasang di sepanjang pintu masuk jalur pendakian.
  • Siapkan Fisik: Meski pemandangannya indah, jalur Cinque Terre menuntut stamina yang cukup karena banyaknya anak tangga alami yang tinggi.

Melalui kebijakan ini, MenitIni melihat adanya upaya serius dari pemerintah Italia untuk menyeimbangkan antara keuntungan dari sektor pariwisata dengan kelestarian alam dan keselamatan manusia. Destinasi mancanegara lainnya pun mulai melirik kebijakan serupa demi menjaga kualitas pengalaman berwisata sekaligus melindungi sumber daya lokal mereka.

Jadi, sebelum Anda mengemas koper menuju keindahan lima desa Cinque Terre—Monterosso al Mare, Vernazza, Corniglia, Manarola, dan Riomaggiore—pastikan sepatu gunung sudah masuk ke dalam daftar bawaan. Jangan biarkan rencana liburan impian Anda berubah menjadi mimpi buruk finansial hanya karena sepasang sandal jepit yang salah tempat.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *