Sindir Kegagalan Beruntun Italia, Candaan ‘Pedas’ Gianni Infantino di Mexico City Picu Kontroversi Global

Aris Setiawan | Menit Ini
13 Jun 2026, 22:50 WIB
Sindir Kegagalan Beruntun Italia, Candaan 'Pedas' Gianni Infantino di Mexico City Picu Kontroversi Global

MenitIni — Suasana formal dalam sebuah pertemuan diplomatik olahraga di Mexico City mendadak berubah menjadi riuh rendah ketika Presiden FIFA, Gianni Infantino, melontarkan sebuah pernyataan yang kini menjadi buah bibir di seantero dunia. Dalam sebuah momen yang terekam kamera pada Kamis (12/6/2026), pria nomor satu di otoritas sepak bola tertinggi dunia itu memberikan sebuah sindiran tajam yang dibalut dalam candaan mengenai nasib tragis Tim Nasional Italia yang kembali gagal menembus panggung Piala Dunia 2026.

Lelucon yang Mengiris Hati Publik Italia

Semuanya bermula ketika Infantino tengah memaparkan visi masa depan FIFA mengenai perluasan jumlah peserta turnamen sepak bola paling bergengsi di planet ini. Sebagaimana diketahui, edisi 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi sejarah baru dengan format 48 tim, meloncat jauh dari format tradisional 32 tim yang telah bertahan selama puluhan tahun. Namun, nampaknya jumlah 48 tim tersebut dianggap masih belum cukup bagi tim sekelas Italia untuk bisa lolos.

Baca Juga

Prediksi Manchester United vs Nottingham Forest: Ambisi Carrick Segel Status Permanen di ‘Theatre of Dreams’

Prediksi Manchester United vs Nottingham Forest: Ambisi Carrick Segel Status Permanen di ‘Theatre of Dreams’

Ketika salah satu jurnalis melontarkan pertanyaan mengenai kemungkinan ekspansi lebih lanjut untuk edisi Piala Dunia 2030, Infantino menjawab dengan nada serius namun diakhiri dengan tawa yang provokatif. “Kami memang tengah mendiskusikan kemungkinan ekspansi menjadi 64 tim. Isu ini sudah masuk ke meja Dewan FIFA untuk dikaji lebih mendalam,” ujarnya dengan raut wajah yang mulanya terlihat profesional.

Namun, Infantino tidak berhenti di sana. Dengan senyum yang dinilai banyak pihak sebagai ‘sentilan’ bagi negara asalnya sendiri, ia menambahkan, “Mungkin jika jumlahnya 64 tim, Italia akhirnya bisa lolos. Atau kalau perlu, kita bisa memperluasnya hingga 208 tim agar semua orang bisa ikut berpesta.” Sontak, pernyataan tersebut memicu tawa di ruangan tersebut, namun di sisi lain, meninggalkan luka mendalam bagi publik sepak bola di Negeri Pizza.

Baca Juga

Barcelona Siap Tabuh Genderang Perang Hukum: Respons Keras Atas Tuduhan Skandal Negreira oleh Florentino Perez

Barcelona Siap Tabuh Genderang Perang Hukum: Respons Keras Atas Tuduhan Skandal Negreira oleh Florentino Perez

Ironi Sang Juara Dunia Empat Kali

Sindiran Infantino bukanlah tanpa alasan, namun terasa sangat menyakitkan mengingat reputasi Italia sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia. Sebagai pemilik empat trofi emas, kegagalan Timnas Italia atau yang dikenal dengan julukan Gli Azzurri dalam beberapa tahun terakhir merupakan sebuah anomali sejarah yang sulit dipercaya. Italia yang dulunya menjadi kiblat taktik sepak bola kini seolah kehilangan taringnya di babak kualifikasi.

Catatan kelam dimulai pada tahun 2018 ketika mereka harus absen di Rusia. Luka itu sempat terobati sejenak saat mereka menjuarai Euro 2020, namun mimpi buruk kembali datang saat mereka gagal berangkat ke Qatar 2022. Puncaknya, ekspektasi publik yang mengira format baru 48 tim di tahun 2026 akan mempermudah jalan Italia ternyata bertepuk sebelah tangan. Kegagalan ketiga secara beruntun ini menjadi aib nasional bagi masyarakat Italia yang menjadikan sepak bola sebagai identitas diri.

Baca Juga

Misi Berliku AC Milan di Bursa Transfer: Strategi Cerdik Memboyong Nicolas Jackson dari Stamford Bridge

Misi Berliku AC Milan di Bursa Transfer: Strategi Cerdik Memboyong Nicolas Jackson dari Stamford Bridge

Komentar Infantino segera memenuhi headline media-media besar seperti La Gazzetta dello Sport dan Corriere dello Sport. Bagi banyak analis, candaan tersebut bukan sekadar humor, melainkan refleksi dari rasa frustrasi FIFA melihat salah satu “produk dagang” terbaik mereka kembali absen dari layar kaca saat turnamen berlangsung.

Ekspansi 64 Tim: Ambisi Komersial atau Keadilan Global?

Di balik candaan tersebut, terselip sebuah agenda besar yang memang sedang digodok di internal FIFA. Wacana menambah peserta menjadi 64 tim untuk edisi 2030 bukanlah isapan jempol belaka. Ide ini pertama kali didorong secara masif oleh Presiden CONMEBOL, Alejandro Dominguez. Momentum perayaan 100 tahun Piala Dunia dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan perubahan revolusioner.

Baca Juga

Jadwal Semifinal Liga Champions 2026: Skenario Epik Menuju Budapest dan Duel Penentuan Empat Raksasa Eropa

Jadwal Semifinal Liga Champions 2026: Skenario Epik Menuju Budapest dan Duel Penentuan Empat Raksasa Eropa

Piala Dunia 2030 direncanakan menjadi turnamen paling ambisius dalam sejarah. Dengan Spanyol, Portugal, dan Maroko sebagai tuan rumah utama, serta pertandingan pembuka di Uruguay, Argentina, dan Paraguay sebagai penghormatan terhadap edisi pertama tahun 1930 di Montevideo, penambahan tim hingga 64 peserta dianggap logis dari sisi ekonomi. Semakin banyak negara yang terlibat, semakin besar hak siar dan nilai sponsor yang bisa diraup oleh FIFA.

Namun, kritik pun bermunculan. Banyak pihak khawatir bahwa penambahan jumlah peserta akan menurunkan kualitas kompetisi. Kritik ini seringkali menyebutkan bahwa Piala Dunia akan kehilangan nuansa eksklusivitasnya dan hanya menjadi ajang pengumpul massa. Meski begitu, bagi negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, wacana ini adalah angin segar untuk bisa mencicipi atmosfer turnamen tertinggi dunia tersebut.

Baca Juga

Barcelona Terpeleset di Camp Nou, Gerard Martin Meledak Kritik Keputusan VAR

Barcelona Terpeleset di Camp Nou, Gerard Martin Meledak Kritik Keputusan VAR

Tensi Memanas: Respon Keras dari Pemerintah Italia

Reaksi dari Roma tidak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga publik. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, memberikan tanggapan yang cukup dingin dan menunjukkan rasa tersinggung yang jelas atas komentar Infantino. Abodi menilai bahwa sebagai pimpinan organisasi internasional, Infantino seharusnya lebih bijaksana dalam memilih diksi, terutama saat membahas kegagalan sebuah federasi anggota yang memiliki sejarah panjang.

“Saya cukup terkejut mendengar komentar tersebut. Mengingat jarak geografis yang cukup jauh saat ini, saya lebih memilih untuk tidak bereaksi secara emosional di media. Saya ingin berbicara langsung dengannya melalui telepon,” tegas Abodi. Ia ingin memastikan apakah ada maksud tersembunyi di balik kata-kata tersebut ataukah murni sekadar candaan yang kurang tepat sasaran.

Bagi publik Italia, kualifikasi Piala Dunia bukan lagi sekadar urusan olahraga, melainkan masalah harga diri bangsa. Ketegangan antara FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) dan FIFA diprediksi akan sedikit meningkat pasca kejadian ini, mengingat posisi Italia yang masih memiliki pengaruh besar secara politik di UEFA maupun FIFA.

Menatap Masa Depan Sepak Bola Modern

Terlepas dari segala kontroversi yang ada, pernyataan Infantino memberikan gambaran nyata tentang arah sepak bola modern yang semakin mengedepankan inklusivitas—atau dalam bahasa lain, komersialisasi massal. FIFA di bawah kepemimpinan Infantino memang dikenal sangat berani dalam merombak tatanan lama demi menjangkau pasar yang lebih luas.

Bagi Italia, sindiran ini seharusnya menjadi tamparan keras untuk melakukan reformasi total dalam sistem pembinaan pemain muda dan struktur liga domestik mereka. Kegagalan tiga kali berturut-turut adalah sinyal kuat bahwa ada yang salah dengan fondasi sepak bola mereka. Panggung Piala Dunia tidak lagi memberikan karpet merah bagi mereka yang hanya mengandalkan sejarah besar tanpa dibarengi dengan inovasi dan kerja keras di lapangan.

Kini, publik sepak bola dunia menanti apakah wacana 64 tim itu benar-benar akan terwujud pada 2030, dan apakah Italia akhirnya mampu keluar dari lubang jarum kegagalan. Satu hal yang pasti, candaan Infantino di Mexico City akan selalu diingat sebagai momen di mana supremasi Gli Azzurri dipertanyakan di depan mata dunia. Sepak bola terus bergerak maju, dan siapa pun yang tertinggal, termasuk raksasa sekalipun, akan menjadi bahan lelucon dalam buku sejarah.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan pengalaman 5 tahun meliput kompetisi sepak bola. Fokus pada analisis statistik dan strategi pertandingan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *