Moeldoko Sentil Inkonsistensi Pemerintah: Menanti Kepastian di Balik Kemudi Mobil Listrik Indonesia

Dewi Amalia | Menit Ini
22 Mei 2026, 06:51 WIB
Moeldoko Sentil Inkonsistensi Pemerintah: Menanti Kepastian di Balik Kemudi Mobil Listrik Indonesia

MenitIni — Di tengah ambisi besar Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam ekosistem energi hijau global, sebuah kritik tajam meluncur dari figur yang selama ini menjadi garda terdepan advokasi kendaraan bertenaga baterai di tanah air. Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, yang menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), menyuarakan kegelisahannya terkait arah kebijakan pemerintah dalam pemberian insentif kendaraan listrik yang dinilai masih jauh dari kata stabil.

Kritik ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah refleksi dari realita lapangan yang dihadapi oleh para pelaku industri dan calon konsumen. Dalam sebuah konferensi pers menjelang gelaran akbar Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 yang berlangsung di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Moeldoko dengan gamblang menyebut bahwa kebijakan dukungan fiskal dari negara masih bersifat fluktuatif atau ‘maju-mundur’.

Baca Juga

BYD Denza N9 Flash Charge Edition: SUV Hybrid Raksasa yang Sanggup Isi Daya dalam 5 Menit

BYD Denza N9 Flash Charge Edition: SUV Hybrid Raksasa yang Sanggup Isi Daya dalam 5 Menit

Dilema Subsidi: Antara Komitmen dan Realita Lapangan

Menurut Moeldoko, transformasi menuju mobil listrik bukan hanya soal gaya hidup, melainkan sebuah urgensi nasional untuk mencapai efisiensi yang lebih luas. Ia menekankan bahwa setiap unit kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan Indonesia merupakan kontribusi nyata terhadap penghematan kas negara. Hal ini berkaitan erat dengan beban berat subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini menguras triliunan rupiah dari APBN.

“Kita harus melihat gambaran besarnya. Ketika masyarakat beralih ke kendaraan listrik, ada beban negara yang terangkat. Bayangkan berapa triliun rupiah yang bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur lain jika subsidi BBM berkurang karena kesadaran masyarakat bermigrasi ke teknologi baterai,” tutur Moeldoko dengan nada serius. Namun, ia menyayangkan bahwa kesadaran masyarakat ini seringkali terbentur oleh ketidakpastian regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Baca Juga

Revolusi Logistik Dimulai: Tesla Resmi Memulai Produksi Massal Semi Truck di Nevada

Revolusi Logistik Dimulai: Tesla Resmi Memulai Produksi Massal Semi Truck di Nevada

Inkonsistensi yang Menghambat Laju Industri

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan utama adalah pola pemberian insentif yang dianggap tidak memiliki garis waktu yang jelas. Moeldoko menyebutkan bahwa seringkali kebijakan tersebut muncul saat pemerintah ‘ingat’, namun kemudian seolah terlupakan di periode berikutnya. Inkonsistensi ini menciptakan iklim usaha yang tidak sehat, di mana para pengusaha dealer dan produsen harus menanggung beban ketidakpastian.

“Sangat disayangkan, kebijakan negara ini seperti pasang surut. Tahun ini diberlakukan, tahun depan seolah terlupakan. Padahal, industri otomotif memerlukan kepastian jangka panjang untuk mengatur strategi produksi dan distribusi,” tegas mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut. Ia menambahkan bahwa tanpa adanya landasan kebijakan yang kokoh dan berkelanjutan, target-target besar yang dicanangkan pemerintah hanya akan menjadi wacana di atas kertas.

Baca Juga

Investigasi Mendalam VinFast Atas Insiden Taksi Green SM di Bekasi: Mengapa Mobil Listrik Bisa Mati Mendadak di Perlintasan Kereta?

Investigasi Mendalam VinFast Atas Insiden Taksi Green SM di Bekasi: Mengapa Mobil Listrik Bisa Mati Mendadak di Perlintasan Kereta?

Dampak Psikologis bagi Calon Pembeli

Efek domino dari kebijakan yang berubah-ubah ini paling terasa pada perilaku konsumen. Saat ini, banyak calon pembeli yang berada dalam posisi ‘wait and see’. Mereka menahan diri untuk melakukan transaksi karena menunggu kepastian kapan insentif atau subsidi akan turun secara resmi. Kondisi ini menyebabkan stagnasi di tingkat ritel, di mana unit-unit kendaraan listrik menumpuk di gudang-gudang dealer tanpa ada kepastian kapan akan dipinang oleh pelanggan.

“Pembeli itu cerdas. Mereka menunggu momentum terbaik untuk mendapatkan harga yang kompetitif melalui insentif pemerintah. Masalahnya, ketika pengumuman sudah dibuat tapi implementasinya menggantung, pasar menjadi beku. Dealer tidak laku, pembeli juga ragu. Ini adalah lingkaran yang merugikan semua pihak,” tambah Moeldoko yang juga merupakan pendiri merek Mobil Anak Bangsa (MAB).

Baca Juga

Ekspansi Strategis Mazda Indonesia: Resmikan Dealer 3S dan Pusat Pelatihan Modern di Kawasan PIK 2

Ekspansi Strategis Mazda Indonesia: Resmikan Dealer 3S dan Pusat Pelatihan Modern di Kawasan PIK 2

Kesiapan Industri Terhadap Kebijakan Mendadak

Selain masalah konsistensi, Moeldoko juga mengkritisi gaya pengambilan keputusan yang seringkali terasa mendadak. Baginya, dunia industri tidak bisa digerakkan dengan instruksi yang sifatnya tiba-tiba tanpa persiapan transisi yang matang. Sebuah pabrik atau lini produksi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kapasitas dan rantai pasok mereka dengan regulasi baru.

Meskipun melontarkan kritik pedas, Moeldoko tetap memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah yang telah diambil pemerintah sejauh ini. Ia mengakui bahwa upaya memberikan subsidi untuk sepeda motor listrik, program konversi, serta insentif untuk mobil listrik merupakan langkah awal yang patut diapresiasi, meski memerlukan penyempurnaan di berbagai sisi agar lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Baca Juga

Sinergi Seni dan Kecepatan: Mahakarya Livery Starla x Roar Maxdecal Guncang Mandalika Festival of Speed 2026

Sinergi Seni dan Kecepatan: Mahakarya Livery Starla x Roar Maxdecal Guncang Mandalika Festival of Speed 2026

Menatap Masa Depan Ekosistem EV di Indonesia

Melalui ajang PEVS 2026, Periklindo berharap pemerintah dapat lebih mendengarkan aspirasi dari para pelaku industri. Harapannya, pemerintah dapat segera merumuskan sebuah ‘roadmap’ insentif yang bersifat permanen atau setidaknya berlaku dalam jangka menengah (5-10 tahun), sehingga tidak ada lagi keraguan bagi investor maupun masyarakat luas.

Keberhasilan transisi energi di sektor transportasi sangat bergantung pada sinergi antara regulasi yang konsisten dan kesiapan infrastruktur pendukung seperti SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum). Jika pemerintah mampu menjamin stabilitas kebijakan, maka Indonesia bukan tidak mungkin akan segera melihat ledakan pertumbuhan kendaraan ramah lingkungan di seluruh penjuru negeri.

Sebagai penutup, Moeldoko mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tetap optimis namun tetap kritis. “Alhamdulillah, pemerintah saat ini sudah mulai bergerak memberikan subsidi untuk motor, mobil, dan konversi. Kita beri tepuk tangan untuk itu. Namun, mari kita pastikan tepuk tangan ini tidak berhenti di tengah jalan karena kebijakan yang kembali berubah esok hari,” pungkasnya.

Dengan segala dinamika yang ada, perjalanan menuju Indonesia hijau melalui elektrifikasi transportasi memang masih panjang dan penuh tantangan. Namun, dengan pengawalan ketat dari berbagai pihak seperti Periklindo dan pemantauan dari media seperti MenitIni, diharapkan visi besar tersebut dapat tercapai dengan langkah yang lebih pasti dan berwibawa.

Dewi Amalia

Dewi Amalia

Penulis spesialis gaya hidup dan kesehatan. Dewi memiliki minat besar pada isu mental health dan tren diet berkelanjutan.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *