Thailand Luncurkan THIM: Revolusi Kartu Kedatangan Digital dan Aturan Visa Terbaru Bagi Turis Indonesia

Rendi Saputra | Menit Ini
31 Mei 2026, 06:51 WIB
Thailand Luncurkan THIM: Revolusi Kartu Kedatangan Digital dan Aturan Visa Terbaru Bagi Turis Indonesia

MenitIni — Kabar gembira bagi Anda para penikmat perjalanan yang sering menjadikan Negeri Gajah Putih sebagai destinasi utama. Pemerintah Thailand secara resmi mengumumkan transformasi besar dalam sistem birokrasi keimigrasian mereka. Mulai 1 Oktober 2026, Thailand akan mengoperasikan aplikasi seluler terbaru yang dirancang untuk memangkas waktu tunggu di pintu kedatangan, memastikan pengalaman wisata Thailand menjadi lebih mulus dan modern.

Langkah progresif ini ditandai dengan peluncuran Thailand Immigration Management System atau yang lebih dikenal dengan singkatan THIM. Aplikasi ini bukan sekadar pembaruan teknis, melainkan sebuah solusi atas keluhan panjang para pelancong mancanegara mengenai antrean yang mengular di bandara internasional seperti Suvarnabhumi dan Don Mueang. Dengan sistem baru ini, proses administratif yang biasanya melelahkan kini diklaim hanya akan memakan waktu kurang dari tiga menit.

Baca Juga

Rahasia Simpan Beras 25 Kg Tetap Fresh dan Bebas Kutu: Panduan Lengkap ala MenitIni

Rahasia Simpan Beras 25 Kg Tetap Fresh dan Bebas Kutu: Panduan Lengkap ala MenitIni

Mengenal THIM: Lebih dari Sekadar Kartu Kedatangan Digital

Sebenarnya, Thailand bukan pertama kalinya bersentuhan dengan digitalisasi dokumen perjalanan. Sejak tahun 2025, negara ini telah memperkenalkan Thailand Digital Arrival Card (TDAC) berbasis situs web. Meskipun telah digunakan oleh lebih dari 10 juta orang, TDAC masih menyisakan celah ketidakefisienan. Banyak wisatawan merasa jengah karena harus memasukkan data pribadi yang sama secara berulang-ulang setiap kali mereka berkunjung ke Thailand.

THIM hadir untuk menjawab keresahan tersebut dengan fitur profil pengguna yang menetap. Dalam pantauan MenitIni, pengguna cukup mengisi data profil secara lengkap satu kali saja. Untuk kunjungan-kunjungan berikutnya, Anda hanya perlu memperbarui detail perjalanan spesifik seperti nomor tiket pesawat, alamat akomodasi selama di sana, serta tanggal kepulangan. Fleksibilitas ini tentu sangat memanjakan para pelancong bisnis maupun frequent flyers yang sering bolak-balik ke Bangkok atau Phuket.

Baca Juga

Rahasia Membuat Isian Risol yang Awet, Tidak Cepat Basi, dan Tetap Bergizi Tinggi

Rahasia Membuat Isian Risol yang Awet, Tidak Cepat Basi, dan Tetap Bergizi Tinggi

Menariknya lagi, integrasi sistem THIM jauh lebih canggih dibandingkan pendahulunya. Wisatawan tidak lagi diwajibkan untuk sibuk mencari kode QR di layar ponsel saat berhadapan dengan petugas imigrasi. Begitu Anda selesai mengisi data di aplikasi, informasi tersebut secara otomatis tersinkronisasi dengan basis data keimigrasian pusat. Saat paspor Anda dipindai oleh petugas, seluruh data perjalanan Anda akan langsung muncul di layar monitor mereka secara real-time.

Ambisi Menjadi Super App bagi Ekspatriat

Pemerintah Thailand tampaknya tidak ingin setengah-setengah dalam membangun ekosistem digital ini. THIM tidak hanya dirancang sebagai alat bantu bagi turis jangka pendek, tetapi diproyeksikan berkembang menjadi sebuah “Super App” yang melayani kebutuhan komunitas ekspatriat dan pekerja asing jangka panjang. Visi ini selaras dengan upaya Thailand untuk mempertahankan posisinya sebagai hub bisnis dan pariwisata utama di Asia Tenggara.

Baca Juga

Skandal di Udara: Penumpang Malaysia Airlines Diusir Paksa Usai Diduga Lecehkan Pramugari

Skandal di Udara: Penumpang Malaysia Airlines Diusir Paksa Usai Diduga Lecehkan Pramugari

Beberapa fitur canggih yang tengah dikembangkan meliputi layanan pemesanan janji temu (appointment) untuk urusan visa, hingga pengajuan dokumen elektronik secara daring tanpa harus mendatangi kantor imigrasi secara fisik. Saat ini, versi uji coba THIM sudah tersedia di App Store dan Google Play Store, mendukung berbagai bahasa mulai dari Inggris, Mandarin, Rusia, hingga Jepang. Targetnya, aplikasi ini akan mencakup 15 bahasa internasional guna memastikan kemudahan akses bagi wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Perubahan Kebijakan Visa: Kabar Baik untuk Indonesia

Di balik kemudahan teknologi tersebut, Thailand juga melakukan penyesuaian pada kebijakan izin tinggal. Per 19 Mei 2026, otoritas setempat merevisi aturan bebas visa yang sebelumnya memberikan waktu hingga 60 hari menjadi 30 hari untuk 93 negara. Langkah ini diambil sebagai respons atas berbagai isu sosial dan hukum yang muncul sejak kebijakan longgar tersebut diterapkan pada pertengahan 2024.

Baca Juga

Rahasia Sambal Balado Khas Padang: Teknik Rahasia Agar Warna Merah Merona dan Tahan Lama Tanpa Pengawet

Rahasia Sambal Balado Khas Padang: Teknik Rahasia Agar Warna Merah Merona dan Tahan Lama Tanpa Pengawet

Namun, bagi warga negara Indonesia, Anda boleh bernapas lega. Berdasarkan penelusuran MenitIni, Indonesia masuk dalam kategori negara yang mendapatkan pengecualian khusus dalam skema P.30. Meskipun masa tinggal tanpa visa dibatasi maksimal 30 hari (dengan opsi perpanjangan 30 hari lagi), wisatawan asal Indonesia tidak terikat pada aturan pembatasan frekuensi masuk.

Jika warga negara dari banyak negara lain hanya diperbolehkan menggunakan fasilitas bebas visa maksimal dua kali dalam satu tahun kalender, aturan ini tidak berlaku bagi pemegang paspor Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya posisi negara-negara tetangga di kawasan ASEAN bagi stabilitas ekonomi pariwisata Thailand.

Wacana Pajak Wisata: Dampak Inflasi Global

Satu hal yang perlu diantisipasi oleh para pelancong adalah wacana penerapan pajak wisata mancanegara. Isu ini kembali mencuat setelah Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Surasak Phancharoenworakul, menyatakan bahwa pemerintah sedang meninjau kembali skema biaya masuk tersebut. Alasan utamanya cukup klasik namun krusial: lonjakan inflasi dan meningkatnya biaya perlindungan asuransi bagi turis asing.

Baca Juga

Mengenal Seagulling: Tren Kencan Toxic yang Membuat Gen Z Terjebak dalam Ilusi Kepemilikan

Mengenal Seagulling: Tren Kencan Toxic yang Membuat Gen Z Terjebak dalam Ilusi Kepemilikan

Jika sebelumnya muncul angka 300 baht (sekitar Rp135.000 hingga Rp165.000) sebagai tarif pajak, ada indikasi kuat bahwa angka tersebut akan direvisi naik. Dana yang terkumpul rencananya akan dialokasikan untuk pemeliharaan destinasi wisata serta penyediaan jaminan kesehatan darurat bagi wisatawan yang mengalami insiden saat berlibur di Thailand.

Menyongsong Era Baru Pariwisata Thailand

Dengan jumlah kunjungan yang mencapai hampir 33 juta orang pada tahun 2025, Thailand sadar bahwa infrastruktur fisik saja tidak cukup. Digitalisasi melalui THIM adalah bentuk adaptasi terhadap pola perjalanan modern yang menuntut kecepatan dan kenyamanan. Bagi Anda yang berencana melakukan perjalanan di akhir tahun 2026, memastikan aplikasi ini sudah terpasang di ponsel Anda akan menjadi persiapan wajib sebelum memesan hotel di Bangkok.

Thailand sedang mencoba menyeimbangkan antara keterbukaan bagi wisatawan dengan ketegasan dalam tata kelola administrasi. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan melalui THIM dan hak istimewa yang tetap dimiliki wisatawan Indonesia, Thailand diprediksi akan tetap menjadi magnet pariwisata yang tak tergoyahkan di kawasan Asia. Persiapkan perjalanan Anda dengan lebih matang, dan nikmati transisi digital yang akan membuat liburan Anda jauh lebih berkesan tanpa hambatan birokrasi.

Rendi Saputra

Rendi Saputra

Kontributor berita umum dengan keahlian investigasi. Fokus pada isu-isu viral yang membutuhkan penelusuran lebih dalam agar tetap akurat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *