Kritik Pedas Viktor Axelsen Terhadap Revolusi Skor BWF: Mengapa Sistem 3×15 Bisa Membunuh Drama Bulu Tangkis?

Aris Setiawan | Menit Ini
25 Mei 2026, 08:51 WIB
Kritik Pedas Viktor Axelsen Terhadap Revolusi Skor BWF: Mengapa Sistem 3x15 Bisa Membunuh Drama Bulu Tangkis?

MenitIni — Dunia tepok bulu sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Kabar mengejutkan datang dari Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang berencana merombak fundamental permainan dengan mengubah sistem skor dari 3×21 menjadi 3×15. Kebijakan ini memicu gelombang diskusi panas, dan salah satu suara paling vokal yang menentang perubahan ini datang dari sang raja tunggal putra, Viktor Axelsen.

Legenda hidup asal Denmark tersebut tidak menahan diri dalam menyampaikan kekhawatirannya. Bagi Axelsen, langkah BWF ini bukan sekadar efisiensi waktu, melainkan sebuah ancaman serius yang dapat mengikis esensi dan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi daya tarik utama olahraga bulu tangkis. Menurutnya, ada banyak aspek fundamental yang akan dikorbankan demi mengejar durasi pertandingan yang lebih pendek.

Baca Juga

Antiklimaks di Meazza: Drama Gol Telat Verona Buyarkan Kemenangan Sang Juara Inter Milan

Antiklimaks di Meazza: Drama Gol Telat Verona Buyarkan Kemenangan Sang Juara Inter Milan

Transformasi Radikal Menuju Musim 2027

Rencana perubahan sistem skor ini bukanlah sekadar rumor belaka. BWF secara resmi telah menyetujui format 3×15 dalam Annual General Meeting (AGM) yang berlangsung di Horsens, Denmark. Jika tidak ada aral melintang, sistem baru ini dijadwalkan akan mulai diimplementasikan secara global pada musim 2027 mendatang. Tujuan utamanya konon adalah untuk membuat pertandingan lebih dinamis, ramah terhadap siaran televisi, dan mengurangi kelelahan pemain dalam turnamen yang padat.

Namun, bagi pemain sekaliber Viktor Axelsen, alasan-alasan administratif tersebut tidak cukup kuat untuk menggantikan kedalaman strategi yang ditawarkan oleh sistem 21 poin. Perubahan dari 21 ke 15 poin per gim mungkin terlihat sederhana di atas kertas, namun di atas lapangan hijau, hal ini akan mengubah cara pemain bernapas, berpikir, dan bertarung.

Baca Juga

Profil Timnas Austria: Kebangkitan ‘Das Team’ di Bawah Komando Ralf Rangnick Menuju Piala Dunia 2026

Profil Timnas Austria: Kebangkitan ‘Das Team’ di Bawah Komando Ralf Rangnick Menuju Piala Dunia 2026

Hilangnya Uji Ketahanan Fisik dan Mental

Salah satu poin utama yang disoroti oleh peraih dua medali emas Olimpiade ini adalah hilangnya aspek daya tahan (endurance). Dalam sistem 3×21, seorang pemain tidak hanya diuji keterampilannya dalam mengayun raket, tetapi juga kapasitas paru-paru dan kekuatan mentalnya untuk bertahan dalam reli-reli panjang yang melelahkan.

“Saya pikir ini adalah perubahan yang sangat besar bagi olahraga kita. Kita akan kehilangan beberapa aspek daya tahan yang selama ini menjadi pembeda antara pemain elit dan pemain biasa,” ungkap Axelsen saat ditemui tim MenitIni di kawasan Jakarta Selatan. Dalam kacamata Axelsen, durasi yang lebih pendek akan membuat pertandingan terasa seperti sprint singkat, bukan lagi maraton taktis yang menguras segala kemampuan atlet.

Baca Juga

Mimpi yang Tertunda: Marcus Rashford Temukan Takdir Juara di Barcelona Setelah Satu Dekade Pahit di Manchester United

Mimpi yang Tertunda: Marcus Rashford Temukan Takdir Juara di Barcelona Setelah Satu Dekade Pahit di Manchester United

Ancaman Terhadap Drama ‘Comeback’ yang Ikonik

Daya tarik utama olahraga adalah drama, dan dalam pertandingan bulu tangkis, tidak ada yang lebih mendebarkan daripada melihat seorang pemain yang tertinggal jauh mampu bangkit dan membalikkan keadaan. Dengan sistem 15 poin, ruang untuk melakukan comeback heroik tersebut menjadi sangat sempit, bahkan hampir mustahil.

Axelsen menjelaskan betapa sulitnya mengejar ketertinggalan jika batas kemenangan sudah di depan mata. “Kita akan kehilangan momen-momen comeback yang epik. Sangat sulit membayangkan seseorang bisa bangkit dari ketertinggalan 5-11 jika Anda hanya bermain sampai 15 poin. Di sistem 21 poin, sejarah bisa ditulis di tengah laga; Anda naik dan turun, tapi selalu ada waktu untuk menemukan ritme kembali,” tambahnya dengan nada khawatir.

Baca Juga

Watkins Menggila, Villa Park Berpesta: Aston Villa Hancurkan Liverpool 4-2 dan Segel Tiket Liga Champions

Watkins Menggila, Villa Park Berpesta: Aston Villa Hancurkan Liverpool 4-2 dan Segel Tiket Liga Champions

Taktik vs Kecepatan: Pergeseran Paradigma Permainan

Selain masalah fisik dan drama, sisi taktikal juga terancam tumpul. Dalam format 21 poin, pemain memiliki waktu untuk ‘membaca’ permainan lawan di awal gim, melakukan penyesuaian strategi di pertengahan, dan mengeksekusi rencana kemenangan di poin-poin kritis. Sistem 3×15 memaksa pemain untuk langsung tancap gas tanpa ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.

Menurut analisis MenitIni, sistem ini akan sangat menguntungkan pemain dengan tipe penyerang agresif. Mereka yang mampu melakukan serangan kilat sejak servis pertama dilakukan akan memiliki peluang menang yang jauh lebih besar. Strategi bertahan yang sabar atau permainan net yang rumit mungkin tidak lagi seefektif dulu karena risiko kehilangan satu poin menjadi jauh lebih mahal dalam format yang lebih pendek.

Baca Juga

Eca Sabana Guncang Yamaha Cup Race 2026: Srikandi Banten yang Tak Gentar Taklukkan Dominasi Pria

Eca Sabana Guncang Yamaha Cup Race 2026: Srikandi Banten yang Tak Gentar Taklukkan Dominasi Pria

Karpet Merah untuk Kejutan yang Tak Terduga

Kekhawatiran lain yang diungkapkan oleh Viktor Axelsen adalah potensi munculnya hasil-hasil yang tidak konsisten. Meskipun kejutan sering kali dianggap menarik bagi penonton netral, namun bagi integritas kompetisi, hal ini bisa menjadi pedang bermata dua. Pemain peringkat atas yang biasanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk ‘panas’ di lapangan bisa dengan mudah ditumbangkan oleh pemain peringkat bawah yang tampil meledak-ledak di awal.

“Akan ada lebih banyak kejutan selama turnamen berlangsung. Jika seorang pemain bertipe menyerang datang dengan keberuntungan di pihak mereka dan langsung bermain di level tertinggi, sementara pemain unggulan belum cukup panas atau siap, maka kekalahan bisa terjadi dalam sekejap. Anda tidak boleh santai sedikit pun,” pungkas Axelsen. Hal ini dikhawatirkan akan mereduksi dominasi pemain yang benar-benar berkualitas secara konsisten.

Masa Depan Bulu Tangkis di Tangan BWF

Kritik dari Axelsen ini mencerminkan kegelisahan banyak pihak di komunitas bulu tangkis internasional. Meskipun BWF bersikeras bahwa ini adalah langkah maju untuk memodernisasi olahraga, suara dari para pelakon utama di lapangan tidak boleh diabaikan begitu saja. Bulu tangkis bukan sekadar hiburan komersial, melainkan seni bela diri raket yang melibatkan sejarah, keringat, dan perhitungan taktis yang mendalam.

Apakah sistem 3×15 akan benar-benar menjadi masa depan yang cerah atau justru menjadi lonceng kematian bagi kualitas permainan yang kita kenal sekarang? Waktu yang akan menjawab saat implementasi dilakukan pada 2027. Namun yang pasti, seperti yang ditegaskan oleh MenitIni, suara kritis seperti yang disampaikan Axelsen sangat penting untuk memastikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan tetap menjaga marwah dan keindahan olahraga yang kita cintai ini.

Sebagai penutup, Axelsen berharap bahwa pandangannya salah dan bulu tangkis akan tetap menarik. Namun, dia tetap pada pendiriannya bahwa sistem skor saat ini (3×21) adalah standar emas yang telah teruji waktu dalam menghasilkan juara-juara sejati yang tidak hanya unggul dalam teknik, tapi juga unggul dalam daya tahan mental dan fisik yang luar biasa.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Jurnalis olahraga dengan pengalaman 5 tahun meliput kompetisi sepak bola. Fokus pada analisis statistik dan strategi pertandingan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *